penjaraTuLisan ini SuDah tiga kali aku liris (kayak lagu aja). Hanyalah lembar Hidup yang aku posting agar Blogger tahu kalau hidup ini tak ramah. Butuh perjuangan, namun tak sekedar obsesi untuk mendapatkan siapa yang menang atau yang kalah. Kisah hidup ini aku alami sendiri..Mungkin bisa jadi pencerahan bagi semuanya..  “Hidup, terkadang keras, terkadang penuh kelembutan bahkan menyala-nyala. Semua tidak bisa ditebak karena hidup diantara keabu-abuan. Jangankan Berdiri, duduk saja susah. Hidup tak akan bergeming, kitalah yang menggerakannya” Kalau dimamah, Hidup aku curam kawan. Berliku. Terkadang menanjak, SEDETIK menukik tajam. Bak nyata ucapan kalil gibran “hidup yang tak pernah lurus”. Semua berliku. Bisa Jadi, tak akan ada yang percaya style masa lalu yang pernah aku jalani. Mungkin juga sebaliknya. Terserah saja, percaya atau tidak yang penting ini kejujuran. aku tidak perlu kepercayaan karena tulisan ini bukan TUHAN. Sekali lagi, aku tak peduli.

—Hingar ku HiDup TuLI—

DI KERETAC_7 Bandar Dalam, Nagari Kecil yang masuk dalam Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Tepatnya di SuduT Limopuluah Kota, Sumatera Barat. Disanalah pertama kali aku membuka mata, melihat dunia yang silau dan mendengar Azan pertama. 28 OkTober 1987, jam 11 siang, ketika Indonesia Raya Bergaung di makan Pahlawan “kuburan salapan”, ya, saat itulah aku lahir, HARI SOEMPAH PEMOEDA. aku Lahir..!! Dari perut “Hawa Termanis”, tumbuh bergelimang kesusahan. Ayah hanyalah buruh dipenggilingan Padi, tubuhnya ringkih. Maklum usia perlahan menggerogotinya. Legam kulitnya telah menyamarkan TATOO Burung Garuda di lengan Kanannya, tatoo yang menandakan betapa cintanya ayah ku pada Indonesia. “Garuda ini tak akan ku hapus. Aku bangga dengan tatoo ini,” begitulah ucapnya. Tangan kirinya dihiasi tato gadis bugil di bawah rembulan.

Kalau Ibu, wanita penyabar, dia perkasa. Bekerja keras untuk menafkahi anak-anaknya. Ada empat orang anak di atas ku. Badannya gempal, entah mengapa, walau sudah berusia hampir 60 tahun, uban tak pernah berani tumbuh di kepala ibu. Dia selalu tersenyum saat periuk kosong, “sabar ya nak, ayah belum pulang bekerja. Nanti kita beli rendang daging,” itulah hiburan yang kami terima dari mulutnya kalau tak ada lagi yang akan di makan. Tapi, kami selalu senang dengan ucapan itu (walau jarang terealisasi).

Itu kedua orang tuaku. Kalau Hidup ku..sangatlah pahit! brutal dan kumuh. Di Bandar Dalam aku mendapatkan semua rona. Maklumlah, Nagari ku komplit, pemabuk banyak, ustadnya juga berlimpah!! Tapi, kalau aku masuk ke golongan pemabuk..!! Bukan cap diri, tapi itu kenyataan. Seperti  anak desa lainnya, Aku melewati masa anak-anak disela lingkaran pematang sawah yang menghijau. Bermain di punggung kerbau dan menyelami sungai untuk mencari keong adalah hidupku. Satu lagi, aku adalah pencari durian. Rimba manapun aku tahu. Kalau sudah musim durian, aku paling kaya. hahahaha.

Masa seperti itu aku lewati hanya sampai tamat Sekolah Dasar. Masuk SMP, kehidupan berubah total. Meleset jauh, lebih dari 180 derajat…!! Hidup mulai berputar, dari pencari durian, aku berganti profesi menjadi pencari cimeng..!! Peminum air aren berubah menjadi peminum tuak..!! YA, Di Bandar Dalam aku kenal nikmatnya tegukan tuak tradisional hingga harumnya asap mariyuana dan betapa enaknya aroma Lem Cap Banteng, aku kenal di sana. Bahkanitu semua sudah menjadi bagian hidup semenjak kelas Satu SMP. Lengkap sudah…

Bandar Dalam mengajarkan semua kehidupan dalam perkembangan diri ini. Kebrutalan menjelang.Aku seakan “dicuci”. Dari seorang anak yang selalu memberikan oleh-oleh sebentuk piala setiap penerimaan Rapor kepada ibunya hingga menjadi Hero Zero nan setiap malam pulang dengan mata merah, berjalan sempoyongan, nafas berbau Tuak bercampur pekatnya nikotin rokok tentunya tak lupa dengan buntelan saku yang berisi sekaleng “Banteng”. Terkadang, dengan lentingan cimeng ditangan. Aku BeJat..!! MabuK melulu, hampir setiap hari. Di kelas, belakang sekolah hingga di-WC masih sempat sempatnya aku nyimeng.

Kedai tuak Ripin diperbatasan Kota (Perbatasan Situjuah dengan LimBukan yang masuk ke Kota Payokumbuah)  adalah tempat nongkrong yang mengasyikan. Meminum Tuak sembari mencicipi gulai kepala ikan Gurami, wah..Tak terhitung lagi berapa liter Tuak yang habis dan juga tak terhitung lagi berapa kali aku harus memuntahkan isi perut..!!

Tapi, kalau dirunut AKU memang Bejat rasanya tak tepat, yang paling tepat rasanya AKU ANAK DURHAKA. Mengapa tak begitu, aku tidak pernah berpikir darimana datangnya makanan di bawah tudung, padahal bapak yang tubuhnya sudah bak mayat hidup tak kuat lagi bekerja. Banyak tidur dari pada mencangkul. Batuknya kronis, terkadang dia tak tidur semalaman karena penyiksaan batuk. Aku tak peduli, bapak sakit, aku mabuk! Aku juga tidak peduli melihat keponakan yang menyuap nasi hanya dengan rebusan daun singkong. Persetan, Aku memang bejat,eh durhaka. Ayah sakit, gantian ibu yang bekerja.

Aku ingat, Pernah saat orang-orang mengabarkan ibu terluka karena tebasan sabitnya di rumpun padi meleset dan melukai tangannya. Lukanya menganga. Orang-orang gaduh melihat daging ibu menggelayut berlumur darah.”Aku..aku hanya diam”. Malah menyambar ongkos berobat ibu untuk membeli empat liter tuak. Aku masih ingat uang itu berjumlah 6000 perak, terdiri dari recehan yang keluar dari ayam tanah liat keponakan. Aku tinggalkan saja ibu yang sedang dibopong orang kerumah. Lebih baik terbang ke Kedai Ripin, minum tuak. Tapi ibu hanya diam melihat tingkah ku. Ketika aku pulang, ia sempat-sempatin membuat telor mata sapi. Dengan tangan berbalut perban, tangannya memecah telur. IA tetap menganggap KU child sweetnya. Anak ramah.

Terkadang timbul penyesalan dalam diri. Kebosanan hidup yang itu-itu melulu datang. Jelang tidur, tangis ku pecah. Untuk sesaat, kemudian tersenyum lagi di bawah pengaruh alkohol. aKU LEBIH SERING tidur di Simpang Pincuran Tujuah dari pada di rumah, atau di rumah chaniago. Maklumlah, waktu itu aku bak ketua, dielukan, menjarah ayam perkara biasa. Titel sebagai anggota pemabuk 87 aku sandang. Kepongahan selalu hadir.

Tapi, aku bukan tipe parasit yang selalu menggantungkan hidup pada orang tua. Aku bukan benalu murni. Sejak SD aku juga sering bekerja. Bukan pekerjaan enak. Semua aku lakukan. Dari pencari barang rongsokan, mencari siput untuk makanan itik yang setiap embernya di hargai 750 rupiah hingga jadi pengangkut tahi ayam serta mencuri buah melinjo dengan sahabat kental, Hermansyah bin fauzi aku lakoni. Bayangkan, aku mengangkut tahi ayam ketika hujan turun. Airnya yang bau pesing mengotori wajah dan turun ke mulut. Tapi ibu tidak tahu, dia tidak kuat melihat anaknya bekerja keras. Ibu memang sangat sayang pada anak-anaknya.

Kehidupan sebagai pemabuk kecil terus bergulir, Aku semakin larut. Ngumpul-ngumpul, ujung-ujungnya mabuk. Namun yang namanya hidup hanyalah fatamorgana, semua bisa berubah cepat. Tamat dari SMA setelah lima tahun duduk disana, kelakuan mulai menjadi. Aku tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan “Banteng”, Tuak dan rokok cimeng. Aku  semakin terpuruk. Jangan tanyakan wanita pada diri ini. Jangan. Semuanya jijik pada pemabuk kecil dan tukang buat onar. Aku juru pukul tukang palak serta melarat. Sekali lagi jujur, ada seorang yang berbekas. ya..seorang perempuan yang tubuhnya selalu terselubung jilbab. Hanya Dia yang mau dekat pada ku. Walau kedekatannya KU anggap hina. Bagi ku, waktu itu, wanita berjilbab bak alien….

Walau bisa hidup tenang, tapi terkadang melarat itu pasti menimpa. Ada saja pengganjalnya. Begitu juga aku. Hidup mulai meradang. Terlunta mulai ku jalani, hingar dan kekerasan perlahan datang. Aku mulai merasa sepi… Teman-teman yang ku anggap selama ini sejati ternyata memakai topeng..

Semuanya semakin terasa saat IBU PERGI…!!! Itulah puncak karier sekaligus akhir di“dunia hitam”(walau tak sehitam malam). Sejak itu, Semuanya berubah cepat. Aku serasa kehilangan pegangan. Di satu sisi, puing kebebasan juga terselip di hati karena tidak ada lagi orang yang menyuruh sholat atau menyuapin makan seperti anak kecil. Ibu sudah pergi, melampaui laut. Aku terlunta, kerasnya jalanan dilakoni untuk menyambung hidup, Ngamen, jadi tukang angkut aku jalani. Tetap berjuang dan berkarya dengan style rambut mohawk dan celana ketat lengkap dengan gemerincing gelang berduri.

Waktu jadi Punkers, aku merasa menemukan kebebasan dan kebersamaan yang erat. Roti sebungkus kami bagi rata. Hingga kini, diri ini masih menganut paham punkers, walau tak lagi dijalanan, tapi paham Anarchysme masih melekat. Ironisnya, aku melihat kejanggalan. Para punk saat ini menganggap punk adalah musik, style dan jalanan, padahal Punk adalah jiwa. Bukan hanya musik!

Kehidupan ku berakhir. 21 September 2006, semuanya luntur. Aku masih ingat pada malam satu hari jelang ramadhan itu bintang berhamburan di angkasa. Mereka seakan menemani ku yang sedang asyik-asiknya mengadu untung di meja judi. Waktu itu aku beruntung, menang banyak. Habis berjudi, dengan gitar ditangan, petikan mulai mengalun, menyanyikan lagu-lagu yang tidak percaya dengan Pemerintahan dan hukum. Hati senang dengan uang yang memenuhi saku celana hitam yang dipakai.

Namun itu tak bertahan lama, petikan gitar berhenti setelah satumobil pengawas kota datang. Mereka berhenti tepat di depan ku. Sialnya mereka mendengar nyanyian yang berlirik “Koruptor Anjing, Koruptor maling, perut buncit kayak kerbau bunting”. Petugas itu tersinggung dengan nyanyian nyeleneh yang keluar dari mulut Ku. Tanpa basa-basi satu pukulan telak nyasar di pelipis kanan ku. Buk, aku tersurut, sesaat aku diam tapi hati berontak, pukulan itu seolah hinaan dan aku anggap (waktu itu) trade mark penguasa dan aparat. aku dipukul tanpa ba-bi-bu..Terang saja gejolak muda mendidih. Sepakan kaki yang sudah terbiasa berlalu kencang tepat menghantam rusuk penampar itu, dia terduduk. Tak alang, kesempatan itu AKU jadikan pelampiasan, dengan geramnya aku pukuli aparat yang berinisial “ZG” tanpa ampun.penjara Uhh..tanpa ku sadari..dua pasang tangan kekar berpakaian preman sudah memegangi lengan.Dengan borgol yang siap sedia, aku diseret ke dalam mobil tanpa celana. Ya, celana ku melorot. Aku tertangkap..Sungguh kasihan sementara teman-teman yang selama ini aku anggap selalu bersama hanya memandangi dengan tatapan sangat menjijikan. Mereka tega membiarkan ku diseret dengan celana melorot. Siapa lawan ku? aku bertanya? kok ada borgol?

Dalam mobil, sangat fatal malah. Pukulan bertubi-tubi menghinggapi kepala bagian belakang..tanpa ampun..mereka seakan merdeka mempreteli ku diatas mobil itu. Akujadi bulan-bulanan. Kata-kata kotor mereka ucapkan, sampai-sampai mereka bilang kalau ibu perempuan malam. Bathin teriris, namun mau apalagi, mereka yang berkuasa. Penyiksaan belum berhenti. Sampainya di Kantor aparat Payakumbuh aku diintrogasi sembari disuruh mengunyah puntung rokok marlboro. Rasanya sangat pahit. Tak ada yang menolong. Yang ada dalam ingatan cuma ibu. Entah bagaimana perasaannya ketika tahu anaknya ditangkap.

Semua penyiksaan itu belum seberapa. malam itu aku didaulat sebagai penghuni rumah berjeruji besi yang berbau menyengat. Aku tak boleh pakai baju. Malam itu harga diri terinjak. Bagaimana tidak, sepanjang malam aku disuruh menggonggong seperti anjing dan merangkak, kalau tidak mau, diancam akan “dihilangkan”. Selain itu, aku disuruh berdiri terbalik, dengan kepala menempel di lantai penjara. Pukulan tak berhenti sampai-sampai darah segar mengucur dari mulut, hidung dan telinga. Para penjaga yang menyiksa hanya tertawa dan berkata “Malam ini kau adalah anjing penjaga “rumah” ini”. Hati hancur. Tangan yang selalu ditakuti kini menciut dihadapan para aparat berseragam itu. Harga diri mati…

Sepanjang malam aku disiksa. Para penghuni lainnya bahkan sudah memohon “mereka” untuk berhenti memukuli tubuh ku yang sudah tak berdaya. Kalau tak dipegang, tubuh ini lunglai. namun itu semua tak dihiraukan…pukulan semakin bertubi. Aku dipukul, tak lupadisuruh  menggonggong. Bogem-bogem mentah bertubi di wajah. walaupun darah tak berhenti keluar dari mulut. Namun AKU tak menangis. Haram rasanya menangis.

Oh ya, aku ingat waktu itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersama Ibu Negara Ny Ani Yudhoyono berkunjung ke Tanjuang Alam, Kecamatan Tanjung Baru, Kabupaten Tanh Datar, Sumatera Barat untuk menerima peanugerahan gelar Sangsako Adat dari dari Kerapatan Adat Nagari (KAN). SBY dianugerahi gelar Yang Dipertuan Maharajo Pamuncak Sari Alam, sedangkan Ny AniYudhoyono diberi gelar Puan Puti Ambun Suri

—- ” MukJizaT AtAU KeajaIban”—-

Pagi harinya, entah angin apa, aku dibebaskan tanpa syarat. Aku tidak tahu siapa yang menjamin keluar tahanan, yang aku tahu “mereka” bilang “kamu hebat ya..bisa keluar,,,bapak mu pejabat ya? Ah, mereka tidak tahu kalau bapak hanyalah seorang petani miskin. Dengan wajah yang membiru dan membengkak serta kening menggelupas AKU TUMPANGI angkot untuk pulang. Orang-orang memandang jijik. Aku hanya memakai celana sobek tanpa baju. Sampainya dirumah raungan dan tangis ibu menyambut. Mereka tak kuasa melihat keberadaan ku yang sangat tak karuan. Untuk pertama kalinya aku menangis. (aku tak ingat sebelumnya kapan terakhir kali menangis).

Keluar dari “penjara semalam” aku mulai berpikir tentang semua yang aku lalui. Tak ada untungnya dan berfoya tanpa tahu jerih payah orang tua. Akhirnya keputusan aku ambil untuk berubah dan meninggalkan semuanya. Aku pengen hidup tanpa Tuak, asap Mariyuana dan aroma Banteng. Aku berubah. Tapi sangat sulit, aku harus berjuang keras untuk itu. Memang, setelah keluar aku jadi ditakuti dan diberikan jatah minta uang pada setiap warung pada Hari Kamis. Tapi itu tak membuat bangga. Apalagi melihat wajah teman-teman yang waktu aku diseret hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa untuk menolong. Aku ingin bekerja yang halal dan jauh dari hiruk pikuk dunia hitam.

Untunglah Tuhan membuka jalan, dengan bakat menulis yang aku miliki, akhirnya ku diterima bekerja disebuah Surat Kabar Harian di Sumatra Barat, Ya, aku bekerja di POSMETRO Padang, anaknya JAWA POS Group. Aku mulai merubah hidup dan melupakan semua masa lalu yang kelam walau terkadang keinginan untuk “kembali” selalu hadir mengusik. Sekarang aku bebas dari dunia kelam. aku sudah bisa melihat kembali senyuman ibu dan yang pasti tak lagi membiarkan keluarga makan dengan sayur kangkung. ————————————————————————————————————————- 12 Mei 2009, BLITAR, Jawa Timur. (Maaf kalau tulisan ini asalan. Tapi ini adalah kisah nyata yang ku lalui. Aku tak peduli sobat percaya namun itulah lembar kehidupan kelam yang aku rasakan. Terimakasih untuk semua yang telah memberikan dorongan agar ku berubah. Namun yang menjadi tanda tanya besar bagiku sampai saat ini adalah sosok yang telah menjamin untuk keluar dari “rumah kelam”..Siapa dia,,bagaimana aku akan membalas budi?(**)

Iklan