Pagi Minggu (4/6) yang dingin di bantaran Sungai Mungo, Kelurahan Banuaran nan XX, Kecamatan Lubuakbagaluang. Beberapa perempuan tua menjinjing sekantong sampah dan membuangnya ke dalam sungai. Mulut dan hidung sengaja ditutup dengan bagian atas daster yang dikenakan. Bau busuk dari dua pabrik karet yang mengapit Kelurahan benar-benar menyengat. Pagi mereka tak lagi asri, terkontamidasi limbah pabrik nan membumbung ke langit.

BENNY OKVA — Posmetro Padang

Tidak hanya pagi Minggu, pabrik-pabrik yang berdiri kokoh, telah merusak udara sejak dulu. Berpuluh-puluh tahun lalu. Selama itu pula, sebagian warga Banuaran nan XX tak lagi merasakan segarnya udara. Untuk sekadar pagi pun, udara bersih sudah tak mereka hirup. Hidung sudah terbiasa dijejali bau-bau yang bisa buat perut muntah. Setiap pagi, setiap hari. Limbah gas pabrik menjadi kawan.

“Dari dulu dik. Sejak pabrik-pabrik itu berdiri, udara kami tak lagi bersih. Sudah berpuluh tahun. Tapi kami sudah terbiasa. Mungkin yang baru, bisa muntah. Pabrik-pabrik itu benar-benar merusak udara. Tapi, mereka tak terlalu salah. Hidup kami juga bergantung dari sana. Jadi buruh, dan pesuruh. Dulu masih ada sawah yang akan dikelola, kini tak lagi. Di pabrik itu lah, biaya anak-anak untuk sekolah,” ujar Siju (35), warga Banuaran, yang berbelas tahun bekerja di pabrik karet.

Dari data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapeldalda) Padang, ada sebelas pabrik besar, yang bergerak di pengolahan bahan baku, yang mempengaruhi pencemaran udara di Kota Padang. Pabrik pengolahan karet, sawit dan semen. Dari sebelas pabrik itu, yang paling berpotensial ada enam pabrik. Satu pabrik pengolahan semen, dan lima pabrik karet. Penggerak roda industri itu, membuat udara tak bersih. Jika lebih diperinci, lima pabrik karet, hanya mencemari lingkungan, sebatas bau tak sedap. Sementara itu, pabrik pengolahan semen, berdampak sangat besar. Tak sekadar bau, namun juga debu dan kotoran lainnya (seperti asap). Satu-satunya pabrik semen di Kota Padang, adalah PT. Semen Padang di Indaruang, Kecamatan Lubuakkilangan.

“PT. Semen Padang memang sudah memiliki alat monitoring udara. Tapi, alat itu tak bisa menghitung secara jelas kuantitas pencemaran udara. Alat penyaring masih belum berkualitas,” jelas Kepala Bapeldalda Kota Padang Indang Dewata.

Di Lubuakkilangan, hampir 70 persen masyarakatnya mengidap penyakit Infeksi Saluran Pernafasan (ISPA). Daerah tertinggi di Kota Padang itu, juga tercatat sebagai daerah yang masyarakatnya paling banyak mengidap penyakit TBC. Dua penyakit, yang disebabkan oleh udara yang tak bersih. “Tak bisa dipungkiri, tingginya tingkat pencemaran udara di sana, menjadi salah satu penyebab tingginya angka “penyakitan,” lanjut Indang.

Sejak dulu, Industri selalu dikaitkan sebagai sumber pencemar. Karena, aktivitas industri merupakan kegiatan yang sangat tampak dalam pembebasan berbagai senyawa kimia ke lingkungan.

Asap dan debu, merupakan limbah gas yang dikeluarkan pabrik ke lingkungan. Sebagian jenis gas bisa mencemari lingkungan, apabila konsentrasi gas melebihi tingkat konsentrasi normal. Senyawa pencemar udara itu sendiri digolongkan menjadi senyawa pencemar primer, dan senyawa pencemar sekunder.

Senyawa pencemar primer adalah senyawa pencemar yang langsung dibebaskan dari sumber sedangkan senyawa pencemar sekunder ialah senyawa pencemar yang baru terbentuk akibat antar-aksi dua atau lebih senyawa primer selama berada di atmosfer.

“Dari sekian banyak senyawa pencemar yang ada, lima senyawa yang paling sering dikaitkan dengan pencemaran udara ialah karbonmonoksida (CO), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SOx), hidrokarbon (HC), dan partikulat (debu),” beber Indang.

Bapeldalda sendiri, sudah mencoba melakukan mediasi dengan pemilik pabrik. Tapi, sejauh ini belum ada titik terang, untuk mengurangi pencemaran lingkungan. Malah, Bapeldalda dan pabrik-pabrik, terkesan main kucing-kucingan. Sejauh ini, pengawasan aktif, tidak seimbang dengan pengawasan pasif yang dilakukan Bapeldalda. Alasannya, khusus untuk pencemaran udara, Bapeldalda Kota Padang, tidak punya alat uji coba. Otomatis, Bapeldalda hanya bisa menerima laporan, tanpa bisa melakukan uji kadar serta memastikan, apakah limbah sesuai baku mutu atau di bawah baku mutu.

“Kita sudah mencoba melakukan mediasi. Setiap tahun, pabrik-pabrik juga mengirimkan laporan limbah, serta pengendaliannya. Tapi, kita hanya bisa menerima laporan, tanpa melakukan tindaklanjut. Sebab, untuk melakukan uji kadar kembali, Bapeldalda harus punya alat khusus, yang harganya mencapai Rp1,5 miliar. Alat itu benar yang kita tak punya. Tahun lalu pernah diajukan penganggarannya ke pusat, tapi ditolak. Pengawasan langsung yang dilakukan ke lapangan, juga tidak efektif. Terkadang, pabrik-pabrik, sengaja menutup pembuangan limbahnya, ketika kita datang. otomatis, laporannya bagus,” terang Indang. Ironis sekali rasanya. Ketika kampanye lingkungan hidup semakin digalakkan, para perusak udara, semakin mengganas. Padahal, jika memang ingin usaha yang dijalankannya tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat, pemilik pabrik bisa melakukan penyerapan limbah. Setidaknya, ada dua cara pengendalian sumber pencemar dan pengenceran limbah gas. Setidaknya, setiap pabrik punya alat pemisah debu. Yang memisahkan debu dari alirah gas buang. Beberapa metoda umum yang dapat digunakan untuk pemisahan secara simultan ialah, Irrigated Cyclone Scrubber – Menara percik Prinsip. Kerja menara percik ialah mengkontakkan aliran gas yang berkecepatan rendah dengan aliran air yang bertekanan tinggi dalam bentuk butiran. Alat ini merupakan alat yang relatif sederhana dengan kemampuan penghilangan sedang (moderate). Menara percik mampu mengurangi kandungan debu dengan rentang ukuran diameter 10-20 mikron dan gas yang larut dalam air. Namun, sejauh ini, di Kota Padang, alat penekan pencemaran yang dipunyai pabrik, masih dalam kualitas rendah. Itu pun, terkadang tak berfungsi baik,” lanjut Indang Dewata.

Kurang sadarnya penggerak industri, mungkin akan berdampak buruk. Tak hanya itu, masyarakat sendiri kurang peka dan peduli terhadap udara mereka. Apa mungkin, tahun-tahun kemudian, Kota Padang akan menjadi kota kotor, yang udara bersih hanya jadi impian? Atau mungkin, generasi nanti, harus hidup penyakitan, terbaring lemah karena TBC dan ISPA yang akut. Juga karena paru-paru mereka tak pernah kenal udara bersih. Jika kepedulian itu tak ada, mungkin semuanya akan terjadi. Padang tak lagi asri, tapi “mati”! (**)

Iklan