Masih Ku ingat, Ketika Dahlan Iskan (CEO  Jawa Pos) ‘Mendamprat” PLN yang dianggap banyak kalangan (termasuk Saya) tak bisa menjaga kestabilitasan Listrik Di Tanah Air. Hampir diseluruh Media yang bernaung di Bawah Jawa Pos mengekpos tulisan Pak Dahlan di Halaman depan..!! Pemikiran serasa terbuka membaca tulisan Pahk Dahlan. Bahkan jujur, aku pun mulai mendamprat PLN setelah membaca tulisannya. Tapi, 23 Desember kemarin, Aku tergugu, suapan nasi-ku terhenti. Di balik layar TV ku lihat Menteri BUMN Mustafa Abubakar melantik Dahlan Iskan sebagai Direktur Utama PT PLN (Persero). Kepala-ku Pening. “Listrik Mati di lumbung kembali terbayang. Akh, Kini, Sang Raja Media memangku Jabatan Sebagai Direktur PLN..!! Luar Biasa. ‘Dampratan” yang ditelorkannya selama ini berubah jadi beban. Ya, Pak Dahlan harus bertanggungjawab untuk ke depannya terhadap kelistrikan Negara ini. Ke depannya Pak, Jangan sampai LISTRIK MATI DI LUMBUNG LAGI..!! Buktikan!!

Sekarang Bapak seorang Pemegang kendali. Baik buruknya PLN ada di tangan Bapak. Tergantung bapak pula mau memilih dayung apa untuk menakhodai PLN yang bejibun masalah. Tak usahlah jauh-jauh bapak lihat ke Kalimantan sana. Dekatkan sajalah sedikit telinga bapak ke Ranah Minang ini, Ranah yang listriknya mati seperti minum obat (3 kali sehari). Lamanya pun ber-jam-jam. Ha.. Ha.. Ha.

Padahal, Sumbar (Ranah Minang) punya  sekitar 60 titik air yang potensial dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Sumatera Barat. Pembangunan pembangkit pun sangat mendesak karena Sumatera Barat selalu kekurangan listrik. Tak jauh beda, Listrik itu pun mati di lumbungnya. Ironisnya,  Sementara satu pembangkit di PLTU Ombilin rusak setelah gempa yang terjadi pertengahan Agustus lalu. Penambahan PLTU di Teluk Sirih dengan kapasitas 2 x 100 megawatt masih membutuhkan waktu dua tahun lagi.

Bahkan, Mendagri Gamawan Fauzi  yang dulunya masih Gubernur Sumbar pernah menegaskan, kalau Sumbar “harus” membutuhkan investor untuk membangun pembangkit listrik berkapasitas antara 10 megawatt sampai 20 megawatt. Pembangunan pembangkit baru diharapkan bisa mengatasi defisit listrik yang terus terjadi hingga kini. Investasi yang dibutuhkan untuk membangun satu pembangkit berkapasitas 10 megawatt mencapai Rp 90 miliar, dan Rp 200 miliar untuk pembangkit berkapasitas 20 megawatt.

Inilah permasalahan, Pasca gempa, tentu saja Sumbar butuh banyak hal untuk bangkit. Salah satu pendorongnya adalah tersedianya  listrik (tentunya tak lagi mati  tiga kali sehari). Kalau tidak, bagaimana Sumbar akan bangkit? Investror pun mungkin tak mau menoleh.

Sekali lagi, Buktikan Pak Dahlan. Celotehan-mu tentang Byar Pet listrik sangat menggugah. Bahkan sampai-sampai aku-pun mendamprat PLN! (Sekarang dampratan itu terpaksa aku sembunyikan jauh-jauh karena aku tak sudi mendamprat PLN yang sekarang dipimpin (maaf), seorang yang dulu sama-sama ‘mendamprat’ PLN ..  Ha.. ha.. ha..)Semoga Bapak bisa mengembalikan ‘birahi’ dan kepercayaan ini. (wasalam)

(Tulisan Nan Menggugah itu)…..
—————————- Listrik Mati di Lumbung ——————————–

(In Catatan Dahlan Iskan on 19 November 2009 at 7:00 am Kamis, 19 November 2009.)

Listrik Mati di Lumbung Ayam mati di lumbung bukan lagi kiasan untuk menggambarkan kelistrikan di Indonesia. Di Pulau Kalimantan yang kaya-raya akan batubara, hampir seluruh kotanya krisis listrik dengan sangat gawat. Bukan sejak sebulan yang lalu, tapi sudah 10 tahun atau 20 tahun lamanya. Kota seperti (deretan nama-nama kota ini anggap saja pelajaran baru ilmu bumi): Pontianak, Singkawang, Sanggau, Ketapang, Pangkalanbun, Sampit, Palangkaraya, Samarida, Balikpapan, Penajam, Tanahgrogot, Bontang, Sengata, Tanjungredep, Tanjungselor, Tarakan, sampai ke kota penting di dekat negara tetangga seperti Nunukan dan Tanatidung bukan main menderitanya.

Tidak terhitung lagi orang yang kehilangan rumah karena lampu mati. Mereka menyalakan lilin, ketiduran, lantas rumah yang umumnya terbuat dari kayu terbakar. Kisah pilu seperti itu menjadi berita koran lokal yang tidak habis-habisnya. Kebetulan, saya memiliki koran di semua kota yang disebut terdahulu itu dan yang akan disebut kemudian. Lalu, generasi masa depan macam apa yang akan tercipta dengan kondisi listrik seperti itu? Belum lagi penderitaan para investor. Mencari investor yang mau masuk ke daerah-darah itu bukan main sulitnya. Investor rasional pasti langsung mengabaikan daerah-daerah itu. Tapi, begitu ada investor yang ?emosional? (biasanya ada hubungan darah dengan salah satu daerah tersebut seperti saya), kekecewaanlah yang diberikan oleh PLN. Banyak investor hotel-hotel bagus menderita karena listriknya mati-mati terus. Banyak investor perumahan yang rumahnya sudah siap tapi listriknya tidak ada. Itu bukan cerita satu bulan yang lalu.

Cerita duka tersebut sudah terjadi sejak lebih dari 10 tahun yang lalu. Atau sejak 20 tahun silam. Sampai hari ini. Tetangga dekat Kaltim di Sulawesi seperti Mamuju, Palu, Poso, Luwuk, Gorontalo, Tolitoli, Kendari, dan bahkan Makasar pun kurang lebih juga sama. Padahal, membawa batubara yang murah dari Kaltim ke Palu hanya perlu menyeberang satu malam. Saya tidak perlu lagi menyebut kota seperti Tanjungpinang di Riau, Pangkal Pinang di Bangka, Tanjungpandan di Belitung. Belum juga menyebut Ambon, Lombok, Kupang, Flores, Ternate, Sorong, Jayapura, Merauke?. Pokoknya, sebutlah nama kota di mana saja di luar Jawa. Lebih mudah menyebut yang krisis listrik daripada yang tidak. Kesabaran para gubernur seperti gubernur Kaltim, gubernur Kalteng, dan gubernur Kalbar sudah habis karena terus-menerus didemo rakyatnya. Juga gubernur di wilayah lain tadi. Tapi, para gubernur itu hanya bisa meneruskan suara pendemo itu ke PLN. Sebab, hanya PLN yang diberi hak untuk memiliki dan mengelola listrik di seluruh Indonesia nan luas ini.

Tapi, suara pendemo itu datang dari tempat yang terlalu jauh dilihat dari kantor pusat PLN nun di Jakarta sana. Begitu kaya Kalimantan akan batubara. Tapi, mayoritas pembangkit listrik di kawasan tadi menggunakan disel. Maka, PLTD (pembangkit listrik tenaga diesel) menjadi raja di sana. Raja yang haus uang, tapi lembek tenaga. Haus uang karena menghabiskan uang negara. Lembek karena lemah sekali tenaga listrik yang dihasilkannya. Padahal, wilayah itu begitu kaya akan batubara. Kaya-raya. Superkaya. Tapi, kekayaan itu tidak membawa berkah ke diri sendiri. Batubara itu mengalir ke India, Thailand, Tiongkok, Jepang, bahkan sampai ke Eropa dan Amerika. Ibarat lagu Gesang, “batubara Kaltim itu mengalir sampai jaaaaauuuuuh”. Sampai membuat wilayah Kalimantan dan Sulawesi sendiri terlupakan.

Kalau saja ada pikiran sehat untuk mengubah wilayah itu, betapa gembiranya rakyat di seluruh kawasan tersebut. Mengapa kita yang begitu kaya batubara tidak mampu memanfaatkannya untuk membuat rakyatnya sendiri tersenyum. Memang pernah dicoba untuk mengatasinya. PLN mengadakan tender pembangunan PLTU di beberapa wilayah yang disebut tadi. PLN juga sudah menyatakan berpuluh-puluh investor sebagai pemenang tendernya. Kalau saja semua berjalan baik, hari ini wilayah-wilayah tersebut sudah mulai sedikit terang. Tapi, sampai hari ini, sudah tiga tahun kemudian, tidak satu pun para pemenang tender itu menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan, sebagian besar belum memulainya sama sekali. Sebagian lagi menghentikannya.

Ada persoalan kecerdasan mendasar dan kejujuran yang kurang ditegakkan di sini. Sistem tender itu harus diubah total. Direformasi habis-habisan. Padahal, kalau PLTD-PLTD itu diubah semua menjadi PLTU kecil dan menengah, bukan saja rakyat di wilayah itu bisa tersenyum, menteri keuangan yang cantik itu pun akan ikut tersenyum. Negara bisa berhemat paling sedikit Rp 20 triliun setahun. Baca: Rp 20.000.000.000.000/setahun. Dan lagi, kalau wilayah-wilayah itu punya listrik, investor berdatangan ke sana. Penghasilan pajak juga naik. Tenaga kerja akan mengalir ke sana: tidak perlu lagi ada dana transmigrasi! Pandai benar orang yang menciptakan peribahasa ?ayam mati di lumbung? itu. Dia berhak berbangga karena ada contoh yang pas untuk membuktikannya: listrik kita!

Iya Pak, itu Listrik Kita… Semoga Kita semua menikmati… (Sekali Lagi, tulisan ini seakan mengajarkan aku sesuatu)..

Iklan