Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan  arti4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.

(Kerawang-Bekasi : Chairil Anwar)

1. Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka

Tan Malaka (lengkapnya Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka) lahir di Suluki, Nagari Pandan Gadang, Sumatera Barat dengan nama Ibrahim. Menurut Harry A. Peoze, tahun kelahiran Tan Malaka secara tepat tidak diketahui. Pada waktu itu belum ada register (daftar) penduduk bagi orang Indonesia.

Peoze menemukan data tahun kelahiran Tan Malaka yang berbeda: 1893, 1894, 1895, 2 Juni 1896, 2 Juni 1897, dan 1897. Ia sendiri mengatakan bahwa ia dilahirkan pada tahun 1994, tanggal 14 Oktober 1894, dan pada tahun 1896. Poeze cenderung untuk menganggap tahun 1897 sebagai tahun kelahiran Tan Malaka yang paling tepat; melihat fakta bahwa pada tahun 1903 ia mengikuti pendidikan di sekolah rendah. Maka, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa ketika itu ia berusia kurang lebih 6 tahun.

Tan Malaka menyatakan bahwa keluarganya beragama Islam dan beradat asli Minangkabau. Ia lahir dalam kultur yang peduli terhadap pendidikan dan memiliki tradisi keagamaan yang kuat. Keluarganya adalah tergolong taat kepada agama Islam.

Tan Malaka memiliki beberapa nama dalam perjalanan hidupnya baik di dalam maupun luar negeri dengan alasan, karena nama Tan Malaka sudah dikenal di seluruh Sumatera dan pemerintah Belanda, nama tersebut tidak dapat mengadakan perjalanan dan juga untuk menyembunyikan identitas.

Ketika memasuki Manila dan Hongkong (1927) Tan Malaka merubah namanya menjadi Elias Fuente. Bernama Oong Soong Lee ketika memasuki Hongkong dari Sanghai (1932), Ramli Husein saat kembali ke Indonesia dari Singapura melalui Penang terus ke Medan, Padang dan Jakarta (1942). Ketika berada di Bayah (Banten), Jawa Barat sebagai pekerja yang membantu romusha di masa revolusi, ia menggunakan nama Ilyas Husein. Namanya yang lain Cheng Kun, Tat, Elisoe, dan Howard Law.Extille adakalanya ditambah dengan Kiang Mai.

Ketika menulis karangan untuk pers Komunis, harian Njali yang terbit di Batavia sejak bulan September 1925 sampai Mei 1926. Ia menggunakan, Haji Hasan dalam beberapa surat-surat yang ditulis buat kawan-kawannya, dan nama Nadir. Tan Malaka menyamar sebagai Tan Ho Seng, ketika belajar dan bekerja sebagai guru bahasa di Nanyang Chinese Normal School, Singapura.

Adapun riwayat hidup Tan Malaka secara urutan waktu, sebagai berikut:

1897 Tan Malaka lahir, bermain dan sekolah di Kweekschool.
1913 Setelah tamat Kweekschool Bukit Tinggi, atas bantuan gurunya dengan pinjaman biaya dari Engkufonds, meneruskan pelajarannya ke Rijks Kkweekschool di Haarlem, Nederland. Selain menuntut ilmu di sekolah, beliau sudah aktif mempelajari keadaan masyarakat Eropa sejak meletus dan selesainya Perang Dunia ke-1 (1914-1918) serta pecah dan selesainya Revolusi Sosial di Rusia (Oktober 1917) yang bersambung dengan mulai berdiri dan mengumandangnya suara Internasionale III.

1918 Atas permintaan Ki Hadjar Dewantara yang mendatangi Tan Malaka bersama Dr. Gunawan di Nederland, mewakili Indische Vereeniging, dalam Kongres Pemuda Indonesia dan Pelajar Indologie di Deventer, memberikan prae-advies tentang pergerakan Nasional.

1919 Kembali ke Indonesia dan bekerja sebagai guru sekolah untuk anak-anak kaum buruh perkebunan Senembah, di Sumatera Timur.

1921 Terjun dalam lapangan pendidikan rakyat yang didirikan oleh Serikat Islam Semarang, dan VSTP (Serikat Buruh Kereta Api) yang dipimpin oleh Semaun di Semarang.

– Tan Malaka menjadi penganjur utama tentang pentingnya persatuan antara kaum Komunis dan Islam dalam menentang kolonialisme/imperialisme. Hal ini dikemukakan dalam sebuah rapat SI di Semarang bersama dengan Semaun.

– Tan Malaka menjadi Wakil Ketua Serikat Buruh Pelikan (Tambang) Cepu yang didirikan oleh Semaun.
– Dalam Kongres PKI dipilih menjadi ketua, mewakili Semaun yang sedang berada di luar negeri (Moskow), di dalam Kongres beliau berpidato tentang pentingnya Persatuan Islam-Komunis dan memperingatkan bahayanya politik ‘pecah & adu’ (devide et impera) yang di kala itu sedang digunakan oleh pemerintah kolonial Belanda untuk melumpuhkan gerakan-gerakan rakyat Indonesia. Ide Tan Malaka tersebut mendapat dukungan penuh dari seorang tokoh SI, Kyai Tubagus Hadikusumo.

1922 Tan Malaka mewakili Vaksentral-Revolusioner pemimpin pemogokan kaum buruh penggadaian (PPPB) di Jogjakarta dan mengatur solidaritas serta aksi yang dilancarkan oleh serikat buruh anggota Vaksentral-Revolusioner (VSTP., Pelabuhan, Pelikan, Gula, dan lainnya).

– Tanggal 2 Maret ia ditangkap dan dibuang ke Kupang (Timur), kemudian dalam bulan itu juga mendapat externing ke Eropa (Nederland). Tan Malaka ditangkap dan diasingkan pemerintah kolonial ke luar negeri. Dari Belanda, ia pergi ke Moskow (Uni Sovyet) melalui Polandia. Ia dikejar-kejar intel dan spionase kolonial Belanda, Inggris, Jepang, Amerika Serikat, Perancis, rezim nasionalis Kumintang. Di mata mereka, Tan Malaka adalah buronan politik “kaliber kakap.”
– Berbicara dalam Perayaan 1 Mei yang diselenggarkan oleh kaum buruh dan Partai Komunis Holland (CPH), kemudian dipilih sebagai calon dalam pemilihan umum parlemen.

– Menuju Jerman dan terjun langsung di tengah-tengah rakyat Jerman yang masih dalam keadaan penderitaan hidup karena harus menanggung seluruh hutang perang Serikat yang dibebankan kepada rakyat Jerman sebagai negeri kalah perang (Perang Dunia ke-1, tahun 1914-1918).

– Mewakili Indonesia dalam Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV, kemudian diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia dan berkedudukan di Canton, di mana daerahnya meliputi Seksi-seksi Partai Komunis yang sudah ada atau akan didirikan di daerah ‘Selatan’ yang oleh Tan Malaka disebut ASLIA ialah: Burma, Siam, Annam, Filipina, Malaya dan Indonesia.

– Berhasil bertemu dengan Dr. Sun Yat Sen, Presiden Republik Tiongkok pertama yang daerahnya waktu itu baru meliputi Tiongkok Selatan berpusat di Yenan.

1924 Diangkat sebagai Ketua Biro Buruh Lalu Lintas dalam sebuah Konferensi Pan-Fasifik yang diselenggarakan oleh utusan-utusan Komintern dan Provintern (Serikat Sekerja Internasional Merah) yang dikunjungi oleh utusan-utusan dari Tiongkok Utara & Selatan, Indonesia dan Filipina.

– Memimpin Majalah berbahasa Inggris The Dawn (Fajar) sebagai suara dari Biro tersebut.
1925 Masuk Filipina dengan nama Elias Fuentes dan berhasil menghubungi salah seorang sahabat Semaun di sana, selanjutnya mendorong didirikannya Partai Komunis Filipina.

1926 Masuk Singapura dengan nama Hasan Gozali, bertemu dengan Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim yang berhasil meloloskan diri dari Indonesia.

1927 Bersama Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia) untuk meluncurkan kembali langkah-langkah menyusun kekuatan Partai Komunis di Indonesia yang lumpuh akibat pemberontakan Madiun pada akhir tahun 1926.
– Masuk lagi ke Filipina tetapi tertangkap oleh Dinas Rahasia Amerika, di mana dalam perkara tersebut Tan Malaka dibela oleh parlemen dan presiden pertama Republik Filipina, Manuel Quezon. hakim Filipina atas permintaan pemerintah Amerika memutuskan mengeluarkan Tan Malaka dari Filipina ke Amoy.
1932 Berhasil masuk Hongkong dengan nama Ong Soong Lee, kemudian tertangkap oleh Polisi Rahasia Inggris. Setelah lebih kurang 2 ½ bulan ditahan dalam penjara Hongkong, Tan Malaka mendapat keputusan dikeluarkan ke Syanghai.

1936 Mendirikan dan mengajar pada School for Foreign Languages di Amoy, Cina.
1937 Ketika Jepang mulai mengarahkan serangannya menuju Amoy, Tan Malaka masuk Burma kemudian ke Singapura, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Tinggi Singapura.

1942 Setelah mengalami pertempuran-pertempuran di sekitar Benteng Seletar antara tentara Jepang dan Inggris di Singapura, Tan Malaka masuk Penang menuju Medan, Padang dan akhirnya tiba di Jakarta.

1943 Menulis buku dan menyusun kekuatan di bawah tanah (ilegal) dengan merupakan dirinya sebagai buruh (roomusha) pada tambang batu bara di Bayah (Banten) dengan nama Husein, mengikuti jalannya tempo untuk dicetuskannya kelahiran Republik Indonesia Merdeka melalui revolusi.

1945 Pendorong para pemuda yang bekerja di bawah tanah di waktu pendudukan Jepang (Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Maruto, dan lain-lain) untuk mencetuskan revolusi yang kemudian terjadi dengan Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

1946 Promotor Persatuan Perjuangan yang mengikatkan persatuan antara sejumlah 141 organisasi terdiri dari pimpinan partai, serikat-serikat buruh, pemuda, wanita, tentara, laskar dan lain-lain, di atas dasar program revolusi yang dikenal dengan nama 7 Pasal Minimum Program, menolak politik kompromi dengan imperialis Belanda yang dimulai dengan politik 1 November dan 3 November 1945.

1947 Menentang politik kompromi Linggarjati tahun 1947.
1948 Menentang politik kompromi Renville tahun 1948.

– Pendiri Partai Murba yang melanjutkan Program Persatuan Perjuangan.
– Pendiri Gerilya Pembela Proklamasi (GPP) yang berpusat di Jawa Timur.
1949 Tangggal 19 Februari hilang karena diciderai (ditembak mati dan jenazahnya dilempar ke sungai Brantas) di Kediri, Jawa Timur, di saat beliau sedang memimpin revolusi melawan agresi Belanda, di saat itu pula para pemimpin pemerintahan pusat di Jogja sudah banyak yang ditangkap dan ditawan Belanda.Tan Malaka mati terbunuh di hadapan senapan sekelompok tentara republik sendiri atas perintah gubernur militer Jawa Timur.
Karya-karya Tan Malaka
Tan Malaka termasuk penulis yang cukup produktif dalam menuangkan alam pikirannya. Berikut ini adalah karya-karyanya:

1. Materialisme-Dialektika-Logika (Madilog)

Tebal kitab ini, 462 halaman, yang ditulis di Rajawati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta dengan waktu yang dipakai lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam. Jadi, menurut Tan Malaka, kira-kira 3 jam sehari. Dalam seminggu empat hari ia pergunakan untuk menulis, yaitu dari pukul 6 sampai pukul 12. Setelah itu berjalan-jalan di desa. Tiga kali seminggu ke perpustakaan di Gambir dengan berjalan kaki yang memakan waktu 4 jam.
Kitab ini ditulisnya dengan tulisan tangan dengan hurup kecil supaya aman dari mata polisi dan tongkat kempetai Jepang. Tidak ada catatan bahan referensi, karena buku-bukunya telantar cerai berai dan lapuk atau hilang di berbagai tempat atau negara, – walaupun demikian menjelang habis Madilog ditulis, ia berjumpa dengan beberapa buku tentang logika dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Spanyol- sehingga ia mengandalkan ingatan Tan Malaka; jembatan keledai (ezelbruggetje).
Maksud penulisan Madilog menurut Tan Malaka, adalah pertama sebagai cara berpikir. Bukanlah suatu Weltanschauung atau pandangan dunia; walaupun, menurutnya, hubungan antara cara berpikir dan pandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah. Rapat sekali. Dari cara orang berpikir, dapat diduga filsafatnya dan dari filsafatnya dapat diketahui dengan cara dan metode apa sehingga sampai ke filsafat itu.

Kedua, Madilog juga diharapkannya sebagai bacaan penghubung kepada filsafat proletar Barat. Karena, menurutnya, otak proletar Indonesia tak bisa mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Barat yang berbeda sekali dengan masyarakat Indonesia dalam iklim, sejarah, keadaan jiwa dan cita-citanya.

Ketiga, untuk mengupas dan mengobati penyakit penjajahan, keterbelakangan dan kolonialisme, Tan Malaka menyajikan landasan pandangan yang beralaskan pada materialisme, dialektika dan logika. yang dituangkannya dalam sebuah buku Madilog. Dari sinilah kemudian, Tan Malaka memandang realitas lokal, nasional dan internasional dalam aneka lini kehidupan, termasuk di dalamnya keberadaan agama yang ia masukkan ke dalam kelompok kepercayaan.
Karya terbesar dari Tan Malaka ini diniatkannya sebagai upaya untuk merombak sistem berpikir bangsa Indonesia, dari pola berpikir yang penuh dengan mistik kepada satu cara berpikir yang rasional. Tanpa perombakan cara berpikir, sulit rasanya bangsa Indonesia untuk maju dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka dan sosialistik. MADILOG sebagai konsep berpikir yang memadukan ketiga unsurnya, yaitu MAterialisme, DIalektika dan LOGika, merupakan kesatuan dan tidak boleh dipecah-pecah.

1. Dari Pendjara ke Pendjara

Ditulis tahun 1946-1947 di penjara Ponorogo. Berisi tentang riwayat hidup (otobiografi). Ia menguraikan perjalanannya dari suatu negara ke negara lain untuk menghindar dari kejaran agen-agen kolonial. Ia juga memaparkan pandangan tentang kepercayaan, filsafat dan tentang negara. Dari buku inilah kebanyakan para pemerhati mendapat gambaran kehidupan Tan Malaka yang revolusioner.

1. Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi)

Ditulis di penjara Madiun 1948. Berisi tentang ajarannya dalam melakukan gerilya politik maupun ekonomi. Uraian tentang cara bergerilya dalam politik dengan strategi militer, maupun dengan penguatan ekonomi dengan merebut seluruh kekayaan asing. Keduanya menjadi satu dan saling menguatkan.
4. Sovyet atau Parlemen

Ditulis tahun 1921 di Semarang. Berisi tentang uraian sistem pemerintahan yang dikenal saat itu seperti sistem parlemen di Inggris mulai abad ke-12, juga di Perancis, Jerman dan lain-lain. Intinya menurut Tan Malaka, parlemen dengan sistem perwakilan yang dikenalnya hanya akan menjadi perkakas dari yang memerintah. Bersamaan dengan mulai menguatnya kapitalisme dengan ujung imperialisme, parlemen pada akhirnya hanyalah alat dari kapitalisme. Kemudian dengan tegas Tan Malaka membedakan parlemen dengan sovyet (Dewan Rakyat) yang menurutnya parlemen adalah alat untuk mengekalkan perburuhan dan kapitalisme, sedangkan sovyet (Dewan Rakyat) adalah alat sementara guna menghilangkan pengaruh kapitalisme (modal) untuk mendatangkan sosialisme.

1. Toendoek Kepada Kekoesaan, Tetapi Tidak Toendoek Kepada Kebenaran

Ditulis di Berlin tahun 1922. Berisi tentang pembelaannya ketika ditangkap di Bandung tanggal 13 Februari 1922 dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum, membuat keonaran dan yang terberat adalah adalah usaha menggerakkan rakyat untuk mengadakan pemberontakan guna mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia. Ia menyatakan bahwa tuduhan itu tidak benar dan penguasa kolonial hanya berusaha untuk mematikan aktivitas pergerakan nasional saat itu.

1. Goetji Wasiat Kaoem Militer

Ditulis tahun 1924 di Saigon. Diterbitkan dengan nama Sumendap dan Daniel, tetapi menurut Poeze mungkin ditulis Tan Malaka.

1. Indonesiai ejo mesto na proboezjdajoesjtsjemsja vostoke

Diterbitkan di Moskow tahun 1924. Pada brosur ini tertulis Sukindat, tetapi menurut Poeze mungkin ditulis Tan Malaka. Poeze mengatakan, brosur ini berisi tentang thesis bagi keadaan sosial dan ekonomi serta tuntutan untuk berorganisasi yang mengembangkan strategi dan taktik untuk diterapkan di Indonesia.

1. Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)

Diterbitkan di Canton, April 1925. Berisi tentang uraiannya akan kondisi dunia, pertentangan dua sistem antara kapitalisme dan komunisme yang diyakininya akan dimenangkan oleh komunisme. Dilanjutkan dengan dengan situasi di Indonesia di mana penjajah Belanda melakukan penjajahan dengan biadab, namun Tan Malaka yakin suatu saat penjajah akan kalah apabila semua organisasi perjuangan yang ada terutama PKI, dapat menyusun tujuan revolusionernya.

1. Massa Actie

Ditulis di Singapura tahun 1926. Secara umum brosur ini berisi tuntutan bagaimana melakukan sebuah revolusi di Indonesia. Sebuah revolusi terutama di Jawa dan Sumatera adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Baginya tidak ada sikap yang netral, yang ada adalah berpihak pada penjajah Belanda atau rakyat terjajah Indonesia. Dari sini kemudian baru Tan Malaka beralih pada bagaimana menjalankan revolusi yang benar, dan massa aksi bukan putch, tidak bisa dicapai oleh pemberontakan atau kudeta secara anarkis.

1. Manifesto PARI (Manifesto Bangkok)

Ditulis di Bangkok 1927. Berisi uraian tentang perlunya membentuk partai baru dan menamakannya PARI (Paratai Republik Indonesia) yang dibentuk semata-mata untuk kepentingan Indonesia serta akan memberikan yang terbaik untuk itu. Manifesto ini mengoreksi kesalahan PKI, yaitu pemberontakan 1926/1927 yang menyebabkan hancurnya partai dan mereka tidak bermaksud memunculkan partai ini lagi, karena beranggapan tidak mungkin jika mendirikan partai-partai yang telah melakukan cukup kesalahan. Kemudian manifesto juga menyatakan pemutusan dengan Internasionale (Comintren) yang menurutnya tidak akan baik di Indonesia. Dengan mengambil contoh dari Jerman, Italia, Bulgaria dan China dinyatakannya kepemimpinan Moscow gagal untuk negeri lain. Seluruh Internasionale Ketiga (Comintern) dibangun demi kepentingan Rusia dan terutama pemimpin-pemimpin komunis dari Timur cenderung akan terjebak kepada ketaatan buta dan kehilangan kemandirian mereka, akibatnya mereka akan kehilangan hubungan dengan rakyat mereka sendiri yang tentunya berlainan dengan suasana kejiwaan rakyat Rusia.

1. Lokal dan Nasional Aksi di Indonesia

Diterbitkan di Singapura 1926. Menurut Poeze, brosur ini diterbitkan dalam bagian yang terpisah, secara rahasia disebabkan dengan cara menyalinnya dengan mesin ketik. Bagian pertama dikenal juga dengan judul “Soerat Rahasia boeat lokal aksi di Minangkabau”, 20 September 1926.

1. SI Semarang dan Onderwijs

Ditulis di Semarang tahun 1921 pada saat Tan Malaka berusaha merumuskan tujuan pendidikan dari sekolah Serikat Islam yang mulai dibangunnya (dikenal juga dengan sekolah Tan Malaka). Berisi pokok-pokok pikiran yang akan dikembangkan/diajarkan dalam sekolahnya.

1. Asia Bergabung (Gabungan Aslia)

Ditulis tahun 1943. Menurut Poeze hanya selesai separuh.

1. Semangat Moeda

Ditulis di Manila tahun 1926, namun oleh Tan Malaka dikatakan di Tokyo sebagai tempat penerbitannya.
15. Politik
Ditulis di Surabaya pada tanggal 24 November 1945. Berisi tentang percakapan antara Godam (simbolisasi kaum buruh), Pacul (petani), Toke (pedagang), Den Mas (ningrat) dan Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Menguraikan tentang bagaimana caranya merdeka, maksud dan tujuan kemerdekaan, serta bagaimana mengisi kemerdekaan itu dan yang tak kalah penting adalah Indonesia Merdeka harus berdasarkan sosialisme.
16. Rentjana Ekonomi
Ditulis di Surabaya pada tanggal 28 November 1945. Berisi tentang percakapan dengan simbolisasi yang sama seperti yang ada dalam politik. Menguraikan tentang rencana pembangunan ekonomi, yang menurutnya ekonomi sosialislah yang dapat membawa kemakmuran bagi Indonesia kelak.

1. Moeslihat

Ditulis di Surabaya pada tanggal 2 Desember 1945. Berisi tentang percakapan dengan simbolisasi yang sama seperti yang ada dalam politik. Menguraikan tentang strategi dan taktik dalam perjuangan untuk membawa Indonesia ke arah kemerdekaan.

1. Manifesto PARI (Manifesto Jakarta)

Ditulis di Jakarta tahun 1945. Menguraikan tentang pertentangan sistem yang ada di dunia, antara kapitalisme dengan komunisme yang menurutnya akan dimenangkan oleh komunisme serta penolakan atas percobaan pendirian Republik Indonesia yang kapitalis dan membatalkan semua upaya dari luar untuk menjajah kembali Indonesia dengan cara apa pun.

1. Thesis

Ditulis tahun 1946 di Lawu. Berisi tentang ajarannya mengenai pembentukan negara sosialistis. Uraian tentang perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia seratus persen. Juga pembelaannya terhadap tuduhan Trotsky yang selalu dituduhkan kepadanya, berkenaan dengan pemberontakan PKI 1926 yang gagal dan oleh pihak PKI kegagalan itu selalu dialamatkan kepada Tan Malaka sebagai orang yang menyabotnya.

1. Koehandel Di Kaliurang (Perdagangan Sapi di Kaliurang)

Ditulis tanggal 16 April 1948 dengan nama samaran Dasuki. Berisi tentang penolakan terhadap perjuangan diplomasi yang tidak berprinsip, yang dilakukan oleh pemerintah saat itu. Perjuangan lewat diplomasi hanya akan merugikan Indonesia dan menjual Indonesia kepada kaum kapital asing, oleh karena itu perundingan harus dibatalkan atau dihandel dan mempersiapkan kaum MURBA untuk berjuang.

1. Surat Kepada Partai Rakyat

Ditulis 31 Juli 1948 di penjara Magelang sebagai sambutan tertulis dalam pembentukan Kongres Partai Rakyat tanggal 10-11-12 Agustus 1948. berisi tentang bagaimana mengorganisasikan Partai Rakyat agar menjadi partai yang memperhatikan dan memperjuangkan rakyat MURBA.

1. Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Pidato tertulis pada Kongres Rakyat Indonesia Desember 1948. Berisi tentang penolakan perundingan yang dilakukan Indonesia saat itu dan persiapan perang kemerdekaan dalam menghadapi agresi militer Belanda.

1. Uraian Mendadak

Merupakan salinan tertulis dari pidato yang diucapkan di depan Kongres peleburan tiga partai (Partai Rakyat, Partai Buruh, dan Partai Rakyat Jelata) menjadi Partai Murba. Berisi tentang reorganisasi partai dan uraian untuk tetap mempertahankan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.
Karya-karya tulis Tan Malaka meliputi semua bidang kemasyarakatan dan kenegaraan-politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran, terlihat benang putih keilmiahan dan ke-Indonesiaan, serta benang merah orsinalitas, kemandirian, kekonsekuenan, dan konsistensi yang direnda jelas dalam gagasan-gagasannya dan perjuangan implementasinya dalam rumusan konsepsional dan penjabaran operasionalnya.

Setting Sosial Politik Tan Malaka
Latar kehidupan Tan Malaka berada dalam ruang dan waktu dengan sosiopolitikkultural yang melingkupinya. Paling tidak, ada tiga situasi dan kondisi penting yang mewarnai pandangan serta perjalanan hidup Tan Malaka yaitu, keadaan internasional, Minangkabau dan alam pikir Barat.

Pertama. Keadaan internasional. Menurut Tan Malaka:
Tahun 1918, terjadi perjanjian Versailles. Pada waktu itu dunia sedang gemuruh. Satu negara besar dan baru dalam di segala-gala timbul, ialah Sovyet Rusia. Pada jaman itu saya masih muda, masih belajar di Eropa Barat. Dalam usia Sturm und Drang periode itu, dalam usia sedang bergelora itu saya dilondong topan yang bertiup dari Eropa Timur itu. Dunia Barat sendiri pada masa itu seakan-akan mengikuti Sovyet Rusia. Dari dunia Eropa Timur itulah saya mendapatkan semua ilham dan petunjuk yang saya rasa perlu buat perjuangan politik, ekonomi dan sosial kita.
Di bidang politik di Eropa, terjadi dampak pergolakan politik Pascaperang Dunia I di Eropa pada umumnya dan di Belanda pada khususnya. Revolusi Oktober 1917 di Rusia yang disusul oleh gerakan revolusioner kaum sosial-demokrat Belanda yang dipimpin oleh Troestra memberi inspirasi kepada unsur-unsur progresif Indonesia yang tergabung dalam ISDV untuk menuntut pemerintahan sendiri dan perwakilan hak-hak yang luas.
Di bidang ekonomi, Perang Dunia I mengakibatkan kemacetan pengangkutan hasil perkebunan sehingga pengusaha perkebunan mengurangi produksinya sehingga berakibat rakyat banyak kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Penderitaan rakyat bertambah besar lebih-lebih karena gubernemen membebankan pajak yang lebih berat kepada rakyat.

Perkembangan politik kolonial Belanda adalah politik kolonial konservatif (1800-1848), cultuurstelsel (1830-1870), permulaan politik kolonial liberal (1850-1870) dan politik ethis (1900), yakni edukasi, irigasi dan emigrasi.Tan Malaka lahir pada akhir abad ke-19, ketika diberlakukannya politik etis Belanda. Politik etis ini merupakan politik balas budi bangsa Belanda kepada Hindia Belanda oleh keuntungan yang diperolehnya selama dasawarsa-dasawarsa yang lalu. Kebijakan politik ini adalah terbukanya kesempatan yang makin luas di kalangan pribumi untuk memperoleh pendidikan modern ala Belanda. Pendidikan ini juga untuk memenuhi kebutuhan atas tenaga-tenaga terdidik untuk birokrasi. Dari sinilah munculnya beberapa intelektual muda yang bersentuhan dengan pemikiran Barat, termasuk tentang nasionalisme.

Kedua, alam Minangkabau. Secara sosiologis, nagari -kesatuan masyarakat lokal dalam masyarakat Minangkabau- merupakan konsep kosmologis yang di dalamnya terkandung kehidupan religius yang bersifat kontemplatif transenden. Secara holistik, dalam nagari tidak saja diurus masalah teknis pemerintahan, malahan sampai pada hal-hal yang bersifat transenden seperti kehidupan surau. Surau pada jaman dahulu merupakan kelengkapan suku dan tempat berkumpulnya anak-anak muda serta remaja dalam upaya menimba ilmu pengetahuan. Surau sekaligus juga digunakan sebagai tidur bersama, membahas berbagai ilmu agama, dan juga dimanfaatkan sebagai tempat penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi oleh suku melalui musyawarah bersama yang merupakan inti demokrasi kultural nagari.

Daerah Minangkabau pada permulaan abad ini mengenal tiga paham yang pada umumnya berpengaruh pada diri penduduknya. Ketiga paham itu adalah paham Islam, adat dan kolonialisme serta berbagai implikasi yang dikandungnya. Ketiganya mempunyai pendukung walaupun para pendukung ini juga terpengaruh oleh ketiganya. Bentrokan paham, negosiasi dan saling memanfaatkan dari interaksi pendukung tersebut sering terjadi.
Daerah Minangkabau merupakan daerah terbuka dari lalu lintas dunia internasional untuk melakukan aktivitas politik, ekonomi, agama dan budaya. Sifat pragmatis dari sebagian penduduk cepat mengambil manfaat dari perkembangan yang berlaku. Kemudian dalam mengambil manfaat dari administrasi perdagangan, administrasi pemerintahan dan juga dalam bidang pendidikan.

Bukit Tinggi menjadi pusat pendidikan se-Sumatera. Sekolah Raja, yaitu sekolah guru berbahasa Belanda (Kweekschool) yang berada di kota itu merupakan tempat melatih pada tingkat menengah anak-anak Indonesia dari seluruh Sumatera. Sekolah ini adalah tempat penampungan bagi anak-anak kalangan bangsawan dan orang-orang besar lainnya di pulau tersebut.

Merantau merupakan bagian dari tradisi Minangkabau. Kedudukan perantau begitu mulia dalam masyarakat. Pergi merantau, menurut visi falsafah Minangkabau dapat membuka mata untuk mengenal dunia luar yang luas, di mana mereka akan mendapatkan hal-hal baru yang nanti akan dibawanya pulang. Merantau, bukanlah semata mencari uang atau harta, melainkan juga menuntut ilmu atau mengaji. Berdasarkan batasan ini, menurut Alfian, Tan Malaka adalah seorang perantau, baik fisik maupun mental (pemikiran).

Rantau pertama yang dialami Tan Malaka ialah ketika dia meninggalkan desa tempat lahirnya pergi menuntut ilmu ke “Sekolah Raja” di Bukit Tinggi. Walaupun masih berada di alam Minangkabau, tapi alam asalnya adalah Nagari Pandan Gadang. Sewaktu dia tamat belajar di Bukit Tinggi, ia diberi gelar Datuk Tan Malaka oleh kaum atau sukunya, sebagai kepala adat mereka. Ini berkait erat dengan ilmu yang diperolehnya di rantau. Tidak lama sesudah itu, dia pergi lagi melanjutkan studinya ke negeri Belanda, perantauan yang amat jauh bagi anak muda yang baru berumur 16 tahun. Ruang lingkup alamnya lambat laun berubah dari Nagari Pandan Gadang yang kecil meluas menjadi Minangkabau dan kemudian Indonesia. Modal ini dikembangkan Tan Malaka untuk memahami dan menginterpretasikan permasalahan-permasalahan masyarakat Indonesia.

Visi adat dan falsafah Minangkabau dari merantau untuk mengontraskan atau membandingkan dunia rantaunya dengan realitas alam asalnya, sehingga dapat melihat mana yang baik dan yang buruk dari keduanya. Hal ini mengundang orang berpikir kritis dan dialektis. Oleh karena itu kontradiksi atau konflik dianggap wajar, terutama karena suasana tersebut akan selalu dapat diintegrasikan atau diselesaikan secara memuaskan atau harmonis melalui proses pemilihan mana yang baik dan buruk dengan akal, yaitu kemampuan berpikir secara rasionil. Dengan demikian, visi itu mendorong orang untuk berpikir secara kritis, dinamis atau dialektis. Cara berpikir demikian dengan sendirinya menolak dogmatisme atau parokhialisme. Karena menolak dogmatisme, maka dengan sendirinya menghendaki kebebasan berpikir.

Dalam perantauan, mental Tan Malaka berhasil melepaskan diri dari keterikatan terhadap salah satu dari berbagai corak nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat dan berhasil melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bercorak lain, berbobot dan orisinal. Ini karena mempunyai idealisme untuk membangun manusia dan masyarakat Indonesia baru, menghargai kebebasan berpikir dan memiliki sikap kritis yang tajam serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri yang kuat sehingga mendorong untuk memiliki keberanian mengembangkan pemikiran sendiri.

Ketiga, alam pikir Barat. Pada usia sekitar 23 tahun, Tan Malaka mengalami pergulatan batin dan pikiran tentang agama yang bekaitan dengan mistik. Dalam satu suratnya Tan Malaka menulis untuk salah seorang temannya, Dick: “…aku pun masih mencari-cari, atau yang lebih tepat, masih menyelidiki. Aku sudah memilih arah pokok dalam kehidupan sosial dan agama, bila yang belakangan ini dapat kusebut demikian. Pertanyaan berikut kini sedang mendapat perhatianku: ‘Yang disebut kejadian di luar hukum alam (gaib) itu, apakah memang benar-benar ada?’ aku hidup di tengah bangsa yang gemar akan mistik. Hari ini atau lusa aku akan berjumpa dengan ahli mistik…”
Tan Malaka memberikan penilaian terhadap agama dan pilihannya marxisme: “…gereja itu, Dick, benar-benar suatu organisai ekonomi…gereja Katolik kupandang sebagai eksploitasi kapitalistis yang paling rendah, karena nama tuhan dipakai.

…tentang Islam lebih baik kita diam saja. Dalam agama itu pun ajaran lebih penting daripada praktik. Setiap praktik kebanyakan masih diarahkan pada pemilihan harta benda, tercapainya kedudukan yang lebih baik, atau kekayaan.
….kulihat dengan kepalaku sendiri apakah artinya mistik Islam. Berhari-hari kuserahkan diriku kepada suatu bimbingan. Kesimpulan akhirnya adalah sebagai berikut: mistik itu mungkin sekali omong kosong saja, atau penipuan, atau kedua-duanya sekaligus. Ah, aku sungguh muak melihat penipuan itu di manapun agama menyelinap di dalam masyarakat! Bukannya aku menolak kebajikan itu sendiri yang juga menjadi tujuan, misalnya Islam. Tetapi itu berlaku pada jaman dulu sekali ketika Muhammad sendiri masih hidup sangat sederhana…

… Jadi, kebajikan dan perdamaian itu kupandang hanya mungkin dapat tercapai melalui revolusi. Begitulah seorang Marxis yang materialistis sesungguhnya mempunyai latar belakang yang idealistis…”
Kelak pada perkembangan kehidupannya Tan Malaka memiliki pandangan bahwa Islam memiliki kekuatan revolusioner dan dapat menjadi alat untuk melawan kolonialisme dan imperialisme dengan melakukan pembelaan dan menganjurkan PKI untuk bekerja dengan terhadap Serikat Islam.Di bidang agama perhatiannya besar sekali pada soal-soal mistik: tetapi di bidang sosial ia sudah memilih gagasan komunisme.
Kepergiannya ke negeri Belanda bisa disebut sebagai jendela awal perkenalannya pada dunia luar. Berkenalanlah dirinya dengan paham sosialisme dan menjadikannya berkenalan dengan pemikiran Nietzche dan karya-karya Th. C. Arlyle, yang membuatnya berada dalam semangat dan paham revolusioner. Tan Malaka menyerap secara kritis alam pikir Hegel, Lenin, Karl Marx, Engels dan Charles Darwin. Ini ditandai dengan banyaknya rujukan kepada tokoh-tokoh tersebut sebagai kerangka acuan pemikirannya, terutama dalam bukunya, Madilog.

Selanjutnya adalah persentuhan pemikiran Tan Malaka dengan berbagai kalangan sampai para aktivis, pemikir dan tokoh dunia Barat. Dengan didukung modal minat, semangat dan kecerdasan yang dimilikinya untuk belajar; jaringan pergaulan, berorganisasi ditambah kemampuan penguasaan bahasa yang banyak, menjadi bekal perjuangannya di dalam maupun luar negeri. Menurut pengakuan Tan Malaka, ia menguasai berbagai bahasa seperti, Belanda, Jerman, Inggris, Melayu, Jawa, Perancis, Tagalog, Siam, dan sedikit bahasa Cina. Dari kemampuan bahasa ini, Tan Malaka mendirikan sekolah bahasa di Amoy, School for Foreigen Languages yang berkembang pesat kemajuannya
Dari sebagian tulisannya, basis pandangan tentang realitas, Tan Malaka memilih menggunakan materialisme dan rasionalisme dan paham komunisme sebagai ideologi perjuangan politik, meski Tan Malaka melakukan penafsiran ulang demi penyesuaian situasi dan kondisi Indonesia. Alam pikir Barat berperan dalam perjalanan kehidupan Tan Malaka. Alam dan kerangka pikir Barat diselami, akan tetapi dalam penggunaannya disaring secara kritis dan dinamis.
Dari latar keadaan internasional, adat Minangkabau dan alam pikir Barat, tidaklah aneh jika dia dijuluki nasionalis, sosialis dan komunis yang beragama Islam. Berikut beberapa komentar atas sosok Tan Malaka:
Pokoknya di dalam sekujur tubuhnya mengalir sederas-derasnya, darah anti-Imperialisme, anti-Kolonialisme, sedang setiap denyut jantungnya membersihkan nafas perjuangan kemerdekaan Tanah Air dan Bangsanya.
Saya kenal almarhum Tan Malaka. Saya baca semua ia punya tulisan-tulisan. Saya berbicara dengan beliau berjam-jam, dan selalu di dalam pembicaraan-pembicaraan saya dengan almarhum Tan Malaka ini, kecuali tampak bahwa Tan Malaka adalah pecinta tanah air dan bangsa Indonesia, ia adalah sosialis sepenuh-penuhnya.
Tan Malaka adalah tokoh yang mewakili komunis di Timur Jauh. Ia adalah pemimpin komunis yang paling berhasil dan berpengalaman.

Perjalanan hidup Tan Malaka, pahlawan kemerdekaan nasional Republik Indonesia ini, seringkali diwarnai kegulitaan dalam kesejarahannya. Seperti kepastian kapan Tan Malaka lahir dan kematiannya yang tragis; tidak ada kuburan Tan Malaka, rencana penyerahan kepemimpinan nasional dari Bung Karno kepada Tan Malaka, pandangan terhadap Tan Malaka hendak melakukan kudeta terhadap Soekarno-Hatta dan perpecahan di kalangan kader PKI hingga kematian Tan Malaka penuh teka-teki dan mengenaskan.

2. Dipa Nusantara Aidit

Dikenal dengan nama DN Aidit (lahir di Tanjungpandan, Belitung, 30 Juli 1923 – meninggal di Boyolali, Jawa Tengah, 22 November 1965 pada umur 42 tahun) adalah Ketua Komite Sentral Partai Komunis Indonesia (CC-PKI). Ia dilahirkan dengan nama Achmad Aidit di Belitung, dan dipanggil “Amat” oleh orang-orang yang akrab dengannya. Di masa kecilnya, Aidit mendapatkan pendidikan Belanda. Ayahnya, Abdullah Aidit, ikut serta memimpin gerakan pemuda di Belitung dalam melawan kekuasaan kolonial Belanda, dan setelah merdeka sempat menjadi anggota DPR (Sementara) mewakili rakyat Belitung. Abdullah Aidit juga pernah mendirikan sebuah perkumpulan keagamaan, “Nurul Islam”, yang berorientasi kepada Muhammadiyah.

Achmad Aidit itu menapaki karier politik di asrama mahasiswa Menteng 31—sarang aktivis pemuda ”radikal” kala itu. Bersama Wikana dan Sukarni, ia terlibat peristiwa Rengasdengklok—penculikan Soekarno oleh pemuda setelah pemimpin revolusi itu dianggap lamban memproklamasikan kemerdekaan. Ia terlibat pemberontakan PKI di Madiun, 1948. Usianya baru 25 tahun. Setelah itu, ia raib tak tentu rimba. Sebagian orang mengatakan ia kabur ke Vietnam Utara, sedangkan yang lain mengatakan ia bolak-balik Jakarta-Medan. Dua tahun kemudian, dia ”muncul” kembali.

Menjelang dewasa, Achmad Aidit mengganti namanya menjadi Dipa Nusantara Aidit. Ia memberitahukan hal ini kepada ayahnya, yang menyetujuinya begitu saja.

Dari Belitung, Aidit berangkat ke Jakarta, dan pada 1940, ia mendirikan perpustakaan “Antara” di daerah Tanah Tinggi, Senen, Jakarta Pusat. Kemudian ia masuk ke Sekolah Dagang (“Handelsschool”). Ia belajar teori politik Marxis melalui Perhimpunan Demokratik Sosial Hindia Belanda (yang belakangan berganti nama menjadi Partai Komunis Indonesia). Dalam aktivitas politiknya itu pula ia mulai berkenalan dengan orang-orang yang kelak memainkan peranan penting dalam politik Indonesia, seperti Adam Malik, Chaerul Saleh, Bung Karno, Bung Hatta, dan Prof. Mohammad Yamin. Menurut sejumlah temannya, Hatta mulanya menaruh banyak harapan dan kepercayaan kepadanya, dan Achmad menjadi anak didik kesayangan Hatta. Namun belakangan mereka berseberangan jalan dari segi ideologi politiknya.

Meskipun ia seorang Marxis dan anggota Komunis Internasional (Komintern), Aidit mengikuti paham Marhaenisme Sukarno dan membiarkan partainya berkembang tanpa menunjukkan keinginan untuk merebut kekuasaan. Sebagai balasan atas dukungannya terhadap Sukarno, ia berhasil menjadi Sekjen PKI, dan belakangan Ketua. Di bawah kepemimpinannya, PKI menjadi partai komunis ketiga terbesar di dunia, setelah Uni Soviet dan RRC. Ia mengembangkan sejumlah program untuk berbagai kelompok masyarakat, seperti Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia (BTI), Lekra, dan lain-lain.
Dalam kampanye Pemilu 1955, Aidit dan PKI berhasil memperoleh banyak pengikut dan dukungan karena program-program mereka untuk rakyat kecil di Indonesia. Dalam dasawarsa berikutnya, PKI menjadi pengimbang dari unsur-unsur konservatif di antara partai-partai politik Islam dan militer.

KEDATANGAN Muso dari Rusia membangkitkan gairah revolusi Dipa Nusantara Aidit. Ia begitu terkesan pada gagasan Muso, ”Jalan Baru bagi Republik”. Menurut arsitek pemberontakan PKI di Jawa dan Sumatera pada 1926 itu, yang kemudian dilibas Belanda, seluruh kekuatan sosialis komunis harus disatukan. Untuk merebut kekuasaan, PKI tak boleh bergerak sendiri.

Pengalaman itu terasa semakin pahit bagi Aidit. Mentor yang digugu, Muso, tewas ditembak tentara. Sempat tertangkap di Yogyakarta, Aidit cukup beruntung lepas karena tak dikenali. Belakangan, setelah jadi Ketua Comite Central PKI, Aidit menyebut peristiwa itu sekadar ”permainan anak-anak” (kinderspel). Ia menuduh Mohammad Hatta, perdana menteri saat itu, sebagai pihak yang memprovokasi. Amerika Serikat dicurigai di belakang pemerintah untuk melawan ”bahaya merah”.

Bergerak dalam senyap, bersama beberapa yang tersisa, Aidit mencoba membangun kembali partai yang terserak. Aidit masih setia pada ide Muso. Lewat penerbitan Bintang Merah, ia menyebarkan lagi paham revolusioner dan anti-imperialis. Ia kerap mencantumkan nama ”Alamputra” di bawah tulisannya.

Tiga tahun berlalu, karier politik Aidit makin moncer. Ia ”mengkudeta” kelompok PKI tua, Alimin dkk, yang dinilai melakukan banyak kesalahan. Tan Ling Djie, anggota senior politibiro, didepak karena perbedaan pandangan politik. Didukung sejumlah aktivis muda dalam Kongres V PKI, 1951, ia berhasil mencapai posisi Ketua Comite Central PKI.

Kerja keras Aidit membuahkan hasil. Pada Pemilu 1955, PKI masuk ”empat besar” setelah PNI, Masyumi, dan Nahdlatul Ulama. Di masa ini PKI menjadi partai komunis terbesar di negara non-komunis dan partai komunis terbesar ketiga di dunia setelah Rusia dan Cina.

Pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan. Pada tanggal 30 September 1965 terjadilah tragedi nasional yang dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang perwira. Peristiwa ini dikenal sebagai Peristiwa G-30-S.

Pemerintah Orde Baru di bawah Jenderal Soeharto mengeluarkan versi resmi bahwa PKI-lah pelakunya, dan sebagai pimpinan partai, Aidit dituduh sebagai dalang peristiwa ini. Tuduhan ini tidak sempat terbukti, karena Aidit meninggal dalam pengejaran oleh militer ketika ia melarikan diri ke Yogyakarta dan dibunuh di sana oleh militer.

Ada beberapa versi tentang kematian DN Aidit ini. Menurut versi pertama, Aidit tertangkap di Jawa Tengah, lalu dibawa oleh sebuah batalyon Kostrad ke Boyolali. Kemudian ia dibawa ke dekat sebuah sumur dan disuruh berdiri di situ. Kepadanya diberikan waktu setengah jam sebelum “diberesi”. Waktu setengah jam itu digunakan Aidit untuk membuat pidato yang berapi-api. Hal ini membangkitkan kemarahan semua tentara yang mendengarnya, sehingga mereka tidak dapat mengendalikan emosi mereka. Akibatnya, mereka kemudian menembaknya hingga mati. versi yang lain mengatakan bahwa ia diledakkan bersama-sama dengan rumah tempat ia ditahan. Betapapun juga, sampai sekarang tidak diketahui di mana jenazahnya dimakamkan.

Ia hanya Pemuda yang menginginkan rakyat kecil juga merasakan kebahagiaan. karena kebahagiaan bukan hanya milik orang besar. sekali lagi kita harus bersedih. inilah potret dari kekuasaan uang. jika kita lihat dari sudut ini apa pantas D.N Aidit dianggap musuh. ia atau sistem negeri ini yang sudah terlanjur bobrok.
Berikut ini puisi karya dari D.N Aidit yang menggambarkan Idealistnya.

Kidung Dobrak Salahurus

Kau datang dari jauh adik
Dari daerah banjir dan lapar
Membawa hati lebih keras dari bencana
Selamat datang dalam barisan kita

Di kala kidung itu kau tembangkan
Bertambah indah tanah priangan
Sesubur seindah priangan manis
Itulah kini partai komunis

Tarik, tarik lebih tinggi suaramu
Biar tukang-tukang salahurus mengerti
Benci rakyat dibawa mati
Cinta rakyat pada pki

Teruskan, teruskan tembangmu
Bikin rakyat bersatupadu
Bikin priangan maju dan jaya
Alam indah rakyat bahagia

Cipanas, 13 Januari 1963


3. WIJI TUKUL WIJAYA

“penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh”
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.
Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.
Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.
Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.
Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadannya tidak diketahui, dan Thukul dikatgeorikan sebagai “orang hilang”, korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.
Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.

PERINGATAN

Wiji Thukul Wijaya

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

Inilah kisah dari mereka yang menjadi korban kekejaman orde baru. Rezim yang keji  dan sampai saat ini masih gelap. Masih tertutup kabut kekuasaan yang masih berjalan, sampai saat ini Negara kita masih dibutakana kekuasaan dan uang yang menutupi semua keadilan. Sungguh ironi.

4. Soe Hok Gie

Soe Hok Gie dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942, adik dari sosiolog Arief Budiman. Catatan harian Gie sejak 4 Maret 1957 sampai dengan 8 Desember 1969 dibukukan tahun 1983 oleh LP3ES ke dalam sebuah buku yang berjudul Soe Hok Gie: Catatan Seorang Demonstran setebal 494 halaman. Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 — 16 Desember 1969 akibat gas beracun.

Setelah lulus dari SMA Kanisius Gie melanjutkan kuliah ke Universitas Indonesia tahun 1961. Di masa kuliah inilah Gie menjadi aktivis kemahasiswaan. Banyak yang meyakini gerakan Gie berpengaruh besar terhadap tumbangnya Soekarno dan termasuk orang pertama yang mengritik tajam rejim Orde Baru.
Gie sangat kecewa dengan sikap teman-teman seangkatannya yang di era demonstrasi tahun 66 mengritik dan mengutuk para pejabat pemerintah kemudian selepas mereka lulus berpihak ke sana dan lupa dengan visi dan misi perjuangan angkatan 66. Gie memang bersikap oposisif dan sulit untuk diajak kompromi dengan oposisinya.

Selain itu juga Gie ikut mendirikan Mapala UI. Salah satu kegiatan pentingnya adalah naik gunung. Pada saat memimpin pendakian gunung Slamet 3.442m, ia mengutip Walt Whitman dalam catatan hariannya, “Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth”.

Pemikiran dan sepak terjangnya tercatat dalam catatan hariannya. Pikiran-pikirannya tentang kemanusiaan, tentang hidup, cinta dan juga kematian. Tahun 1968 Gie sempat berkunjung ke Amerika dan Australia, dan piringan hitam favoritnya Joan Baez disita di bandara Sydney karena dianggap anti-war dan komunis. Tahun 1969 Gie lulus dan meneruskan menjadi dosen di almamaternya.

Bersama Mapala UI Gie berencana menaklukkan Gunung Semeru yang tingginya 3.676m. Sewaktu Mapala mencari pendanaan, banyak yang bertanya kenapa naik gunung dan Gie berkata kepada teman-temannya:
“Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung.”

8 Desember sebelum Gie berangkat sempat menuliskan catatannya: “Saya tak tahu apa yang terjadi dengan diri saya. Setelah saya mendengar kematian Kian Fong dari Arief hari Minggu yang lalu. Saya juga punya perasaan untuk selalu ingat pada kematian. Saya ingin mengobrol-ngobrol pamit sebelum ke semeru. Dengan Maria, Rina dan juga ingin membuat acara yang intim dengan Sunarti. Saya kira ini adalah pengaruh atas kematian Kian Fong yang begitu aneh dan begitu cepat.” Selanjutnya catatan selama ke Gunung Semeru lenyap bersamaan dengan meninggalnya Gie di puncak gunung tersebut.

24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Beberapa quote yang diambil dari catatan hariannya Gie:
“Seorang filsuf Yunani pernah menulis … nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”
“Kehidupan sekarang benar-benar membosankan saya. Saya merasa seperti monyet tua yang dikurung di kebun binatang dan tidak punya kerja lagi. Saya ingin merasakan kehidupan kasar dan keras … diusap oleh angin dingin seperti pisau, atau berjalan memotong hutan dan mandi di sungai kecil … orang-orang seperti kita ini tidak pantas mati di tempat tidur.”

“Yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan adalah dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan…”
Selain Catatan Seorang Demonstran, buku lain yang ditulis Soe Hok Gie adalah Zaman Peralihan, Di Bawah Lentera Merah (yang ini saya belum punya) dan Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan serta riset ilmiah DR. John Maxwell Soe Hok Gie: Pergulatan Intelektual Muda Melawan Tirani.

Tahun depan Mira Lesmana dan Riri Reza bersama Miles Production akan meluncurkan film berjudul “Gie” yang akan diperankan oleh Nicholas Saputra, Sita Nursanti, Wulan Guritno, Lukman Sardi dan Thomas Nawilis. Saat ini sudah memasuki tahap pasca produksi.

John Maxwell berkomentar, “Gie hanya seorang mahasiswa dengan latar belakang yang tidak terlalu hebat. Tapi dia punya kemauan melibatkan diri dalam pergerakan. Dia selalu ingin tahu apa yang terjadi dengan bangsanya. Walaupun meninggal dalam usia muda, dia meninggalkan banyak tulisan. Di antaranya berupa catatan harian dan artikel yang dipublikasikan di koran-koran nasional” ujarnya. “Saya diwawancarai Mira Lesmana (produser Gie) dan Riri Reza (sutradara). Dia datang setelah membaca buku saya. Saya berharap film itu akan sukses. Sebab, jika itu terjadi, orang akan lebih mengenal Soe Hok Gie” tuturnya.

Dikutip dari : http://seniman-kehidupan.blogspot.coM/

– Mewakili Indonesia dalam Kongres Komunis Internasional (Komintern) IV, kemudian diangkat sebagai Wakil Komintern di Asia dan berkedudukan di Canton, di mana daerahnya meliputi Seksi-seksi Partai Komunis yang sudah ada atau akan didirikan di daerah ‘Selatan’ yang oleh Tan Malaka disebut ASLIA ialah: Burma, Siam, Annam, Filipina, Malaya dan Indonesia. 

– Berhasil bertemu dengan Dr. Sun Yat Sen, Presiden Republik Tiongkok pertama yang daerahnya waktu itu baru meliputi Tiongkok Selatan berpusat di Yenan.

1924 Diangkat sebagai Ketua Biro Buruh Lalu Lintas dalam sebuah Konferensi Pan-Fasifik yang diselenggarakan oleh utusan-utusan Komintern dan Provintern (Serikat Sekerja Internasional Merah) yang dikunjungi oleh utusan-utusan dari Tiongkok Utara & Selatan, Indonesia dan Filipina.

– Memimpin Majalah berbahasa Inggris The Dawn (Fajar) sebagai suara dari Biro tersebut.
1925 Masuk Filipina dengan nama Elias Fuentes dan berhasil menghubungi salah seorang sahabat Semaun di sana, selanjutnya mendorong didirikannya Partai Komunis Filipina.

1926 Masuk Singapura dengan nama Hasan Gozali, bertemu dengan Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim yang berhasil meloloskan diri dari Indonesia.

1927 Bersama Subakat, Sugono dan Djamaluddin Tamim mendirikan PARI (Partai Republik Indonesia) untuk meluncurkan kembali langkah-langkah menyusun kekuatan Partai Komunis di Indonesia yang lumpuh akibat pemberontakan Madiun pada akhir tahun 1926.

– Masuk lagi ke Filipina tetapi tertangkap oleh Dinas Rahasia Amerika, di mana dalam perkara tersebut Tan Malaka dibela oleh parlemen dan presiden pertama Republik Filipina, Manuel Quezon. hakim Filipina atas permintaan pemerintah Amerika memutuskan mengeluarkan Tan Malaka dari Filipina ke Amoy.

1932 Berhasil masuk Hongkong dengan nama Ong Soong Lee, kemudian tertangkap oleh Polisi Rahasia Inggris. Setelah lebih kurang 2 ½ bulan ditahan dalam penjara Hongkong, Tan Malaka mendapat keputusan dikeluarkan ke Syanghai.

1936 Mendirikan dan mengajar pada School for Foreign Languages di Amoy, Cina.
1937 Ketika Jepang mulai mengarahkan serangannya menuju Amoy, Tan Malaka masuk Burma kemudian ke Singapura, bekerja sebagai guru bahasa Inggris di Sekolah Menengah Tinggi Singapura.

1942 Setelah mengalami pertempuran-pertempuran di sekitar Benteng Seletar antara tentara Jepang dan Inggris di Singapura, Tan Malaka masuk Penang menuju Medan, Padang dan akhirnya tiba di Jakarta.

1943 Menulis buku dan menyusun kekuatan di bawah tanah (ilegal) dengan merupakan dirinya sebagai buruh (roomusha) pada tambang batu bara di Bayah (Banten) dengan nama Husein, mengikuti jalannya tempo untuk dicetuskannya kelahiran Republik Indonesia Merdeka melalui revolusi.

1945 Pendorong para pemuda yang bekerja di bawah tanah di waktu pendudukan Jepang (Sukarni, Chairul Saleh, Adam Malik, Pandu Kartawiguna, Maruto, dan lain-lain) untuk mencetuskan revolusi yang kemudian terjadi dengan Proklamasi Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.

1946 Promotor Persatuan Perjuangan yang mengikatkan persatuan antara sejumlah 141 organisasi terdiri dari pimpinan partai, serikat-serikat buruh, pemuda, wanita, tentara, laskar dan lain-lain, di atas dasar program revolusi yang dikenal dengan nama 7 Pasal Minimum Program, menolak politik kompromi dengan imperialis Belanda yang dimulai dengan politik 1 November dan 3 November 1945.

1947 Menentang politik kompromi Linggarjati tahun 1947.
1948 Menentang politik kompromi Renville tahun 1948.

– Pendiri Partai Murba yang melanjutkan Program Persatuan Perjuangan.
– Pendiri Gerilya Pembela Proklamasi (GPP) yang berpusat di Jawa Timur.
1949 Tangggal 19 Februari hilang karena diciderai (ditembak mati dan jenazahnya dilempar ke sungai Brantas) di Kediri, Jawa Timur, di saat beliau sedang memimpin revolusi melawan agresi Belanda, di saat itu pula para pemimpin pemerintahan pusat di Jogja sudah banyak yang ditangkap dan ditawan Belanda.Tan Malaka mati terbunuh di hadapan senapan sekelompok tentara republik sendiri atas perintah gubernur militer Jawa Timur.
Karya-karya Tan Malaka
Tan Malaka termasuk penulis yang cukup produktif dalam menuangkan alam pikirannya. Berikut ini adalah karya-karyanya:

1. Materialisme-Dialektika-Logika (Madilog)

Tebal kitab ini, 462 halaman, yang ditulis di Rajawati, dekat pabrik sepatu Kalibata, Cililitan, Jakarta dengan waktu yang dipakai lebih kurang 8 bulan, dari 15 Juli 1942 sampai 30 Maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam. Jadi, menurut Tan Malaka, kira-kira 3 jam sehari. Dalam seminggu empat hari ia pergunakan untuk menulis, yaitu dari pukul 6 sampai pukul 12. Setelah itu berjalan-jalan di desa. Tiga kali seminggu ke perpustakaan di Gambir dengan berjalan kaki yang memakan waktu 4 jam.
Kitab ini ditulisnya dengan tulisan tangan dengan hurup kecil supaya aman dari mata polisi dan tongkat kempetai Jepang. Tidak ada catatan bahan referensi, karena buku-bukunya telantar cerai berai dan lapuk atau hilang di berbagai tempat atau negara, – walaupun demikian menjelang habis Madilog ditulis, ia berjumpa dengan beberapa buku tentang logika dalam bahasa Belanda, Inggris, Jerman dan Spanyol- sehingga ia mengandalkan ingatan Tan Malaka; jembatan keledai (ezelbruggetje).
Maksud penulisan Madilog menurut Tan Malaka, adalah pertama sebagai cara berpikir. Bukanlah suatu Weltanschauung atau pandangan dunia; walaupun, menurutnya, hubungan antara cara berpikir dan pandangan dunia atau filsafat adalah seperti tangga dengan rumah. Rapat sekali. Dari cara orang berpikir, dapat diduga filsafatnya dan dari filsafatnya dapat diketahui dengan cara dan metode apa sehingga sampai ke filsafat itu.

Kedua, Madilog juga diharapkannya sebagai bacaan penghubung kepada filsafat proletar Barat. Karena, menurutnya, otak proletar Indonesia tak bisa mencernakan paham yang berurat dan tumbuh pada masyarakat Barat yang berbeda sekali dengan masyarakat Indonesia dalam iklim, sejarah, keadaan jiwa dan cita-citanya.

Ketiga, untuk mengupas dan mengobati penyakit penjajahan, keterbelakangan dan kolonialisme, Tan Malaka menyajikan landasan pandangan yang beralaskan pada materialisme, dialektika dan logika. yang dituangkannya dalam sebuah buku Madilog. Dari sinilah kemudian, Tan Malaka memandang realitas lokal, nasional dan internasional dalam aneka lini kehidupan, termasuk di dalamnya keberadaan agama yang ia masukkan ke dalam kelompok kepercayaan.
Karya terbesar dari Tan Malaka ini diniatkannya sebagai upaya untuk merombak sistem berpikir bangsa Indonesia, dari pola berpikir yang penuh dengan mistik kepada satu cara berpikir yang rasional. Tanpa perombakan cara berpikir, sulit rasanya bangsa Indonesia untuk maju dan mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka dan sosialistik. MADILOG sebagai konsep berpikir yang memadukan ketiga unsurnya, yaitu MAterialisme, DIalektika dan LOGika, merupakan kesatuan dan tidak boleh dipecah-pecah.

1. Dari Pendjara ke Pendjara

Ditulis tahun 1946-1947 di penjara Ponorogo. Berisi tentang riwayat hidup (otobiografi). Ia menguraikan perjalanannya dari suatu negara ke negara lain untuk menghindar dari kejaran agen-agen kolonial. Ia juga memaparkan pandangan tentang kepercayaan, filsafat dan tentang negara. Dari buku inilah kebanyakan para pemerhati mendapat gambaran kehidupan Tan Malaka yang revolusioner.

1. Gerpolek (Gerilya Politik Ekonomi)

Ditulis di penjara Madiun 1948. Berisi tentang ajarannya dalam melakukan gerilya politik maupun ekonomi. Uraian tentang cara bergerilya dalam politik dengan strategi militer, maupun dengan penguatan ekonomi dengan merebut seluruh kekayaan asing. Keduanya menjadi satu dan saling menguatkan.
4. Sovyet atau Parlemen

Ditulis tahun 1921 di Semarang. Berisi tentang uraian sistem pemerintahan yang dikenal saat itu seperti sistem parlemen di Inggris mulai abad ke-12, juga di Perancis, Jerman dan lain-lain. Intinya menurut Tan Malaka, parlemen dengan sistem perwakilan yang dikenalnya hanya akan menjadi perkakas dari yang memerintah. Bersamaan dengan mulai menguatnya kapitalisme dengan ujung imperialisme, parlemen pada akhirnya hanyalah alat dari kapitalisme. Kemudian dengan tegas Tan Malaka membedakan parlemen dengan sovyet (Dewan Rakyat) yang menurutnya parlemen adalah alat untuk mengekalkan perburuhan dan kapitalisme, sedangkan sovyet (Dewan Rakyat) adalah alat sementara guna menghilangkan pengaruh kapitalisme (modal) untuk mendatangkan sosialisme.

1. Toendoek Kepada Kekoesaan, Tetapi Tidak Toendoek Kepada Kebenaran

Ditulis di Berlin tahun 1922. Berisi tentang pembelaannya ketika ditangkap di Bandung tanggal 13 Februari 1922 dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum, membuat keonaran dan yang terberat adalah adalah usaha menggerakkan rakyat untuk mengadakan pemberontakan guna mengusir penjajah Belanda dari bumi Indonesia. Ia menyatakan bahwa tuduhan itu tidak benar dan penguasa kolonial hanya berusaha untuk mematikan aktivitas pergerakan nasional saat itu.

1. Goetji Wasiat Kaoem Militer

Ditulis tahun 1924 di Saigon. Diterbitkan dengan nama Sumendap dan Daniel, tetapi menurut Poeze mungkin ditulis Tan Malaka.

1. Indonesiai ejo mesto na proboezjdajoesjtsjemsja vostoke

Diterbitkan di Moskow tahun 1924. Pada brosur ini tertulis Sukindat, tetapi menurut Poeze mungkin ditulis Tan Malaka. Poeze mengatakan, brosur ini berisi tentang thesis bagi keadaan sosial dan ekonomi serta tuntutan untuk berorganisasi yang mengembangkan strategi dan taktik untuk diterapkan di Indonesia.

1. Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia)

Diterbitkan di Canton, April 1925. Berisi tentang uraiannya akan kondisi dunia, pertentangan dua sistem antara kapitalisme dan komunisme yang diyakininya akan dimenangkan oleh komunisme. Dilanjutkan dengan dengan situasi di Indonesia di mana penjajah Belanda melakukan penjajahan dengan biadab, namun Tan Malaka yakin suatu saat penjajah akan kalah apabila semua organisasi perjuangan yang ada terutama PKI, dapat menyusun tujuan revolusionernya.

1. Massa Actie

Ditulis di Singapura tahun 1926. Secara umum brosur ini berisi tuntutan bagaimana melakukan sebuah revolusi di Indonesia. Sebuah revolusi terutama di Jawa dan Sumatera adalah sesuatu yang tak dapat dihindarkan. Baginya tidak ada sikap yang netral, yang ada adalah berpihak pada penjajah Belanda atau rakyat terjajah Indonesia. Dari sini kemudian baru Tan Malaka beralih pada bagaimana menjalankan revolusi yang benar, dan massa aksi bukan putch, tidak bisa dicapai oleh pemberontakan atau kudeta secara anarkis.

1. Manifesto PARI (Manifesto Bangkok)

Ditulis di Bangkok 1927. Berisi uraian tentang perlunya membentuk partai baru dan menamakannya PARI (Paratai Republik Indonesia) yang dibentuk semata-mata untuk kepentingan Indonesia serta akan memberikan yang terbaik untuk itu. Manifesto ini mengoreksi kesalahan PKI, yaitu pemberontakan 1926/1927 yang menyebabkan hancurnya partai dan mereka tidak bermaksud memunculkan partai ini lagi, karena beranggapan tidak mungkin jika mendirikan partai-partai yang telah melakukan cukup kesalahan. Kemudian manifesto juga menyatakan pemutusan dengan Internasionale (Comintren) yang menurutnya tidak akan baik di Indonesia. Dengan mengambil contoh dari Jerman, Italia, Bulgaria dan China dinyatakannya kepemimpinan Moscow gagal untuk negeri lain. Seluruh Internasionale Ketiga (Comintern) dibangun demi kepentingan Rusia dan terutama pemimpin-pemimpin komunis dari Timur cenderung akan terjebak kepada ketaatan buta dan kehilangan kemandirian mereka, akibatnya mereka akan kehilangan hubungan dengan rakyat mereka sendiri yang tentunya berlainan dengan suasana kejiwaan rakyat Rusia.

1. Lokal dan Nasional Aksi di Indonesia

Diterbitkan di Singapura 1926. Menurut Poeze, brosur ini diterbitkan dalam bagian yang terpisah, secara rahasia disebabkan dengan cara menyalinnya dengan mesin ketik. Bagian pertama dikenal juga dengan judul “Soerat Rahasia boeat lokal aksi di Minangkabau”, 20 September 1926.

1. SI Semarang dan Onderwijs

Ditulis di Semarang tahun 1921 pada saat Tan Malaka berusaha merumuskan tujuan pendidikan dari sekolah Serikat Islam yang mulai dibangunnya (dikenal juga dengan sekolah Tan Malaka). Berisi pokok-pokok pikiran yang akan dikembangkan/diajarkan dalam sekolahnya.

1. Asia Bergabung (Gabungan Aslia)

Ditulis tahun 1943. Menurut Poeze hanya selesai separuh.

1. Semangat Moeda

Ditulis di Manila tahun 1926, namun oleh Tan Malaka dikatakan di Tokyo sebagai tempat penerbitannya.
15. Politik
Ditulis di Surabaya pada tanggal 24 November 1945. Berisi tentang percakapan antara Godam (simbolisasi kaum buruh), Pacul (petani), Toke (pedagang), Den Mas (ningrat) dan Mr. Apal (wakil kaum intelektual). Menguraikan tentang bagaimana caranya merdeka, maksud dan tujuan kemerdekaan, serta bagaimana mengisi kemerdekaan itu dan yang tak kalah penting adalah Indonesia Merdeka harus berdasarkan sosialisme.
16. Rentjana Ekonomi
Ditulis di Surabaya pada tanggal 28 November 1945. Berisi tentang percakapan dengan simbolisasi yang sama seperti yang ada dalam politik. Menguraikan tentang rencana pembangunan ekonomi, yang menurutnya ekonomi sosialislah yang dapat membawa kemakmuran bagi Indonesia kelak.

1. Moeslihat

Ditulis di Surabaya pada tanggal 2 Desember 1945. Berisi tentang percakapan dengan simbolisasi yang sama seperti yang ada dalam politik. Menguraikan tentang strategi dan taktik dalam perjuangan untuk membawa Indonesia ke arah kemerdekaan.

1. Manifesto PARI (Manifesto Jakarta)

Ditulis di Jakarta tahun 1945. Menguraikan tentang pertentangan sistem yang ada di dunia, antara kapitalisme dengan komunisme yang menurutnya akan dimenangkan oleh komunisme serta penolakan atas percobaan pendirian Republik Indonesia yang kapitalis dan membatalkan semua upaya dari luar untuk menjajah kembali Indonesia dengan cara apa pun.

1. Thesis

Ditulis tahun 1946 di Lawu. Berisi tentang ajarannya mengenai pembentukan negara sosialistis. Uraian tentang perjuangan mencapai kemerdekaan Indonesia seratus persen. Juga pembelaannya terhadap tuduhan Trotsky yang selalu dituduhkan kepadanya, berkenaan dengan pemberontakan PKI 1926 yang gagal dan oleh pihak PKI kegagalan itu selalu dialamatkan kepada Tan Malaka sebagai orang yang menyabotnya.

1. Koehandel Di Kaliurang (Perdagangan Sapi di Kaliurang)

Ditulis tanggal 16 April 1948 dengan nama samaran Dasuki. Berisi tentang penolakan terhadap perjuangan diplomasi yang tidak berprinsip, yang dilakukan oleh pemerintah saat itu. Perjuangan lewat diplomasi hanya akan merugikan Indonesia dan menjual Indonesia kepada kaum kapital asing, oleh karena itu perundingan harus dibatalkan atau dihandel dan mempersiapkan kaum MURBA untuk berjuang.

1. Surat Kepada Partai Rakyat

Ditulis 31 Juli 1948 di penjara Magelang sebagai sambutan tertulis dalam pembentukan Kongres Partai Rakyat tanggal 10-11-12 Agustus 1948. berisi tentang bagaimana mengorganisasikan Partai Rakyat agar menjadi partai yang memperhatikan dan memperjuangkan rakyat MURBA.

1. Proklamasi 17-8-1945, Isi dan Pelaksanaannya

Pidato tertulis pada Kongres Rakyat Indonesia Desember 1948. Berisi tentang penolakan perundingan yang dilakukan Indonesia saat itu dan persiapan perang kemerdekaan dalam menghadapi agresi militer Belanda.

1. Uraian Mendadak

Merupakan salinan tertulis dari pidato yang diucapkan di depan Kongres peleburan tiga partai (Partai Rakyat, Partai Buruh, dan Partai Rakyat Jelata) menjadi Partai Murba. Berisi tentang reorganisasi partai dan uraian untuk tetap mempertahankan Republik Proklamasi 17 Agustus 1945.
Karya-karya tulis Tan Malaka meliputi semua bidang kemasyarakatan dan kenegaraan-politik, ekonomi, sosial, kebudayaan sampai kemiliteran, terlihat benang putih keilmiahan dan ke-Indonesiaan, serta benang merah orsinalitas, kemandirian, kekonsekuenan, dan konsistensi yang direnda jelas dalam gagasan-gagasannya dan perjuangan implementasinya dalam rumusan konsepsional dan penjabaran operasionalnya.

Setting Sosial Politik Tan Malaka
Latar kehidupan Tan Malaka berada dalam ruang dan waktu dengan sosiopolitikkultural yang melingkupinya. Paling tidak, ada tiga situasi dan kondisi penting yang mewarnai pandangan serta perjalanan hidup Tan Malaka yaitu, keadaan internasional, Minangkabau dan alam pikir Barat.

Pertama. Keadaan internasional. Menurut Tan Malaka:
Tahun 1918, terjadi perjanjian Versailles. Pada waktu itu dunia sedang gemuruh. Satu negara besar dan baru dalam di segala-gala timbul, ialah Sovyet Rusia. Pada jaman itu saya masih muda, masih belajar di Eropa Barat. Dalam usia Sturm und Drang periode itu, dalam usia sedang bergelora itu saya dilondong topan yang bertiup dari Eropa Timur itu. Dunia Barat sendiri pada masa itu seakan-akan mengikuti Sovyet Rusia. Dari dunia Eropa Timur itulah saya mendapatkan semua ilham dan petunjuk yang saya rasa perlu buat perjuangan politik, ekonomi dan sosial kita.
Di bidang politik di Eropa, terjadi dampak pergolakan politik Pascaperang Dunia I di Eropa pada umumnya dan di Belanda pada khususnya. Revolusi Oktober 1917 di Rusia yang disusul oleh gerakan revolusioner kaum sosial-demokrat Belanda yang dipimpin oleh Troestra memberi inspirasi kepada unsur-unsur progresif Indonesia yang tergabung dalam ISDV untuk menuntut pemerintahan sendiri dan perwakilan hak-hak yang luas.
Di bidang ekonomi, Perang Dunia I mengakibatkan kemacetan pengangkutan hasil perkebunan sehingga pengusaha perkebunan mengurangi produksinya sehingga berakibat rakyat banyak kehilangan pekerjaan dan pendapatan. Penderitaan rakyat bertambah besar lebih-lebih karena gubernemen membebankan pajak yang lebih berat kepada rakyat.

Perkembangan politik kolonial Belanda adalah politik kolonial konservatif (1800-1848), cultuurstelsel (1830-1870), permulaan politik kolonial liberal (1850-1870) dan politik ethis (1900), yakni edukasi, irigasi dan emigrasi.Tan Malaka lahir pada akhir abad ke-19, ketika diberlakukannya politik etis Belanda. Politik etis ini merupakan politik balas budi bangsa Belanda kepada Hindia Belanda oleh keuntungan yang diperolehnya selama dasawarsa-dasawarsa yang lalu. Kebijakan politik ini adalah terbukanya kesempatan yang makin luas di kalangan pribumi untuk memperoleh pendidikan modern ala Belanda. Pendidikan ini juga untuk memenuhi kebutuhan atas tenaga-tenaga terdidik untuk birokrasi. Dari sinilah munculnya beberapa intelektual muda yang bersentuhan dengan pemikiran Barat, termasuk tentang nasionalisme.

Kedua, alam Minangkabau. Secara sosiologis, nagari -kesatuan masyarakat lokal dalam masyarakat Minangkabau- merupakan konsep kosmologis yang di dalamnya terkandung kehidupan religius yang bersifat kontemplatif transenden. Secara holistik, dalam nagari tidak saja diurus masalah teknis pemerintahan, malahan sampai pada hal-hal yang bersifat transenden seperti kehidupan surau. Surau pada jaman dahulu merupakan kelengkapan suku dan tempat berkumpulnya anak-anak muda serta remaja dalam upaya menimba ilmu pengetahuan. Surau sekaligus juga digunakan sebagai tidur bersama, membahas berbagai ilmu agama, dan juga dimanfaatkan sebagai tempat penyelesaian berbagai permasalahan yang dihadapi oleh suku melalui musyawarah bersama yang merupakan inti demokrasi kultural nagari.

Daerah Minangkabau pada permulaan abad ini mengenal tiga paham yang pada umumnya berpengaruh pada diri penduduknya. Ketiga paham itu adalah paham Islam, adat dan kolonialisme serta berbagai implikasi yang dikandungnya. Ketiganya mempunyai pendukung walaupun para pendukung ini juga terpengaruh oleh ketiganya. Bentrokan paham, negosiasi dan saling memanfaatkan dari interaksi pendukung tersebut sering terjadi.
Daerah Minangkabau merupakan daerah terbuka dari lalu lintas dunia internasional untuk melakukan aktivitas politik, ekonomi, agama dan budaya. Sifat pragmatis dari sebagian penduduk cepat mengambil manfaat dari perkembangan yang berlaku. Kemudian dalam mengambil manfaat dari administrasi perdagangan, administrasi pemerintahan dan juga dalam bidang pendidikan.

Bukit Tinggi menjadi pusat pendidikan se-Sumatera. Sekolah Raja, yaitu sekolah guru berbahasa Belanda (Kweekschool) yang berada di kota itu merupakan tempat melatih pada tingkat menengah anak-anak Indonesia dari seluruh Sumatera. Sekolah ini adalah tempat penampungan bagi anak-anak kalangan bangsawan dan orang-orang besar lainnya di pulau tersebut.

Merantau merupakan bagian dari tradisi Minangkabau. Kedudukan perantau begitu mulia dalam masyarakat. Pergi merantau, menurut visi falsafah Minangkabau dapat membuka mata untuk mengenal dunia luar yang luas, di mana mereka akan mendapatkan hal-hal baru yang nanti akan dibawanya pulang. Merantau, bukanlah semata mencari uang atau harta, melainkan juga menuntut ilmu atau mengaji. Berdasarkan batasan ini, menurut Alfian, Tan Malaka adalah seorang perantau, baik fisik maupun mental (pemikiran).

Rantau pertama yang dialami Tan Malaka ialah ketika dia meninggalkan desa tempat lahirnya pergi menuntut ilmu ke “Sekolah Raja” di Bukit Tinggi. Walaupun masih berada di alam Minangkabau, tapi alam asalnya adalah Nagari Pandan Gadang. Sewaktu dia tamat belajar di Bukit Tinggi, ia diberi gelar Datuk Tan Malaka oleh kaum atau sukunya, sebagai kepala adat mereka. Ini berkait erat dengan ilmu yang diperolehnya di rantau. Tidak lama sesudah itu, dia pergi lagi melanjutkan studinya ke negeri Belanda, perantauan yang amat jauh bagi anak muda yang baru berumur 16 tahun. Ruang lingkup alamnya lambat laun berubah dari Nagari Pandan Gadang yang kecil meluas menjadi Minangkabau dan kemudian Indonesia. Modal ini dikembangkan Tan Malaka untuk memahami dan menginterpretasikan permasalahan-permasalahan masyarakat Indonesia.

Visi adat dan falsafah Minangkabau dari merantau untuk mengontraskan atau membandingkan dunia rantaunya dengan realitas alam asalnya, sehingga dapat melihat mana yang baik dan yang buruk dari keduanya. Hal ini mengundang orang berpikir kritis dan dialektis. Oleh karena itu kontradiksi atau konflik dianggap wajar, terutama karena suasana tersebut akan selalu dapat diintegrasikan atau diselesaikan secara memuaskan atau harmonis melalui proses pemilihan mana yang baik dan buruk dengan akal, yaitu kemampuan berpikir secara rasionil. Dengan demikian, visi itu mendorong orang untuk berpikir secara kritis, dinamis atau dialektis. Cara berpikir demikian dengan sendirinya menolak dogmatisme atau parokhialisme. Karena menolak dogmatisme, maka dengan sendirinya menghendaki kebebasan berpikir.

Dalam perantauan, mental Tan Malaka berhasil melepaskan diri dari keterikatan terhadap salah satu dari berbagai corak nilai yang hidup dan berkembang dalam masyarakat dan berhasil melahirkan pemikiran-pemikiran baru yang bercorak lain, berbobot dan orisinal. Ini karena mempunyai idealisme untuk membangun manusia dan masyarakat Indonesia baru, menghargai kebebasan berpikir dan memiliki sikap kritis yang tajam serta mempunyai kepercayaan kepada diri sendiri yang kuat sehingga mendorong untuk memiliki keberanian mengembangkan pemikiran sendiri.

Ketiga, alam pikir Barat. Pada usia sekitar 23 tahun, Tan Malaka mengalami pergulatan batin dan pikiran tentang agama yang bekaitan dengan mistik. Dalam satu suratnya Tan Malaka menulis untuk salah seorang temannya, Dick: “…aku pun masih mencari-cari, atau yang lebih tepat, masih menyelidiki. Aku sudah memilih arah pokok dalam kehidupan sosial dan agama, bila yang belakangan ini dapat kusebut demikian. Pertanyaan berikut kini sedang mendapat perhatianku: ‘Yang disebut kejadian di luar hukum alam (gaib) itu, apakah memang benar-benar ada?’ aku hidup di tengah bangsa yang gemar akan mistik. Hari ini atau lusa aku akan berjumpa dengan ahli mistik…”
Tan Malaka memberikan penilaian terhadap agama dan pilihannya marxisme: “…gereja itu, Dick, benar-benar suatu organisai ekonomi…gereja Katolik kupandang sebagai eksploitasi kapitalistis yang paling rendah, karena nama tuhan dipakai.

…tentang Islam lebih baik kita diam saja. Dalam agama itu pun ajaran lebih penting daripada praktik. Setiap praktik kebanyakan masih diarahkan pada pemilihan harta benda, tercapainya kedudukan yang lebih baik, atau kekayaan.
….kulihat dengan kepalaku sendiri apakah artinya mistik Islam. Berhari-hari kuserahkan diriku kepada suatu bimbingan. Kesimpulan akhirnya adalah sebagai berikut: mistik itu mungkin sekali omong kosong saja, atau penipuan, atau kedua-duanya sekaligus. Ah, aku sungguh muak melihat penipuan itu di manapun agama menyelinap di dalam masyarakat! Bukannya aku menolak kebajikan itu sendiri yang juga menjadi tujuan, misalnya Islam. Tetapi itu berlaku pada jaman dulu sekali ketika Muhammad sendiri masih hidup sangat sederhana…

… Jadi, kebajikan dan perdamaian itu kupandang hanya mungkin dapat tercapai melalui revolusi. Begitulah seorang Marxis yang materialistis sesungguhnya mempunyai latar belakang yang idealistis…”
Kelak pada perkembangan kehidupannya Tan Malaka memiliki pandangan bahwa Islam memiliki kekuatan revolusioner dan dapat menjadi alat untuk melawan kolonialisme dan imperialisme dengan melakukan pembelaan dan menganjurkan PKI untuk bekerja dengan terhadap Serikat Islam.Di bidang agama perhatiannya besar sekali pada soal-soal mistik: tetapi di bidang sosial ia sudah memilih gagasan komunisme.
Kepergiannya ke negeri Belanda bisa disebut sebagai jendela awal perkenalannya pada dunia luar. Berkenalanlah dirinya dengan paham sosialisme dan menjadikannya berkenalan dengan pemikiran Nietzche dan karya-karya Th. C. Arlyle, yang membuatnya berada dalam semangat dan paham revolusioner. Tan Malaka menyerap secara kritis alam pikir Hegel, Lenin, Karl Marx, Engels dan Charles Darwin. Ini ditandai dengan banyaknya rujukan kepada tokoh-tokoh tersebut sebagai kerangka acuan pemikirannya, terutama dalam bukunya, Madilog.

Selanjutnya adalah persentuhan pemikiran Tan Malaka dengan berbagai kalangan sampai para aktivis, pemikir dan tokoh dunia Barat. Dengan didukung modal minat, semangat dan kecerdasan yang dimilikinya untuk belajar; jaringan pergaulan, berorganisasi ditambah kemampuan penguasaan bahasa yang banyak, menjadi bekal perjuangannya di dalam maupun luar negeri. Menurut pengakuan Tan Malaka, ia menguasai berbagai bahasa seperti, Belanda, Jerman, Inggris, Melayu, Jawa, Perancis, Tagalog, Siam, dan sedikit bahasa Cina. Dari kemampuan bahasa ini, Tan Malaka mendirikan sekolah bahasa di Amoy, School for Foreigen Languages yang berkembang pesat kemajuannya
Dari sebagian tulisannya, basis pandangan tentang realitas, Tan Malaka memilih menggunakan materialisme dan rasionalisme dan paham komunisme sebagai ideologi perjuangan politik, meski Tan Malaka melakukan penafsiran ulang demi penyesuaian situasi dan kondisi Indonesia. Alam pikir Barat berperan dalam perjalanan kehidupan Tan Malaka. Alam dan kerangka pikir Barat diselami, akan tetapi dalam penggunaannya disaring secara kritis dan dinamis.
Dari latar keadaan internasional, adat Minangkabau dan alam pikir Barat, tidaklah aneh jika dia dijuluki nasionalis, sosialis dan komunis yang beragama Islam. Berikut beberapa komentar atas sosok Tan Malaka:
Pokoknya di dalam sekujur tubuhnya mengalir sederas-derasnya, darah anti-Imperialisme, anti-Kolonialisme, sedang setiap denyut jantungnya membersihkan nafas perjuangan kemerdekaan Tanah Air dan Bangsanya.
Saya kenal almarhum Tan Malaka. Saya baca semua ia punya tulisan-tulisan. Saya berbicara dengan beliau berjam-jam, dan selalu di dalam pembicaraan-pembicaraan saya dengan almarhum Tan Malaka ini, kecuali tampak bahwa Tan Malaka adalah pecinta tanah air dan bangsa Indonesia, ia adalah sosialis sepenuh-penuhnya.
Tan Malaka adalah tokoh yang mewakili komunis di Timur Jauh. Ia adalah pemimpin komunis yang paling berhasil dan berpengalaman.

Perjalanan hidup Tan Malaka, pahlawan kemerdekaan nasional Republik Indonesia ini, seringkali diwarnai kegulitaan dalam kesejarahannya. Seperti kepastian kapan Tan Malaka lahir dan kematiannya yang tragis; tidak ada kuburan Tan Malaka, rencana penyerahan kepemimpinan nasional dari Bung Karno kepada Tan Malaka, pandangan terhadap Tan Malaka hendak melakukan kudeta terhadap Soekarno-Hatta dan perpecahan di kalangan kader PKI hingga kematian Tan Malaka penuh teka-teki dan mengenaskan.

Wiji Thukul
“penjara sekalipun tak bakal mampu mendidikku jadi patuh”
Wiji Thukul Wijaya lahir di Sala 24 Agustus 1963 sebagai anak tukang becak dari keluarga Katolik. Selepas SMP, selama kurang dari dua tahun dia belajar di sekolah Menengah Karawitan Indonesia, sampai putus sekolah pada 1980.
Di Solo, Thukul dibesarkan di kampung miskin yang sebagian besar penghuninya hidup dari menarik becak. Ketika itu bis kota mulai menguasai jalanan, mengakibatkan penderitaan yang berkepanjangan bagi para tukang becak yang penghasilannya semakin merosot. Rentenirpun telah menjadi pengunjung tetap yang kedatanganya selalu menggelisahkan para penghuni kampung.
Semenjak putus sekolah, Thukul mencari nafkah sendiri melalui berbagai pekerjaan tidak tetap. Dia pernah menjadi tukang koran, tukang semir mebel, maupun buruh harian. Selain itu dia pun membaca puisi secara ngamen keluar masuk kampung, kadang-kadang diiringi musik gamelan.
Keterlibatan Thukul dalam teater dan kesenian di Sala dan Jawa Tengah sangatlah luas. Dia pernah mengambil bagian dalam pembacaan puisi di Monumen Pers Surakarta, Pusat Kesenian Jawa Tengah, Universitas Muhammadiyah Surakarta, Yayasan Hatta di Yogyakarta serta radio PTPN. Sajak-sajaknya secara teratur muncul diberbagai majalah dan surat kabar, dan pada tahun 1984 kumpulan sajaknya berjudul Puisi Pelo diterbitkan dalam bentuk stensilan oleh Taman Budaya Surakarta. Stensilan berikutnya Darman dan lain-lain telah pula diterbitkan, selain sajak-sajaknya pun muncul dalam Antologi 4 Penyair Solo. Kumpulan puisi Suara diproduksinya sendiri bulan Juli 1987 dalam bentuk fotokopi yang dikomentarinya: ”Aku sedang belajar untuk tidak tergantung pada lembaga-lembaga kesenian resmi.”

Awal 1990-an terlibat dalam Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER) yang menjadi anak organisasi Partai Rakyat Demokratik (PRD), partai independen yang didirikan oleh kaum muda dan mahasiswa sebagai partai oposisi rezim Orde Baru.
Tahun 1995 Thukul nyaris kehilangan penglihatannya akibat kebrutalan polisi saat ia memimpin pemogokan buruh-buruh tekstil Sritex. Pasca kerusuhan 27 Juli 1996, di mana PRD dikambinghitamkan sebagai biang kerusuhan oleh pemerintahan Orde Baru, Thukul bersama anggota-anggota sentral PRD harus bersembunyi. Kontak terakhir dengan rekan-rekannya masih terjalin pada 1998. Sejak itu keberadannya tidak diketahui, dan Thukul dikatgeorikan sebagai “orang hilang”, korban-korban penculikan pemerintahan militer Orde Baru.
Tahun 2002 Thukul secara in absentia menerima Yap Tiam Hien Award atas perjuangannya di bidang penegakan HAM.

PERINGATAN

Wiji Thukul Wijaya

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

Inilah kisah dari mereka yang menjadi korban kekejaman orde baru. Rezim yang keji  dan sampai saat ini masih gelap. Masih tertutup kabut kekuasaan yang masih berjalan, sampai saat ini Negara kita masih dibutakana kekuasaan dan uang yang menutupi semua keadilan. Sungguh ironi.

Iklan