Pengemis bertongkat buluh itu tiba-riba menangis. Badannya bergetar, seiring lemahnya pegangan di tongkat yang dijadikan penopang badan. Selama 12 tahun mengemis di Pasar Sungai Rumbai, Kecamatan Sungai Rumbai, kabupaten Dhamasraya, baru pagi Minggu (20/6) ini , diember birunya bergulung selembar uang Rp50 ribu. Dasfen (41) -pengemis-, duduk sejenak, matanya tak lepas dari langkah Drs Fauzi Bahar Msi. Pria simpatik yang merobah mimpinya jadi nyata.

BENNY ODE — Dhamasraya

Pagi Minggu yang berbeda di Pasar Sungai Rumbai. Tak biasanya ada tokoh masyarakat yang mau masuk ke pasar becek itu. Bersalaman dengan pengemis, dan menciumi bocah-bocah dekil, yang saban hari berkeliling pasar, menjajakan plastik asoi. Sejak helatan kampanye ditabuh 23 Juni lalu, Fauzi Bahar lah yang mau datang ke situ. Calon bernomor urut lima (usungan PAN dan PPP), dan berpasangan dengan Yohannes Dahlan itu, tak sungkan masuk pasar. Tak takut celananya kotor oleh lumpur bercampur darah ayam, yang disembelih para pedagang.

Semuanya di awali deru baling-paling helikopter, yang memecah konsentrasi pedagang, sekitar pukul 09.00 WIB. Anak-anak berlarian, berkejar-kejaran sesamanya. Para pedagang sejenak lupa dengan aktivitas. Mereka berdiri, perlahan mendekat ke lapangan terbuka yang jadi tempat landasan helikopter. Mereka penasaran, siapakah yang datang? Adakah dia, orang yang ditunggu untuk membawa perubahan?

Turun dari pesawat, Fauzi Bahar yang ditemani dua wartawan dan seorang juru kampanye, langsung disambut riang. Baju merah yang dikenakkannya melambai-lambai dihembus angin yang dihasilkan baling-baling helikopter. “Ternyata pak Fauzi Bahar, calon gubernur yang punya visi terbukti membawa perubahan yang datang,” ucap beberapa warga yang sudah kenal betul Fauzi Bahar. Baik dari baliho atau dari media massa. Tim sukses Fauzi – Yohannes Kabupaten Dhamasraya yang sudah menanti sejak pagi, langsung memberikan sambutan. Tawa Fauzi disambut yel-yel “hidup nomor lima”, oleh masyarakat yang selalu menjunjung tinggi pluralisme.

Dari Dhamasraya Ke Sawahlunto

Kedatangan Fauzi Bahar disambut baik di Sungai Rumbai. Para ibu-ibu berebutan untuk bersalaman. Polisi yang mengawal, agak sedikit kewalahan. Petualangan pun dimulai. Pencetus Asmaul Husna itu langsung berkeliling pasar. Pedagang asongan, pedagang cabe hingga pengemis pun tak lupa disalami. Dasfen adalah satu dari tiga pengemis Sungai Rumpai yang berkesempatan bertemu langsung dengan Fauzi Bahar. “Wajahnya penuh wibawa, melambangkan niatnya yang tulus. Dia memberi saya uang yang jumlahnya, selama ini hanya jadi impian,” tutur Dasfen, yang kakinya lemah sebelah.

Usai beramah-tamah dengan masyarakat Sungai Rumbai, Fauzi Bahar bergegas pergi. Di Pulau Punjuang, dia juga sudah ditunggu. Kepergiannya diiringi lambaian tangan para pendukung. Baliho bergambar dirinya dan Yohanes Dahlan dipampangkan. “30 Juni, suara kami untuk nomor lima. Fauzi Bahar untuk Sumbar satu,” serentet kalimat yang terlihat, ketika helikopter mulai lepas landas di daerah yang memiliki  11. 617 pemilih itu.

Di Pulau Punjuang, sambutan yang diterima Fauzi Bahar tak jauh beda. Malah lebih antusias. Masyarakat berbondong-bondong datang. Bahkan, ada yang menawarkan diri, untuk jadi relawan, tanpa bayaran. “Bagi kami, bapak adalah harapan untuk hidup yang lebih baik. Banyak yang harus dikerjaan pemimpin, salah satunya mensejahterakan orang-orang kecil seperti kami ini,” tutur Nyiak Ongah (56), perempuan tua yang berprofesi sebagai penjual kelapa. Dia berjanji, suaranya untuk Fauzi Bahar. Di Pulau Punjuang sendiri tercatat sekitar 23. 861 pemilih tetap. Seluruhnya akan memberikan hak suara di-91 TPS.

Setelah beramah-tamah dengan pedagang Pulau Punjuang, Fauzi Bahar langsung terbang menuju Kota Sawahlunto dikenal sebagai kota tambang dengan luas wilayah 27.345 hektare. Sebelum sampai di Kota Sawahlunto, helikopter sempat “nyasar”. Pilot seakan kehilangan titik koordinat. Awalnya, yang ingin dituju, adalah daerah Sumpurkudus. Alih-alih sampai di Sumpurkudus, helikopter malah mendarat di daerah Lintaubuo, Kabupaten Tanahdatar, yang jaraknya sekitar 60 kilometer dari Sawahlunto.

Walau sempat tersesat, perjalanan tetap dilanjutkan. Kunjungan ke Sumpurkudus terpaksa ditunda. Helikopter langsung menuju jantung Kota Sawahlunto. Sekitar setengah jam perjalanan udara, akhirnya helikopter mendarat mulus di lapangan bola Sawahlunto FC. Lagi-lagi, deru helikopter jadi “undangan”. Seratusan masyarakat Sawahlunto keluar rumah, menyaksikan helikopter yang terparkir.  Mereka langsung berkerumun dan bersalaman dengan Fauzi Bahar. Tepuk tangan membahana.

Seorang ibu yang menggendong bayi, langsung jadi tujuan pertama Fauzi Bahar. Bayi digendong dengan penuh kasih sayang. Ciuman bertubi-tubi mendarat di pipi si anak. Sikap kebapakan Fauzi Bahar tercermin saat itu. Ada dua kali dia “mencuri” bayi yang ada dalam gendongan ibunya. Usai berkeliling pasar Sawahlunto dan berorasi di depan massa pendukung, perjalanan dilanjutkan ke Kecamatan Talawi yang memiliki 1.435 dan 35 TPS. Di Talawi, Fauzi Bahar hanya singgah sesaat. Setelah itu, langsung bertolak ke Kota Padang.

Dalam perjalanan pulang, mata mantan pasukan katak itu tak pernah lepas dari hutan. Dia memandang, seakan penuh pemaknaan. “Inilah yang harus kita jaga. Hutan tak boleh dijamah terlalu jauh. Illegal logging harus diberantas. Di hutan lah kehidupan anak cucu bergantung. Kita harus bersatu untuk menjaga hutan. Saya bertekad untuk itu. Satu hal, masyarakat harus sejahtera. Pemimpin tanpa masyarakat, sama saja dengan lebah tak bersarang. Jangan ada lagi yang mengemis. Sumbat harus berdikari,” tutur Fauzi Bahar.

(*)

Iklan