menerLelaki tua berkopiah putih berjalan membungkuk di halaman sebuah rumah bernomor 50, Kampuang Melayu, Kelurahan Olo, Kecamatan Nanggalo. Bernama Mener (82), lelaki tua itu berperawakan kecil. Tubuhnya ringkih, nafas tersengal-sengal. Kerapuhan terlihat jelas dari caranya berjalan. Namun siapa sangka, di balik keringgikan-nya, Mener muda dulunya adalah mantan pengawal Syafruddin Prawiranegara (Presiden PRRI yang berbasis di Koto Tinggi, Kabupaten Limopuluah Kota). Banyak kisah heroik yang dilewati bekas tentara Barisan Keamanan Rakyat (BKR) itu, tapi tak ada yang tahu, Mener seolah ditinggalkan sejarah. Untuk hidup, dia hanya mengandalkan santunan veteran yang diterima sekali sebulan.

“Saya pernah ditembaki belanda dari jarak dekat. Bau mesiu menyengat, letup bedil tak henti-henti. Tiarap di balik semak pinggir Batang Kuranji, hanya itu yang bisa dilakukan. Belanda pergi, saya berdiri. Memang tak ada yang luka, tapi baju saya sudah bolong-bolong diterjang timah panas. Percikan mesiu tinggal di kulit. Tapi seorang teman saya mati. Perutnya ditembus peluru,”tutur Mener. Keningnya berlipat-lipat mengingat kembali kejadian yang pernah dilewatinya.

Lahir di Kota Padang tahun 1927, Mener kecil hanya mengenyam pendidikan di sekolah darurat (setara paket A). Dia hanya pandai tulis baca waktu itu. Masa kecil dilaluinya dengan tragis, mayat bergelimpangan sudah jdi tontonan biasanya. “Banyak yang mati sia-sia. Hati saya tergerak untuk berjuang mengusir penjajah. Tak ada niat lain waktu itu selain ikut ke medan tempur. Bangga sekali rasanya kalau berada dalam barisan tentara. Apalagi waktu mencegat mobil belanda yang melewati jalan Kampung melayu ini,” kata Mener. Giginya masih utuh.

Lepas 1945, Jepang masuk, Mener “diculik” untuk jadi romusha di Loge (daerah Riau). Dia dipaksa membuat rel kereta api. Tak terhitung deraan yang diterima. Mener tak bisa melawan. Jepang berkuasa. Bahkan dia pernah tak dikasih makan sehari penuh. “Pahit sekali rasanya. Harga diri terinjak. Pas pendudukan Jepang, kehidupan lebih parah. Karung beras dijadikan baju. Makan tak menentu,” ucap Mener yang menikah tahun 1951. Bersama Hakima -istrinya- Mener dikaruniai 16 orang anak.

Jadi anggota BKR, Mener melanglang buana, merajai hutan ranah minang untuk bergerylia. Tak terhitung lagi kontak senjata yang dilakoninya. Satu per satu kawannya ambruk, tapi Munir tetap bertahan, tap satu pun peluru penjajah yang menembus kulitnya. Mener juga pernah menjaga pos Anduriang yang jadi perbatasan wilayah Belanda-Indonesia (sesuai perjanjian Linggarjati, Belanda hanya menguasai Padang Kota). “Menjaga perbatasan itu tantangan berat, musuh bisa saja menyerang dari arah mana pun. Kantuk terpaksa ditahan. Lapar sudah jadi kawan. Ubi jalar bahkan sudah sangat mewah waktu itu,” tutur Mener.

Setelah perang kemerdekaan usai, KBR dibubarkan dan berganti nama jadi Tentara Rakyat Indonesia, Mener dikasih nomor registrasi 195183. Pada awal tahun 1958, PRRI berdiri akibat ketidakpuasan terhadap pemerintah karena ketimpangan-ketimpangan sosial yang terjadi semakin menguat. Mener pun ikut berjuang, melawan ketidak setaraan itu. Di bawah pimpinan Syafruddin Prawiranegara, Mener menahan gencarnya serangan tentara pusat yang mendapat intruksi untuk menghapuskan PRRI.

“Saya mengawal pak Syaf (Syafruddin Prawiranegara) saat di Payakumbuh. Dia orangnya gigih dan tak mau adanya ketimpangan di nusantara ini. Kami memberontak. Tentara Pusat menggila, menembaki prajurit PRRI.  Waktu itu rasa persaudaraan putus. Tentara pusat sangat beringas. Tapi kami melawan ketimpangan. Berpantang menyerah. Bung Hatta juga mendukung dan pernah memberikan nasehat ketika di lapangan Paliko, Payokumbuah,” lanjut Mener sembari menyeruput air putih.

Ketika POSMETRO menanyakan pandangan Mener terhadap Indonesia kekinian, dia malah menangis. Air matanya jatuh tanpa ditahan. Tubuhnya menggigil. Rahangnya bergerak-gerak seperti menahan marah. Tiba-tiba suaranya meninggi. “Apa semua ini. Indonesia bobrok! Pemerintah sudah melanggar sumpah! Perjuangan kami serasa tersia menyaksikan generasi penerus yang seakan tak bertanggungjawab! Tak ini yang kami harapkjan waktu berjuang dulu. Saya mengutuk birokrat bobrok!” tandas Mener. Beberapa kali dia menghela nafas penjang menahan marah.

Mener yang mengantongi Lencana Cikal Bakal TNI tahun 1998 dari mantan Presiden Soharto mengaku pantas kesal. Sebagai orang yang pernah merasakan pahitnya perjuangan melawan penjajah, bathinnya teriris. Ada yang salah katanya dari Pemerintahan, hukum dan nasionalisme tak berarah.Mener meradang. Dia hanya tertunduk lesu. Azan Azhar bergema, Mener bergegas. Marahnya mereda, seiring lantunan azan, sebaris senyum tersungging saat koran ini pamit.

Mener mungkin tak segagah Tan Malaka, tak pula setenar Buya Hamka, tapi apa yang pernah dilakukannya mungkin tak ada dua. Dia berjuang tanpa imbalan, tanpa hasrat untuk memperkaya diri. Mener layak jadi contoh bagi “pejuang” Indonesia setelah kemerdekaan. Saat ini, angkatan Mener hanya bersisa lima orang. Selebihnya sudah wafat. Pantas kiranya penghormatan di Hari Pahlawan yang jatuh hari ini diberikan kepada Mener, si ceking yang pantang menyerah demi Indonesia!(**)

Iklan