pulau gabungan copyIndonesia kembali dijajah..!! Jengkal demi jengkal tanah dan budaya kita (bagi warga Indonesia) dijarah..Mulai dari Kebudayaan Tari Pendet, Reog hingga Rendang di-klaim Malaysia kepunyaannya..!! Mereka Tersenyum memakai semuanya..!! Tapi itu belum seberapa..!! Yang ini lebih wah.!! Tiga pulau di kepuluan Mentawai, Sumbar, juga bakal berpindah tangan ke negara asing..!! Pulau-pulau itu, bernama Macaroni, Siloinak dan Kandui dijual melalui dunia maya dengan harga berbeda. Mungkinkah kita sendiri akan menyewa agar bisa mendirikan rumah di republik ini..?? (Gambar Di atas adalah gabungan tiga pulau yang akan dijual)Entahlah, begitu surut rasa nasionalisme anak bangsa untuk menjaga warisan moyangnya. Mereka sudah tega menjual pulau yang beratus tahun tak terjamah “asing”. Atau mungkin kemilau recehan yang menyesatkan.Mengulas segaka ‘jika’ membuat muka merona, perlahan emosi memuncak dan ubun-ubun berasap..Jujur, aku tak sudi indonesia dijual belikan! Emang Indonesia ada untuk dilego!

Informasi dijualnya tiga pulau itu termuat dalam website http://www.privateislandsonline.com. Dalam Web milik si antah barantah dan berpusat di Private Islands Inc berpusat di 550 Queen St. East Suite 330
Toronto, ON M5A 1V2, Kanada itu Diinformasikan kalau Pulau Macaroni dijual dengan harga US$ 4 juta, Pulau Siloinak dijual US$ 1,6 juta dan Pulau Kandui ditawarkan US$ 8 juta.

Sekedar diketahui, Pulau Macaroni memiliki luas 15 hektar dan masuk dalam kepulauan Mentawai. Dalam promosinya, website ini menyebut Pulau Macaroni sebagi firdausnya tropis dengan memiliki pantai yang indah. Pulau ini diterangkan juga memiliki ombak terbaik di dunia untuk surfing.

“Di seluruh dunia ada puluhan pulau tropis terpencil, tetapi hanya sedikit yang memiliki gelombang terbaik dunia” demikian diterangkan web ini.

Sama halnya, Pulau Siloinak juga berada di kawasan kepulauan Mentawai. Pulau yang dijual seharga US$ 1,6 juta ini memiliki luas 24 hektare. Pulau ini digambarkan sebagai pulau yang dikelilingi laut bening dengan pantai berpasir halus.

Siloinak juga disebut sebagi firdaus alami di kompleks kepulaun Mentawai. Pulau seluas ini ditawarkan sebagai pilihan investasi terutama untuk kegiatan surfing.

Mencapai Siloinak bisa dilakukan dengan pesawat udara dari Rokot dengan keberangkatan tiga kali seminggu. Atau menggunakan perahu motor cepat dari Rokot dengan waktu tempuh dua jam. Selain itu, pada 2011 akan dibangun Bandara Internasional. Sehingga hanya dua jam dari Jakarta, Singapura dan Kuala Lumpur.

Sedangkan Pulau Kandui yang ditawarkan lebih mahal dari dua pulau itu, berada di Pulau Karambejat, juga Kepuluan Mentawai. Ditawarkan US$ 8 juta, pulau ini memiliki luas 26 hektare. Pulau ini dikenal juga sebagai lokasi surfing terbaik. Kandui Resort menawarkan apa yang disebut dengan ‘kemewahan bertelanjang kaki’ di pantainya yang memesona.

Meski terletak di Karangmajat, pulau ini terpisah dari Karangmanjat dan dikelilingi laut. Saat ini, Kandui Resort memiliki 7 Umas (nama rumah Tradisional Mentawai), rumah makan/bar dan kanto. Di sini juga tersedia jaringan internet berkecepatan tinggi.

Ketua DPRD Agung Laksono terkaget-kaget  ketika mengetahui adanya penjualan ini. Menurutnya, tidak bisa semudah itu saja menjual pulau. Dia menduga, informasi penjualan pulau yang dimuat di website sebentuk tawaran investasi dari pengelolannya.  “Mana ada jual-jual pulau di Indonesia! Penghinaan. Penjualnya harus ditangkap. Pemerintah harus mewaspadai gejala ini. Pulau adalah kekayaan Negara yang tidak boleh diperjualbelikan!” ucap Agung.

Wakil Bupati Mentawai Yudas Sabaggelat membantah informasi penjualan pulau-pulau itu. “Siapa yang jual, siapa yang beli. Jangankan menjual pulau, menerbitkan HGU saja tidak mudah. Informasi menyesatkan itu. Pemerintah daerah saja tidak tahu. Kalau kerjasama dalam pengelolaan emang benar. Mungkin saja si pengelola menjual sahamnya. Bukan pulaunya. Tidak masuk akal, pulau bisa dijual,” tambahnya.

Namun, walau membantah dengan keras, jual beli dunia maya terhadap tiga pulau tersebut teru terjadi. Untunglah, Sampai saat ini pulau-pulau tersebut belum laku terjual. Di web ini status ketiga pulau di kepulauan Mentawai ini masih for sale. Namun apakah demikian adanya?

Terkait isu dijualnya tiga pulau di Kepulauan Mentawai ke pihak asing, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi SH MM mengaku, tidak yakin tentang hal tersebut.  “Tidak mungkin ada penjualan pualau. Yang ada itu hanya resort-resort yang disewakan kepada pihak asing untuk pengelolaannya. Kepemilikan dari pulau ini ada tujuh unsur yang harus dipenuhi,” jelas Gamawan kepada wartawan, Rabu (26/8) di gedung DPRD Sumbar.

Tapi diakuinya, ada satu pulau yang sedang bermasalah pengelolaannya yaitu, Pulau Soloinak di Kabupaten Kepulauan Mentawai. “Saya dapat keterangan bahwa pihak pengelola berinisial ‘R’ ada masalah dengan pihak asing berinisial ‘G’ dari Perancis. Mereka awalnya berbisnis, tapi di tengah jalan keharmonisan dalam berbisnis terganggu,” katanya. “Ini masalah internal dalam berbisnis,” lanjutnya.

Gubernur juga menegaskan, bahwa pihak manapaun baik bupati/wali kota tidak memiliki kewenangan untuk melakukan jual-menjual pulau. Seluruhnya telah diatur dalam perundang-undangan. Seperti berdasarkan Undang-undang Nomor 27 tahun 2007 tentang pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Dalam peraturan dijelaskan, kepemilikan pulau oleh pihak asing ada aturannya. Seperti, pernyataan kesanggupan melakukan dan menggunakan fasilitas penanaman modal asing (PMA). Kemudian, adanya luas lahan yang digunakan, luas perairan. “Dan yang penting rekomendasi dari gubernur, bupati/wali kota selanjutnya diajukan ke pemerintah pusat. Sampai sekarang saya belum pernah memberikan atau mengeluarkan rekomendasi,”tegasnya.

Sementara itu Kepala DKP Sumbar Ir Yosmeri menyebutkan, isu penjualan pulau ini sebelumnya pernah terjadi beberapa tahun lalu. Di antaranya, penjualan Pulau Cubadak di Kabupaten Pasisia Selatan. Saat ini pulau tersebut telah dibuat beberapa resort dan dikelola warga negara Italia. Di Mentawai, jelasnya, banyak pulau yang disewakan tapi tidak untuk dijual. Pengawasan dilakukan langsung oleh kabupaten/kota. ” KIita akan cek lagi kebenarannya. Untuk sementara dari keterangan dinas pariwisata dan kebudayaan Mentawai, pulau-pulau tersebut tidak dijual,” ucap Yosmeri.

***__Sampai tetes darah terakhir, Tiga pulau itu akan kami pertahankan__**

—(Ketua DPRD Agung Laksono)

“Mana ada jual-jual pulau di Indonesia! Penghinaan. Penjualnya harus ditangkap. Pemerintah harus mewaspadai gejala ini. Pulau adalah kekayaan Negara yang tidak boleh diperjualbelikan!”

—(Laksamana Pertama TNI AL Syarif Husin )
“Sampai tetes darah terakhir, kami (TNI AL)  akan memperjuangkan kesatuan NKRI. Tak boleh ada yang mengusiknya, berkalang tanah kami rela,” Kata sang  Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut-2 Padang.

Tapi pertanyaannya, apakah kita akan diam dan bermenung saja menyaksikan satu persatu aset dan budaya kita dijarah dengan cara yang tak lazim? Kalau iya, terkutuklah anak bangsa yang hanya bermenung itu.(**)

***Sumber : POSMETRO Padang & Rakyat Merdeka***

Iklan