Refleksi Gempa 30 September 2009

Nak, AJO Tak Punya Rumah..

“Di sini nak. Berpuluh tahun kami pernah berbagi cerita. Tentang kebahagian, kesedihan, serta ketidaksabaran menunggu musim panen. Tapi itu dulu, jelang sore nestapa 30 September tahun lalu. Jelang bumi ini berguncang dan teping-teping menyerah pada getaran. Kampung kami hilang. Di semak nan meninggi itu pula lah anak saya terkubur. Setahun sudah luka dan nestapa ini mengaduk-ngaduk hati. Kalau bukan karena harapan, mungkin Ajo telah pergi. Nak, Ajo tak punya rumah. Sudah malu rasanya berharap pada pemerintah”

Benny Okva —- TANDIKEK

Kirun (54) dan Lenggang Jali (54) terus bercerita. Di kedai kecil, yang persis didirikan di samping kanan jembatan kayu lapuk, berwarna biru. Panjangnya cuma 20 meter. Tapi, jembatan itu dulu menjadi penghubung warga Cumanak dengan jalan utama menuju pasar Tandikek, yang jaraknya sekitar tiga kilometer dari perkampungan. Sesekali, Ajo Lenggang menerawang. Pandangannya menumpuk di hamparan gundukan tanah, yang telah bersemak.

Sekilas kesedihan, seakan membayang di wajahnya. Maklum, di gundukkan itu lah, 22 keluarga besarnya tertimbun. Setahun sudah Ajo Lenggang dan Khirun diterpa nestapa. Mereka adalah, korban gempa yang selamat dari timbunan material Gunuang Tigo, Korong Cumanak, Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman. Suara-suara parau mereka berdesak-desakkan, terdengar samar karena bertingkah dengan suara hujan dan alat berat, yang menggali batu di proyek PSDA, tak jauh dari lokasi gundukan Cumanak yang ditetapkan pemerintah sebagai kuburan massal.

“Tak hilang setahun luka ini. Bayang-bayang dua anak saya menari-nari. Di kala tidur pun begitu. Lebaran lalu, keperihan menjadi-jadi. Biasanya, kami bersama-sama berangkat sholat Id. Rendang yang dibuat istri saya tak habis termakan. Biasanya anak-anak yang menghabiskan,” kata Kirun menyelingi perkataan Ajo Lenggang. Dia menangis dan berusaha menghilangkan kegalauan hati, dengan menghisap dalam-dalam rokok nipahnya.

Begitulah, para korban gempa dan longsor di Cumanak. Mereka menghabiskan hari-harinya dengan kesedihan. Tapi, jangan sangka mereka patah semangat. Kirun contohnya, memilih beralih profesi jadi kuli pengangkut batu. Tak ada lagi sawah yang akan digarapnya. Para korban bencana terus berusaha bangkit dengan modal sendiri dan bantuan pihak luar.

Disebut pihak luar,  karena mereka mengaku tak mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah. Malah, mereka tak masuk hitungan tim klafirikasi, sebagai penerima bantuan rumah rusak. Toh, pemerintah hanya mengkarifikasi bantuan rumah dari rusak berat, sedang, dan rusak ringan. Pertanyaannya, mereka yang kehilangan rumah bagaimana?

“Kami tak pernah dapat bantuan rumah. Tidak ada sama sekali. Pernah saya bertanya pada wali korong, jawabnya cuma nanti dan nanti. Saya malu sering-sering bertanya. Sudah pula pupus harapan ini. Beberapa orang bahkan mengatakan, kami (warga Cumanak), tak masuk kategori, karena pemerintah hanya mengutamakan masyarakat yang rumahnya rusak. Bukan yang rumahnya hilang. Pemerintah mungkin berpikir, kalau kami semuanya mati. Jadi, orang mati tak perlu dapat bantuan lagi. Padahal, masih ada di antara kami yang hidup. Butuh rumah dan bantuan lainnya,” kata Kirun.

Begitu pula yang disampaikan Nyiak Beda (72). Dia tak dapat apa-apa, selain bantuan dari orang-orang yang datang melihat Cumanak, pascalongsor. “Tak semua kami yang tertimbun longsor. Ada 86 yang memang sudah tiada. Tapi, kami masih di sini, hidup dari uluran tangan orang lain,” kata Nyiak Beda yang baru kembali mencari lempengan kayu bekas rumahnya untuk dijadikan kayu bakar.

Ajo Lenggang sendiri, sebenarnya sudah diberikan tempat tinggal oleh saudaranya yang lain. Tapi, dia hanya diperbolehkan menggunakannya dua tahun. Ajo Lenggang mengaku pernah didatangi tim klarifikasi. Katanya, Lenggang akan diberi bantuan rumah. Tentu saja, pria yang keluarganya yang tersisa, bisa dihitung dengan jari ini senang bukan kepalang.

Rencananya, dia akan menggunakan bantuan tersebut, untuk memperbaiki rumah yang dihuni. Tapi, Ajo ujung-ujungnya kecewa. Tim Klarifikasi itu malah mewajibkannya untuk mencari lokasi baru. Kalau tidak, bantuan tak diberi. Dan, sampai sekarang pun, bantuan itu tak diterima Ajo.

“Mau cari lahan kemana. Tanah hanya sepetak. Itu pun di Cumanak. Di sana kan, tak boleh mendirikan rumah. Waktu itu, mereka mengatakan, hanya memberikan bantuan untuk pembuatan rumah baru. Alhasis, saya tidak dapat bantuan. Saya tidak punya tanah. Kalau nanti diusir dari rumah yang saya huni sekarang, saya tak tahu mau tinggal dimana. Kabarnya, kami memang tak akan dibantu, karena dianggap sudah mati,” papar Ajo Lengggang. Kapak yang matanya berkilat-kilat, dipegangnya erat-erat.

Setidaknya, menurut penuturan Kirun dan Ajo Lenggang, ada 11 koleganya yang tak masuk data penerima bantuan dari pemerintah. Mereka adalah Tuangku Buyuang Sudir, Tuanku Ijam, Labai Tuka, Labai Bujer, Syahrin Meni Jaragek, Yuang Kambuik, Sahun,Lambuak, Sialam dan Sionok. Meski mengaku tetap menginginkan rumah, tapi mereka sudah tak terlalu berharap. “Kekecewaan pada pemerintah itu lah yang membuat kami tak memilih pada Pilkada putaran II yang lalu,” ucap Khirun.

Kerisauan yang dirasakan korban longsor Cumanak, sama saja dengan yang diderita masyarakat Kampuang Lubuak Laweh. Kampung kecil yang berjarak 26 kilometer dari Kota Pariaman. Jika ditempuh dari ruas jalan Padang – Bukiktinggi, berjarak sekitar 21 kilometer. Para korban gempa di sana, memang mendapatkan bantuan rumah. Tapi, jarang yang mereka pakai.

Alasannya, karena rumah yang mereka dapatkan tak layak huni. Sebanyak 25 orang yang berhasil selamat, memilih mendirikan rumah seadanya di Kampuang Paneh, Dusun Kapalokoto dan Korong Pulauair. Ketika bencana datang, sedikitnya 132 orang  tertimbun hidup-hidupdi negeri permai yang dulunya merupakan pelarian bagi tentara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PPRI).

Jika ditelusuri, sekitar 500 korban gempa di tiga korong, masih berpikir-pikir untuk menerima tawaran relokasi. Mereka seperti enggan meninggalkan kampungnya. Kenangan masa lalu masih membayang. “Biar saja di sini. Dekat dengan ibu dan anak-anak kami yang tertimbun. Kalau ingin membantu, tolong jangan jauh-jauh. Ini tempat kami besar. Tolong, jangan pisahkan,” kata Ajo Lenggang.

Bagi sebagian orang, waktu setahun memang begitu cepat berlalu. Tapi, bagi para warga Cumanak, waktu setahun begitu lama. Mereka harus hidup dalam kesusahan, penderitaan yang tak kunjung usai. Sudah lah kehilangan rumah, mereka juga merasa tak dianggap oleh pemerintah. Berbagai pertanyaan terlontar di mulut para “kesatria-kesatria”, yang berpantang menyerah pada hidup. Akankah mereka akan terus luntang-lantung? Hidup di bawah bayang-bayang kegetiran. Terlalu berat mungkin. Tapi mereka tetap orang Piaman, yang tak akan pernah berpangku tangan. Tetap semangat, itu lah jalan yang mereka pilih. (*)

Terbit di Harian POSMETRO Padang, 30 September 2010

Iklan