anak-anak cumanak

Alvi Hikmah Surya tampak lahap memakan nasi yang hanya berlauk kentang di tenda pengungsian Kapalo Koto Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan Padang Pariaman. Peluh bercucuran dari kening bocah berusia delapan tahun itu. Alvi adalah satu dari puluhan anak Cumanak yang terpaksa jadi Yatim karena orang tuanya tewas. Ayah, adik dan ibunya bernama Eti (35) yang sedang hamil delapan bulan tewas ditimbun longsor. Saat ditemukan, seluruh keluarga Alvi sedang berpelukan. Dia mengalami trauma yang mendalam.

Saat makan, Alvi hanya ditemani pamannya bernama Wan (40). Baju seragam Sekolah Dasar-nya basah. Sesekali Alvi -pangilannya- mengambil nafas dalam-dalam. Dia kepedasan. Alvi tipe anak yang pendiam, sedikit sulit mengajaknya ngomong, dia lebih memilih sibuk dengan gelang bergambar Naruto (tokoh film kartun Jepang) dari pada mendengarkan omongan orang. Matanya berbinar-binar, Sebaris senyum teraut di wajahnya. ketika gelang yang dibersihkannya dengan jerami mengkilap.  Alvi ceria, meski binar matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. Alvi yang tercacat sebagai murid kelas dua dan selalu masuk lima besar terbaik terpaksa mengikuti pelajaran di kelas darurat yang dibangun oleh relawan Aksi Cepat Tanggap (ACT) di daerah Pualai Aie, Patamuan. Jarak Pulau Aie dari Kota Pariaman ada sekitar 20 kilometer.  Sedangkan dari Sicincin hanya 15 kilometer dengan lama waktu tempuh 20 menit. Pulai Aia hanya berjarak sekitar dua kilo dari lokasi longsor Cumanak.

PHTO1136Alvi sudah hampir seminggu mengikuti pelajaran di kelas darurat. Dulunya, dia bersekolah di SD N 14 berdiri di daerah Kapalo Koto. Namun, saat ini sekolah itu sudah tak ada lagi, hilang di sapu longsor. Atapnya pun tak nampak Tapi, meski di kelas darurat, semangat sekolah Alvi beserta teman lainnya tak pernah pudur. .Ada tujuh kelas yang dibangun ACT di daerah tersebut. 30 orang dari 103 temannya yang bersekolah di SD Negeri 14 Patamuan tertimbun longsor, hanya empat orang yang berhasil ditemukan mayatnya. Bersama 70 orang temannya yang masih tersisa, Di sekolah baru yang bercat hijaulah Alvi menghilangkan segala kesedihan dan trauma gempa. Bertemu dengan teman setidaknya menghapus duka atas kehilangan seluruh anggota keluarganya. Dia selalu semangat sekolah. Bahkan, kata Wan, Alvi tak mau disuruh bolos. “Dia malah marah kalau saya suruh tak sekolah. Pagi sekali dia sudah berangkat bersama teman-temannya. Bukannya menyuruh Alvi tak sekolah, tapi saya takut dia jadi sedih melihat teman-temannya yang tak kehilangan bapak ibu. Rupanya tidak, dia malah senang di sekolah. Padahal, awalnya, dua hari Alvi tak berhenti-henti menangis mengenang keluarganya yang telah hilang,” tutur Wan yang juga kehilangan seluruh keluarganya. Ibu mertua, istri serta anaknya ditimbun longsor. Tinggallah dia dan Alvi yang selamat.

“Alvi ingin jadi Tentara. Biar nanti bisa menolong orang yang kena gempa,” hanya itu katanya saat koran ini menanyakan apa cita-citanya.  Bginya, jadi tentara adalah sesuatu yang mulia. Dia ingin jadi oang yang berguna, seperti harapan Mansyur (40) -ayahnya-. Pantaslah nama Alvi ditambahkan Hikmah Surya yang artinya bisa seperti surya yang selalu memberikan orang cahaya. Tiba-tiba, Alvi menyingsingkan lengannya dan memperlihatkan ototnya,” lihatlah, Alvi berotot,” ucapnya. Alvin adalah sesosok tubuh kurus, tingginya kira-kira hanya sepinggul orang dewasa, kulitnya hitam. Baju seragam yang dipakainya pun kelonggaran.

Mendengar perkataan Alvi yang ingin jadi tentara, Wan yang seorang petani garapan hanya bisa tertunduk. “Sudah terbayang berapa uang yang akan dikeluarkan untuk mewujudkan cita-citanya itu. Sawah sudah tak ada, aldang tertimbun longsor. Hanya baju di badan yang tersisa. Tapi, bagaimana pun juga, saya akan tetap menyekolahkan Alvin semampu saya. Toh masih ada tantenya, Jawanil (45) yang akan membantunya sekolah. Kami sudah sama-sama berjanji untuk melangggengkan Alvi ke cita-citanya. Hanya Alvi generasi penerus yang tersisa dari keluarga besar kami,” ujar Wan.

Tak hanya Alvin anak Cumanak yang kehilangan orang tuanya. Siska juga bernasi sama dengan Alvin. Gadis kecil yang duduk di kelas V SD tersebut kehilangan Sarinam (40) ibunya. Seperti hal-nya Andi, Siska juga tetap ceria. Hampir setiap pulang sekolah dia singgah ke Cumanak yang sudah ajdi kuburan massal. Siska datang hanya sekedar melihat, lalu dia langsung berlalu, menempuh perjalanan sekitar 3 kilometer ke Kampuang Paneh, dimana dia tinggal bersama ayahnya, Ujang Busra (40). “Siska hanya singah untuk menyapa ibu.” ulas Siska. Juga ada Kimal yang kehilangan anggota keluarganya. Di SD N 14, Kimal sekelas dengan Siska.

Ada yang tetap semangat, namun ada pula yang mengalami trauma berat. Contohnya Rasul Hamdi (14). Remaja yang bersekoilah menuntut ilmu di MTsn Tandikek itu sejak gempa tak mau bertemu dengan orang lain. Dia hanya mengurung diri dalam tenda tanpa mengizinkan orang lain masuk. Untuk makan saja, orang hanya menjulurkan makanan dari luar. Koran ini pun tak bisa menemui Rosul. Dia membelakang jika ada orang yang mencoba masuk ke tendanya. Trauma yang dialami Rasul disebabkan dia melihat sendiri ibu dan adiknya dihantam longsor.

“Peristiwa itu mungkin terus membayanginya. Sudah banyak orang yang membujuknya agar mau sekolah. Namun Rasul tak mau, dia malah tak mengizinkan orang lain masuk ke dalam tendanya. Kasihan sekali melihatnya. Kabarnya dia melihat ibunya digulung tanah. Rosul berhasil selamat karena digendong seseorang. Padahal, Rosul itu anak yang berprestai di sekolah. Setahu saya, dia pernah juara. Tapi sejak gempa tak pernah sekali pun dia masuk,” kata Gus (43), warga setempat.

Alvi, Siska, Kimal serta Rosul adalah anak-anak yang terpaksa menjalani hidup keras pasca gempa. Mereka tak punya orang-orang yang biasanya mencurahkan kasih sayang. Padahal, layaknya anak lain, mereka serta berpuluh anak korban gempa lainnya mempunyai hak yang sama. Namun, gempa telah meluluhlantakkan kehidupan mereka. Trauma yang mendalam, bayang keresahan dan terancam putus sekolah adalah kendala yang pasti akan mereka alami. Anak-anak Cumanak butuh bimbingan, butuh santunan dan belaian kasih sayang agar mereka bisa kembali percaya diri menapaki hidup. Mereka anak bangsa yang nantinya akan melanjutkan estafet pembangunan. Mungkinkah kita biarkan mereka hidup bergelimang duka?(***)

Iklan