lokasi longsor“Kami Yakin, Masih ada yang Hidup…” Empat hari setelah musibah gempa terjadi, Pemprov Sumbar, sepakat melakukan pemakaman massal di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman. Lantas, seperti apakah kondisi nagari yang disebut sebagai ”ikue darek kapalo rantau” Minangkabau tersebut? Bola mata Jawanis, 43, nampak sembab. Raut mukanya kuyu. Sekuyu kain sarung yang dipakainya sewaktu menggali reruntuhan bangunan akibat gempa hebat di Korong Jumanak, Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman.

”Lah pai sadonyo Pak. Ndak ado nan tingga lai. (Sudah pergi semuanya Pak, tidak ada lagi yang tinggal). Tolonglah kami. Tolonglah kami,” kata Jawanis sambil mengais puing-puing bangunan rumahnya yang telah rata dengan tanah, Jumat (2/10) siang.

Waktu itu, di Nagari Tandikek yang memiliki beberapa korong (setingkat dusun, red), di antaranya Jumanak, Gunuangtigo, Lubuaklaweh, keadaan amat mencabik-cabik relung hati. Sekitar 90 persen rumah penduduk dan fasilitas umum rata dengan tanah. Ratusan orang diperkirakan tertimbun reruntuhan bukit yang mengitari nagari tersebut. Sementara bantuan berupa makanan, minuman, pakaian atau obat-obatan belum didapat warga. Begitupula tim SAR TNI dan Polri, belum ada yang datang untuk mengevakuasi atau mencari ratusan warga, sebagaimana sudah terlihat kemarin siang, Minggu (4/10). Sehingga tak heran, jika saat itu, Nagari Tandikek yang sebelah utara berbatas dengan Kabupaten Agam dan Gunung Tandikek, sebelah selatan dengan Kanagarian Sungai Durian dan Kecamatan Padangsago, sebelah barat dengan Kecamatan V Koto, dan sebelah timur berbatas dengan Kecamatan 2 X 11 Enam Lingkung serta Bukit Barisan, benar-benar mirip sebuah ”perkampungan mati” Walaupun demikian, Jawanis bersama puluhan warga Tandikek yang masih bertahan hidup, belum mau beranjak meninggalkan kampung mereka yang dalam pameo masyarakat Minangkabau disebut sebagai atau daerah yang terletak antara wilayah rantau (Pariaman, Padang, dan lainnya) dengan wilayah darek (Luhak Limopuluah Koto, Tanahdata, dan Agam).

”Lun mungkin wak pai dari siko Pak. Kami yakin, masih ado dunsanak nan iduik (Belum mungkin saya pergi dari sini. Saya yakin, masih ada keluarga atau kerabat yang hidup),” kata Jawanis, ketika disarankan menunggu kedatangan tim SAR di posko-posko terdekat. Jawanis memang sangat berharap, orang-orang terdekatnya ”selamat” dari maut. Ada enam orang keluarga Juwanis yang tertimbun longsor. ”Makonyo, awak cari di dalam rumah ko. Untuang-untuang ado juo nan hiduk (Makanya, saya cari dalam rumah.

Mudah-mudahan ada juga yang hidup),” ujar Jawanis, dengan mata berkaca-kaca. Semangat untuk mencari anggota keluarga yang hilang di Korong Jumanak, Nagari Tandikek, menjelang rencana pemakaman massal di kawasan tersebut, juga diperlihatkan seorang wanita berusia sekitar 24 tahun, asal Lubukalung. ”Rumah mertua saya ada di kampung Jumanak ini. Waktu gempa, beliau di sini. Saya sekarang mencarinya, mudah-mudahan beliau selamat,” ujar perempuan yang baru datang dari Lubukalung itu kepada wartawan.

Sementara itu, di Korong Lubuaklaweh yang merupakan daerah tetangga Korong Jumanak, kondisinya juga terlihat amat memprihatinkan. Tanah dan pasir putih menimbun rumah-rumah warga. Beberapa rumah gadang kebanggaan orang Minang, nampak hanya tinggal gonjongnya saja.

Dua hari lalu, kondisi darurat di Lubuaklaweh belum tersentuh sama-sekali. Namun kemarin, tim SAR bersama warga sudah turun untuk melakukan evakuasi dan pencarian. Hasilnya, ada beberapa jenazah yang bisa ditemukan. Sehingga, meski dikurung sedih, warga dan tim SAR masih semangat melakukan pencarian.

–Jadi Makam Massal—

Pada tempat lain, bersamaan dengan semangat warga dan tim SAR untuk melakukan pencarian di Tandikek. Pemprov Sumbar menyepakati pendirian pemakaman massal di kampung tersebut. ”Berdasarkan keputusan rapat hari ini (kemarin, red), kami akan menjadikan wilayah tersebut (Tandikek) sebagai kuburan massal,” ujar Kepala Biro Humas Setprov Sumbar Dedek Nuzul Putra, sebagaimana dilansir dari detik.com.

Kata Dedek, dalam rapat tersebut, pemerintah akan lebih memfokuskan pencarian pada korban yang kemungkinan masih dapat bertahan hidup dalam reruntuhan bangunan atau yang mengalami cedera. ”Juga lokasi ini agak sulit dijangkau dan mereka (korban) sudah tertimbun cukup lama selama 3 hari. Jadi tidak ada kemungkinan hidup,” kata dia.

Selain itu, lanjut dede, alat-alat berat yang dibutuhkan untuk proses evakuasi korban masih sangat minim. Pemerintah daerah pun akan meminta bantuan Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk meyakinkan keluarga korban agar rela memakamkan keluarganya secara massal. Namun, rencana pendirian pemakaman massal di Tandikek, belum ditanggapi beberapa masyarakat yang berada di ujung utara Kabupaten Padangpariaman tersebut. Beberapa keluarga korban justru masih berharap, pencarian dapat dilakukan dalam dua hari kedepan. ”Kalau juga belum ketemu, baru dilakukan pemakaman massal. Sebab kami yakin, masih ada yang hidup,” kata beberapa warga. Mungkinkah? (JPNN)

Iklan