Lelaki Di Penghujung Malam

Perempuan itu benar!
Keji pun demikian!
Menghampakan pucuk rasamu!
Melunturkan pelepah semangat!
Kau Gugur!
Tertatih..
Keping..
Serakan!
Eh, Cinta..
Apa Kau!
Sebongkah batu kah?
Bermimpi permataKAH?
Atau Buta?

Perempuan itu kembali benar!
Pemuda Pemimpi itu salah!
Harapnya bisa melayang Di atap lazuardi..
Bertahta Di bahtera langit..
Menari Memakai selendang jingga..
Tak Tahu dia akan duri!
Tikam-Menikam.

Perempuan itu..
Sekali lagi Benar pada hati!
Pada pilihan..
Lelaki Di ujung mata..
Tapi sayang..
Dia tak tahu, Bumi pun tak sudi dipihaknya.
Bumi Tak sudi..
Langit Apalagi..
Muntah!
Bercumbu hati  usang!
Jijik!……………………………………………………

Nurani (MATI)

Bulan di atas ranjang lazuardi, telah bosan bermain kelam.
Pucat! Bulan memudar. Menghentak, Apakah Bulan Mati?
Malam Mati?
Jiwa Mati?
Nurani Mati?

Menetes….
air matanya Merenda Garis!
Merenda renjana, nan berkepak dengan sayap patah..
Tak Mati Seperti Malam, Jiwa dan Nurani!
Hampa Tanya Tak Bertuan!

Angin, Mega dan Laut Diam..
Kemudian Desah..
Rindu Tertikam dan Sunyi Mendekap!
Malam Lenguh Kelabu di sudut Kota samar terdengar hingar!

Penantian yang membuat teka-teki labirin kota.
lelaki itu menuju ke timur. Dia terjerat cinta.
Nafasnya memburu!
huruf demi huruf menyudut di sudut Kota Samar!
Tapi Malamnya Tak Mati!
Jiwanya Tak Mati!
Cuma Nuraninya yang Mati!
Lelaki itu berkepak sayap patah..
Berkepak benci dan perih..
Dan dia masih menyepi..
Iramanya mati..

(Puisi ini buat seorang kawan, nan cintanya terserak. Dia hancur, bersama pengkhianatan seorang perempuan, nan sudah menghuni hatinya selama dua tahun. Semoga Kau tegar sobat)..

———————————————

“BOCAH Bergelang Baja”

Mata bocah bergelang baja terbelalak..
Kepulan asap bajai tua telah mengotori retinanya..
Nyanyian sumbangnya hening..
Hingarnya pun tuli..
Bocah Persimpangan

Dia di hutan NASIB!
Mati..
lapar
nelangsa!
Hanya gitar, petikan!
Lalu sepenggal kepedulian..

Oh Kota, tak dinyana kejam-mu..
Teriak Bocah melolong..
Berteriak Hidup..
Menjual Sapu..
Menjual Iba..
Menjual Diri!
Mereka dimamah!
Siapa peduli!

Aku pun tak!

Wahai Surya, Serakah-kah dia!
Sombongkah Manusia di teras merah Nan kangkangi keagungan-NYA?
Siapa Serakah? Surya?
Adat?
Pemimpin?
Atau kita yang biarkan Bocah terbaring di atas sehelai Kain persegi empat BERLAMBANG BINTANG SEGITIGA?

Bocah itu terlelap..!

Kiamat..

————————————–

Tuan Potret di Teras Trotoar
Jangan Bertanya Kata Hati..
Sebab dia tuli Tuan!
Detak jantungnya terlalu keras menggema..
Peradaban menelannya!
Rintih Suara hati pun kalah!

Sesekali, Jangan lagi bertanya Tuan!
Hati-ku Batu..
Jelita potret-mu di persimpangan Tak melunak!
Batu Tuan!
Hasrat-mu Mungkin Babu!
Kacung-kacung Tersenyum
“Membuat Perubahan”
Akkhh.. Manis!

Baik saja kau remukkan tubuh ini!
Buang jauh ke bibir Puruih!
Bangga Kau nista itu Tuan?
Berserak Berlalu..
Lalu..
Cabik, lebur Di hantam Ombak..
Benci..
Kejujuran..
Aku Benci..
Mukadimahmu!

Kalau Kau hendak tahu kerasnya batu itu, wahai senyum di potres persimpangan..
Tanyakan pada bocah berseragam merah, nan gurunya stress karena gaji kecil..
Atau Tanyakan Kepada Mereka nan adat-nya Terbuang silau permata!
Menunggumu..
Serasa di ujung gelisah..
Perih..
Memar..
Bercampur busuk..
Mengerang, Lalu Hilang!
Lagu dansa tetap memilu di penghujung waktu nan menipis..”
Kau Wibawa Tuan Potret..
(Pucuk Malam Raden Saleh, Kota Padang)

“Empat Sajak ini Diterbitkan di-kaki Halaman SKANA Koran Harian POSMETRO PADANG, Edisi Minggu, 4 April 2010”

Iklan