Bujang GePe, Pengemis Berusia 72 Tahun di Cumanak29 Oktober 2009 – Cumanak, Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan. Belasan warga terlihat berdiri di pinggir jalan sambil menenteng kardus bekas. Mereka berharap belas kasihan dari orang-orang yang datang menyaksikan negeri mereka yang sudah rata dengan tanah. Pecahan uang Rp.1.000 berserakan di dalam kardus bekas yang mereka tenteng. Tak hanya bocah, warga berusia di atas 70 tahun pun ikut menenteng kardus bekas! Latar apakah yang memaksa tua renta harus turun ke jalan untuk menadahkan tangan?

BENNY OKVA —– PARIAMAN

Himbauan Pemerintah Kabupaten Pariaman agar warga korban gempa tak mengemis atau meminta sumbangan tak diindahkan. Sepanjang jalan menuju Paraman Warga tertua yang meminta “sumbangan” bernama Buyuang Gepe. Umurnya sudah 72 tahun. Buyuang berkulit hitam, badannya kurus. Untuk berjalan saja, Buyuang yang bekas tentara Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) harus dibantu tongkat. Mata Buyuang pun tak terlalu tajam, dia hanya bisa melihat jelas dengan jarak 1 meter, lepas dari jarak itu, pemandangannya kabur. Buyuang yang sebenarnya adalah rang sumando di Cumanak adalah satu dari ratusan korban gempa lainnya.

Rumah kayu yang dibangun sejak tahun 1965 telah rata dengan tanah. Istrinya, Sinur (64) hilang, termasuk dua orang anak Fahwan dan Deli. Beruntung Buyuang selamat, dipapah anak bungsunya bernama Shanti (18) , Buyuang berhasil lepas dari kejaran maut.

Jika ditanya hati kecilnya, Buyuang mengaku malu jadi peminta sumbangan. Sejak muda, dia terbiasa bekerja. Jarang sekali dia hidup dari pemberian seseorang. Di hari tuanya pun Buyuang tetap bekerja. Beberapa petak sawah ada ditangannya. Sawah itulah yang menghidupinya selama bertahun-tahun. Kalau pun ada yang memberi, itu adalah anak atau kemenakannya. Buyuang malu jadi peminta, namun dengan kondisi tak memiliki apa pun, malu ditelan, Buyuang berangkat dari Kampuang Paneh yang jadi tempat pengungsiannya ke Cumanak. Tujuannya, ya minta sumbangan.

Awalnya Buyuang terlihat malu, kardus diletakkannya jauh-jauh dari tempatnya berdiri. Berlainan betul dengan peminta sumbangan lainnya yang sengaja mengulurkan tangan kepada setiap orang lewat. Barulah, ketika ada satu dua orang yang melemparkan uang ke kardusnya Buyuang Beringsut. Kardus diletakkan begitu saja di tanah, dia duduk di atas pematang drainase yang sudah dibeton. Tas hitam yang berisi pakaian serta kopiah juga dibiarkan tergeletak. Setiap orang lewat, Buyuang tak berani mengangkt mukanya. Dia hanya tertunduk.

“Saya malu nak. Tak biasa seperti ini. Dulu pantang benar di kasih orang untuk menyambung hidup. Saya terbiasa bekerja keras. Melanglang buana ke sana-sini untuk bekerja. Barulah tahun 1965 menetap di sini (Cumanak). Istri saya orang sini. Mungkin kalau gempa tak menimbun persedian uang saya untuk hidup, saya tak akan

meminta-minta. Namun mau apa lagi? Semuanya habis, sawah pun tertimbun. Jika terkumpul, uang ini untuk membeli bahan buat membangun rumah. Bantuan

Pemerintah, entah kapan sampai di tangan. Masih belum jelas nak. Tolonglah katakan pada Pemerintah itu. Makanan sudah cukup, tinggal rumah lagi. Tak kuat tidur di

tenda,” harap Buyuang seakan memelas.

Selain Buyuang, belasan warga lainnya juga melakukan hal yang sama. Tak adanya uang untuk membeli bahan bangunan rumah jadi alasan. “Hanya tinggal bahan. Soalt

tenaga tak masalah. Masyarakat akan bergotongroyong untuk membangunnya. Sampai saat ini hanya makanan yang baru sampai, material bangunan belum. Jika bantuan

ada, mohon kucurkan segera. Kami butuh rumah,” ucap salah seorang ibu-ibu yang juga meletakkan kardus bekas di depan rumahnya. Sedangkan anak-anak mengaku

mengemis karena disuruh orang tuanya.

Padahal, Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman melarang keras warganya meminta sumbangan di tepi jalan. Larangan itu tertuang dalam surat edaran yang

disebarkan ke tengah masyarakat. Namun, sebagian masyarakat tak peduli. “Jauh-jauh hari sudah dilarang. Warga tak boleh meminta-minta, apa lagi di lokasi longsor.

Tapi masih banyak yang melakukannya,” tutur Walinagari Tandikek Drs Azas Budi kepada koran ini kemarin, Kamis (29/10) di kantornya. Kata Azas, saat ini Pemerintah

sudah melakukan rapat kordinasi yang membahas masalah bantuan pembangunan rumah.

Sedangkan Byuang, selama berpincang, mata Buyuang tak lepas-lepas dari hamparan tanah kuning yang notebanenya adalah tempatnya menetap sejak tahun 1965.

Buyuang terdiam. Tagannya menunjuk-nunjuk. ” Di sana, tepat di kaki Gunuang Tigo itu rumah saya. Sekarang tak tampak lagi, atapnya pun tak bertemu. Bersama rumah,

anak dan istri saya terkubur. Hanya seorang anak saya yang selamat. Namanya Shanti dia lah yang menyeret-nyeret tubuh ringkih ini menjauh dari longsor. Pandangan

saya kabur, hanya suara bergemuruh serta pekikan orang yang terdengar. Selebihnya hanya putih yang terlihat. Saya tak tahu kemana. Shanti terus menyeret. Kaki

terbentur batu, jatuh ke sungai jadi derita. Sampai di balik sungai, lalu keadaan Cumanak sunyi sesaat dan istri saya hilang,” tutur Buyuang menceritakan kembali tragedi

longsor tangal 30 September yang lalu. Perlahan dia mengambil kardus bekasnya dan meletakkannya di sebalah kiri Buyuang berjalan ke arah tempat berlindung karena

panas mulai menggigit.(***)

Iklan