“Sungai, adalah sahabat. Walau airnya busuk, atau hitam sekali pun, sungai ini tetap menjadi bagian yang tak bisa dipisahkan. Meski air dari PDAM masuk ke rumah-rumah, tapi, mencuci dan mandi ke sungai, sudah menjadi hal yang “wajib”. Seakan tradisi. Kami tak pernah sakit diare, atau gatal-gatal, karena mandi di sungai. Air untuk menggosok gigi pun, dari sungai, yang kata orang membawa penyakit”

BENNY OKVA — BANTARAN BANDA BAKALI

Ucapan tersebut keluar dari Maiyah (47). Perempuan dengan tubuh yang agak kurus, rambut sebahu dan separohnya hampir memutih. Maiyah, adalah satu, dari puluhan warga Alai Parak Kopi, yang menggunakan sungai, untuk mandi dan mencuci. Kebiasaan, yang sudah dilakoninya sejak kecil. Awalnya, Maiyah dibawa orangtuanya mandi ke Banda Bakali. Puluhan tahun lalu, ketika air Banda Bakali masih jernih.

Pagi Minggu (29/5), Maiyah sudah menjunjung seember pakaian kotor, dan membimbing dua anaknya ke bantaran Banda Bakali. Jam tangan menunjukkan angka 08.00 WIB. Sampai di sana, dia langsung mencuci muka, dan menggosok gigi. Tubuhnya menggigil, saat ujung-ujung tangan yang “kering” menyentuh air. Seember pakaian, diletakkan di atas batu yang permukaannya datar, dan berbentuk tanda tambah.

Anak lelakinya yang masih berumur 4 tahun, langsung membuka baju. Byurr.. air berkecipak, ketika tubuh tak berbajunya mencebur. Si kecil tampak bahagia. Tubuhnya putih, tak terlihat ada bercak kudis, atau bintil-bintil merah. Dia asyik bermain air. Sementara, anak perempuan Maiyah, yang umurnya baru lima tahun, membawa adiknya ke batu. Sikat gigi yang tadi digunakan Maiyah, digosokkan pada punggung adiknya. Mereka tertawa bersamaan, saat ujung-ujung sikat, menyentuh kulit si kecil.

“Saya tak pernah kudisan. Begitu juga dengan dua anak ini. Mereka sehat kok. Tapi, memang, dari hari ke hari, air sungai bertambah hitam. Kalau siang, baunya busuk. Hanya pagi airnya bersih. Mungkin karena limbah pabrik di hulu sana. Banyak sampah yang hanyut. Dari sampah rumah tangga, hingga bangkai hewan. Kalau sudah siang, tak ada lagi yang mandi atau mencucl. Sungai kami, tak lagi seperti dulu,” jelas Maiyah.

Data Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup (Bapedalda) Kota Padang, pencemaran Sungai di Kota Padang, sudah mencapai 70 persen. Batang Arau adalah sungai yang paling parah tercemar. Begitu juga dengan Banda Bakali. Limbah Pabrik Karet, Sawit serta limbah buangan rumah tangga (LBRT), menjadi penyumbang terbesar, dalam hal pencemaran sungai.

Jika dikalkulasikan, Chemical Oxygen Demand, atau kebutuhan oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air semakin meningkat di bagian hilir. Dari analisis yang dilakukan Bapeldalda, pada bagian hulu dalam satu liter air terkandung COD sekitar 3,2 miligram. Pada Bagian tengah, 60 miligram/liter. Semakin kehilir, kandungan COD demakin meningkat menjadi 72 Miligram/liter.

Hampir 21 sungai, yang ada di Kota Padang, mengalami pencemaran parah. Lima sungai dalam skala besar yakni Sungai Batang Kuranji,Sungai Air dingin, Sungai Batang Anai, Sungai Timbulun dan Batang Kandih, tercemar karena LBRT. Sedangkan Wahana Lingkungan Hidup (Walhi Sumbar), merilis, kalau tiga sungai besar di Sumbar dipastikan sudah tercemar oleh limbah industri. Tiga sungai tersebut adalah Sungai Batang Masang di Kabupaten Pasaman, Sungai Batang Bayang di Kabupaten Pesisir Selatan dan Batang Arau di Kota Padang.

“Pencemaran sungai semakin parah. Tapi, masyarakat tak jua menurunkan intensitasnya, dalam penggunaan air sungai untuk mandi cuci dan kakus (MCK). Kita sudah menggerakkan penyuluhan pada keluarga. Tingkat kesadaran, untuk tidak membuang sampah ke sungai, juga rendah,” kata Kepala Bapedalda Kota Padang Indang Dewata, beberapa waktu lalu.

Intensitas penggunaan sungai untuk MCK, paling tinggi, ada di Kecamatan Padang Selatan. Sebanyak 4.312 kepala keluarga (KK) bermukim di sepanjang bantaran sungai. Menurut Indang, persoalan yang ada, sulitnya mengetahui volume limbah yang dibuang pabrik.  Bagi pabrik yang memiliki Surat Izin Tanda Usaha (SITU), penghitungan limbah dan penguraian limbah buangan cair cenderung mudah dilakukan.

Mungkin, saat ini masyarakat belum merasakan dampak menggunakan air tercemar untuk MCK. Tapi, lambat laun, dengan tingginya tingkat pencemaran, penyakit yang akan datang, akan lebih berbahaya. Contoh kecilnya, gatal-gatal dan penyakit kulit lainnya. “Tapi, tetap saja sungai akan kami gunakan untuk MCK. Di sini air gratis,” celetuk Maiyah, sembari menenteng embernya. Dia pulang, bersama dua bocah tak berbaju. (**)

Iklan