Akkhh.. Terlalu Berat Melepas Kepergian-mu. Tapak jejak nan kau tinggal terlalu penting. Sebuah pengorbananmu untuk negeri ini, terbayar lunas dengan “caci” maki, para wakil rakyat, nan suka kayak anak kecil, nan sering ngambek saat kau datang. Kau pergi bu, dengan kasus yang tak sempat utuh kau ungkap. Padahal, di sudut-sudut kota ini, kami masih berharap, tangan-mu, untuk membersihkan Negeri ini. Dari setan, dajjal, dan pemamah uang kita (bangsa Indonesia). Selamat Jalan bu, Ketika kau tak dihargai di negeri sendiri, BANK DUNIA, yang membawahi 74 negara, malah menghargai-mu sebagai perempuan berotak brilian.. Negeri ini lucu bu, mereka tak sudi, ada nan brilian seperti-mu mengurus-nya. Habibie, mungkin sama dengan nasib-mu..

Akhirnya, Bunda Sri Mulyani memilih “menyerah” pada politik, yang memang menginginkannya pergi. Tekanan yang berat membuat-mu berpaling. Pansus Century, itulah yang “membunuh” eksitensimu, demi menyelamatkan uang negara. Tapi, kau pergi dengan wajah tegak, kau dihargai! Bank Dunia yang menunggu lekat tangan-mu sebagai managing director.Tangan-mu yang dianggap “orang-orang pintar di gedung rakyat”, bernoda CENTURY, kini akan memilin-milin permasalahan dunia. Tak lagi permasalahan negeri lucu ini!

Jika ada reward untuk permepuan tertegar di Indonesia ini. Aku 100 persen mendukung, penghargaan itu diberikan pada-mu. Beratus ahri yang lalu, kau selalu terhimpit kepentingan orang-orang nan ENTAH APA! Tapi, kau tegar, dan selalu menerobos ‘gerombolan’ nan lari saat kau datang. Entah siapa yang pengecut! Mereka berpaling muka, saat kau datang, dalam rapat paripurna DPR, yang mengagendakan pengesahan RAPBN-P Tahu 2010.
Dua partai yang tak ikut koalisi memenangkan SBY-Boediono pada pilpres yang lalu lah, yang menolak kedatangnmu. Si Moncong Putih, yang diketuai perempuan, sama sepertimu, dan partai yang mengedepankan hati jurani. Dua itulah yang walk-out ketika kau datang.  Kedua utusan partai itu berasumsi, kau yang pernah menjabat sebagai Ketua Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), bertanggung jawab atas kasus CENTURY, yang katanya membuat negara rugi Rp6,7 triliun.

Yang menarik dicermati adalah mengapa SBY tampak begitu cepat menyetujui penunjukan Sri Mulyani sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia?

Harus diakui, mundurnya Sri Mulyani dari posisi Menkeu sedikit-banyak akan mencairkan kembali hubungan pemerintah dengan DPR. Adalah sangat mengganggu sekali apabila setiap saat Menkeu rapat kerja dengan DPR, sebagian legislator melancarkan walk out. Bukan saja menguras energi politik, tetapi pemerintahan SBY seperti berada dalam sandera tak berkesudahan.

Pertanyaannya, adakah ‘pengorbanan’ Sri Mulyani tersebut bakal berbuah rekonsiliasi, terutama terhadap partai politik mitra koalisi pendukung SBY-Boediono yang dalam Pansus Century memilih berseberangan langkah dengan pemerintah-yaitu Partai Golkar dan PKS, juga mungkin PPP?

Jika jawabannya ‘ya’, sembari kembali menata hubungan dengan sejumlah elite partai mitra koalisi pendukung pemerintahannya, SBY berkesempatan merekalkulasi dan merevisi kontrak politik seraya meminta komitmen baru untuk mendukung penuh pemerintahannya hingga 2014. Dengan demikian, ada jaminan sisa perjalanan pemerintahannya relatif tanpa gangguan berarti.

Atau yang terjadi sebaliknya. ‘Pengorbanan’ Sri Mulyani itu akan disikapi SBY dengan langkah drastis. Melakukan reshuffle kabinet dan menata ulang koalisi partai pendukung pemerintah.

Artinya, sejumlah menteri dari partai yang ‘berkhianat’ dalam Pansus Century digusur, dan kalau perlu mengeluarkan partai itu dari koalisi. Mungkinkah ini terjadi? Pilihan ada di tangan SBY.

Satu hal pasti, rencana hijrah Sri Mulyani ke Washington DC niscaya memberi makna besar untuk memecah kebuntuan politik. Langkahnya untuk berkarier di Bank Dunia telah menjadi solusi, paling sedikit untuk dirinya. (tomy.sasangka@bisnis.co.id)

HATI kecil saya masih berharap mudah-mudahan hasil pemeriksaan investigasi Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) atas kasus Bank Century itu tidak seluruhnya benar. Sebab, kalau memang tidak ada yang salah, akibatnya akan sangat dramatis: kita bisa kehilangan menteri keuangan yang sangat kita banggakan. Seorang menteri, Sri Mulyani, yang reputasinya begitu hebat. Baik di dunia internasional maupun dalam mengendalikan keuangan negara. Secara internasional dia terpilih sebagai menteri keuangan terbaik di dunia dua tahun berturut-turut. Di dalam negeri dia dikenal sebagai menteri pertama yang berani mereformasi birokrasi di departemennya. Juga menteri yang sangat ketat mengendalikan anggaran negara. Bahkan, dialah satu-satunya menteri yang berani minta berhenti ketika ada gelagat pemerintah akan membela seorang konglomerat yang dia anggap tidak seharusnya dibela”…

Perginya Sri Mulyani, adalah kepergian hati! Selamat kepada sekelumit anggota DPR-RI yang telah berhasil mengusir Bunda-ku dari negeri ini. Selamat! Sekarang, carilah oleh kalian orang nan bisa seperti Bunda! Ku Yakin, tak akan didapat! Negeri yang Aneh, dengan “pahlawan-pahlawan” nan aneh pula! Aku salut!

Padahal, dulunya, Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada yang tiba-tiba mengatakan: kesimpulan BPK itu diperoleh dengan cara kerja yang kurang benar. Maka kita tidak akan kehilangan menteri keuangan yang pandainya bukan main itu. Pandai dalam ilmunya, pandai dalam menjelaskan pikirannya, dan pintar bersilat kata. Saya melihat kecepatan berpikirnya sama dengan kecepatan bicaranya. Kalau lagi melihat cara dia mengemukakan pikiran, seolah-olah otak dan bibirnya berada di tempat yang sama.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang tiba-tiba menemukan data bahwa BPK telah salah ketik. Maka, kita tidak akan kehilangan menteri yang mampu rapat dua hari dua malam nonstop untuk menyelamatkan keuangan negara. Rapat itu tidak boleh berhenti karena lengah sedikit berakibat pada kebangkrutan ekonomi nasional. Rapat itu tentu melelahkan karena angka-angkalah yang akan terus berseliweran. Angka-angka yang rumit: kurs, suku bunga, devisa, likuiditas, rush, neraca perdagangan, stimulus, dan seterusnya. Angka-angka itu saling bertentangan, tapi menteri tidak boleh memilih salah satunya. Dia harus membuat keputusan yang harus memenangkan semua angka yang saling merugikan itu. Padahal, dia baru saja tiba dari Washington, AS, untuk berbicara di forum KTT G-20 yang amat penting itu. Di Washington dia tahu bahayanya ekonomi dunia. Tapi, dia mampu memikirkan keuangan internasional sekaligus keuangan nasional dalam waktu yang sama di belahan dunia yang berbeda. Dia harus menghadiri KTT G-20 di Washington saat itu (kebetulan saya ikut di rombongan itu) saat rupiah tiba-tiba melonjak menjadi Rp 12.000 per dolar AS. Dia harus tampil cool di forum dunia yang Singapura pun tidak boleh ikut di dalamnya itu, sambil tegang bagaimana harus mengendalikan rupiah yang sudah membuat warga negara Indonesia panik semuanya. Dialah menteri yang datang ke Washington hanya untuk mengemukakan pikiran briliannya dan harus langsung kembali ke tanah air pada hari yang sama untuk mencurahkan perhatian pada ekonomi yang hampir bangkrut itu.

Hati kecil saya masih berharap, mudah-mudahan ada orang yang mengatakan bukan dia yang harus bertanggung jawab. Tapi, ada pihak lainlah yang harus mendapat hukuman. Kalau tidak, kita akan kehilangan seorang menteri yang di saat ibu kandungnya, Prof Dr Retno Sriningsih Satmoko, sedang sakit keras menjelang ajalnya, dia tidak bisa menengok sekejap pun. Dia memilih mencurahkan segala pikiran, tenaga, dan emosinya untuk menyelamatkan ekonomi bangsa ini. Dia tidak bisa menjenguk ibu kandungnya yang jaraknya hanya 45 menit penerbangan di Semarang sana. Dia harus mencucurkan air mata untuk dua kesedihan sekaligus: kesedihan karena ibundanya berada di detik-detik akhir hidupnya dan kesedihan melihat negara dalam bibir kehancuran ekonomi. Dua-duanya tidak bisa ditinggal sedetik pun. Rupiah lagi terus bergerak hancur dan detak jantung ibunya juga lagi terus melemah. Dan, Sri Mulyani memilih menunggui rupiah demi nyawa jutaan orang Indonesia.

Maka hati kecil saya masih berharap ada data di kemudian hari, bahwa kebijaksanaan itu sendiri tidak salah. Sebab, sebuah kebijaksanaan bisa diperdebatkan salah-benarnya. Saya masih berharap yang salah itu dalam pelaksanaan kebijaksanaannya. Yakni, saat mendistribusikan uangnya yang Rp 6,7 triliun itu. Dan saya sangat-sangat yakin, dia tidak mendapatkan bagian serupiah pun. Maka saya sangat bersedih karena sampai hari ini belum ada satu pihak pun yang berhasil mengatakan bahwa hasil pemeriksaan BPK itu salah. Belum ada yang membantah bahwa hasil pemeriksaan BPK itu keliru. Semua masih mengatakan, hasil pemeriksaan BPK itu menunjukkan bahwa dia bersalah dalam mengambil keputusan. Dan hukum harus ditegakkan.

Tapi, harapan tinggallah harapan. Ibu telah pergi…

SELAMAT JALAN BUNDA..

Negeri ANEH ini tak cocok Untuk-mu nan Terlalu Pintar! (**)

Iklan