Itulah teks es-em-es yang hinggap di telepon genggam saya, malam tadi. Saya baca berulang kali. Semakin dibaca semakin menyakitkan hati. Malam itu juga saya turun tangga mencari si pengirim pesan yang menyakitkan. Jumpa! Tak sulit mencari seseorang tengah malam dalam sebuah kota mati. Saya maki-maki dia. Saya katakan, slogan-slogan yang sudah ada jangan diubah-ubah, dipleset-plesetkan. Apalagi kalau slogan-slogan itu sudah dikukuhkan dengan berbagai eska.

”Kalau saya berteriak bahwa Kota Padang sekarang terlunta-lunta seperti seorang gadis yang diperkosa sekian laki-laki jahanam, kota yang semakin kotor, lalu lintas tak beraturan, pasar semakin sempit, apakah teriakan saya itu harus ditakut-takuti dengan memberikan ancaman kepada saya? Haruskah teriakan saya itu ditandingi dengan suara ratusan orang? Saya bicara kenyataan. Kenyataan yang kini sedang merundung seluruh warga kota yang waras!” jawabnya dengan tenang.

Lalu saya tanyakan lagi, apa maksudnya warga kota yang waras? Dijawabnya, warga yang mau mengerti dengan hak dan kewajibannya. Warga telah dengan patuh membayar pajak, iuran, dan semacamnya. Itu kewajibannya. Tapi haknya? Warga punya hak untuk berjalan tenteram di jalan raya, tidak terganggu dengan anak jalanan dan pengamen di setiap persimpangan. Warga harus dapat menaiki transpor kota dengan aman dan tidak terancam jiwanya ditabrak atau dicopet. Warga harus bersih telinganya dari bunyi bising suara loudspeaker di bus-bus kota. Warga harus punya taman bermain, punya tempat rekreasi anak-anak.
”Tapi es-em-es yang anda kirim sangat menyinggung perasaan saya,” kata saya. Lalu dijawabnya; ”Jika saya bicara tentang Kota Padang, apakah itu berarti saya berseberangan dengan anda? Apakah itu berarti saya menyinggung kebijaksanaan walikota anda? Ingat bung! Padang bukan milik wali kota, tetapi milik warganya. Saya adalah seorang warga yang lahir, hidup dan menetap di kota ini”.
”Apabila wali kota mengatakan bahwa Padang sekarang semakin maju dan semakin berkembang, punya reputasi nasional yang baik, banyak hadiah dan penghargaan telah diterima. Bukankah itu suatu kebenaran dan kenyataan yang ada?” tanya saya.
”Oke bung. Marilah kita berjalan kaki menyusuri kota ini. Jika perlu bawa walikotamu itu. Kita mulai memasuki Pasar Raya. Apa yang anda alami? Mari kita naik angkot? Penderitaan apa yang anda rasakan? Bisakah anda mencari wese yang tidak kotor dan bau, jika anda mau kencing? Bung pernah sembahyang di Masjid Taqwa belum? Sembahyanglah di sana. Nikmati bunyi gaduh suara klakson angkot yang sengaja dibunyikan keras-keras. Sekarang di samping SMA I Simpang Kandang, suara angkot mulai mengganggu anak-anak yang sedang belajar. SMA itu harus dipindahkan ke tempat lain, namun karena mereka dan para alumni SMA itu ngotot dan tetap bertahan, terpaksa dibuat ketidaknyaman lebih dulu. Jika Bung ke Bukittinggi atau Payakumbuh, tahu bung di mana harus naik bus?”
”Lalu, kenapa dalam es-em-es kau itu ditulis – kujugal dan kujual?” tanya saya lagi. Lalu dijawabnya dengan senyum meringis. ”O, ketika warga kota akan menyampaikan hasrat hatinya, mereka langsung dijegal. Disiapkan orang-orang tandingan, sehingga apa yang diinginkan masyarakat itu sirna. Terminal yang sudah sekian tahun berdiri percuma, yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk sebuah terminal yang bagus, kini dijadikan kantor Balai Kota. Lalu, bagaimana dengan terminal? Tetap saja tidak ada.”
”Bagaimana dengan plaza dan Sentral Pasar Raya?” tanya saya lagi. Jawabnya; ”Itulah yang sudah dijual. Dijual pada investor, sehingga tidak satupun pedagang menengah ke bawah dapat memilikinya”.
”Ah, kau sengaja mengkritisi Kota Padang karena kau sedang mencari popularitas. Ya kan?” tuduh saya.
”Popularitas? Aku bicara tentang kenyataan yang sedang dialami warga kota ini. Kau tuduh aku mencari popularitas. Apa memang begitu sikap kita ketika menghadapi kritikan dan usulan perbaikan dari warga kota? Ah, jangan suka membelok-belokan persoalan Bung. Sikap anda yang demikianlah yang akan membunuh kota ini. Beberapa waktu lagi, kota ini akan jadi kota mati.” (*)

Tulisan ini terbit di POSMETRO PADANG, edisi 23 Januari 2010. Penulis adalah Wisran Hadi. Lahir di Padang, Sumatera Barat, 27 Juli 1945, Wisran Hadi adalah salah satu seniman/budayawan yang memenangkan penghargaan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia dan beberapa penghargaan dari luar negeri, seperti dari Thailand. Penulis prosa berdarah Minang ini adalah salah satu seniman yang konsisten berkarya hingga hari tuanya.

Wisran pernah menulis kumpulan naskah drama berjudul Empat Orang Melayu berisi empat naskah drama: ”Senandung Semenanjung”, ”Dara Jingga”, ”Gading Cempaka”, dan ”Cindua Mato” (yang membuatnya mendapat penghargaan South East Asia (SEA) Write Award 2000.

Novelnya yang pernah dibukukan antara lain berjudul Tamu, Imam, Empat Sandiwara Orang Melayu, dan Simpang. Cerpen-cerpennya kerap dipublikasikan di media cetak dan dibukukan penerbit Malaysia berjudul Daun-daun Mahoni Gugur Lagi.

Tamatan Akademi Seni Rupa Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) Yogyakarta, 12 naskah dramanya pernah memenangkan Sayembara Penulisan Naskah Sandiwara Indonesia yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dari 1976 hingga 1998, ikut International Writing Program di Iowa University, Iowa, Amerika Serikat pada tahun 1977 dan pernah mengikuti observasi teater modern Amerika pada tahun 1978 dan teater Jepang pada tahun 1987. Dia juga pernah mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud karena karya buku dramanya Jalan Lurus mendapat Hadiah Sastra 1991 dari Pusat Pengembangan Bahasa Depdikbud dan dijadikan buku drama terbaik pada Pertemuan Sastrawan Nusantara 1997.

Iklan