untuk-perempuan-225x300 Sofiati (19) terdiam, perlahan air matanya belinang. Anak Kelurahan Muaro Kalaban, Sawahlunto itu tertegun. Dia merunduk, seperti ingin menutupi wajah resah dengan rambutnya yang sebahu. Pandangannya tak lepas dari secarik kertas yang tergenggam ditangannya. Kertas itu merupakan Panggilan dari Universitas Andalas dan ditujukan kepada calon mahasiswa yang diterima melalui jalur penjaringan. Di atasnya tertulis beberapa digit angka. Baju putih yang dikenakannya terlihat lusuh. Bukan tanpa alasan Sofiati resah, saat ini dia berada dalam posisi yang sulit, sementara, pilihan yang ada hanya sedikit. Keresahan bermula ketika perempuan yang baru saja lulus SMA Sekolah Dagang Islam (SMA SDI), Muaro Kalaban, Sawahlunto itu menerima surat panggilan dari Unand, di surat itu pemegang nilai rata-rata tujuh pada Ujian Nasional (UN) kemarin itu dinyatakan diterima secara otomatis di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi.

Dalam kertas undangan, tertulis kalau Sofiati harus menyiapkan uang Rp.5.770.000 dan harus sudah dibayar pada tanggal 2 Juli mendatang. Uang itu adalah persyaratan serta sebagai pembayaran SPP dan dan lainnya. Namun Sofiati tak memiliki uang. Rp.5.770.000 terlalu banyak bagi Sofiati. Disitulah keresahan gadis jolong gadang itu bermula.

“Saya tak punya uang. Darimana akan didapatkan uang sebanyak itu? Saya terlahir dari keluarga miskin. Tapi saya ingin kuliah, mencapai cita-cita demi menyenangkan ibu. Namun, mungkin cita-cita itu akan pupus, saya keluarga miskin yang menggantungkan hidup dari pemberian kerabat terdekat,” kata Sofiati, suaranya nyaris tak terdengar karena diselingi sesengukan.

Maaf Ayah, mungkin aku tak bisa kuliah seperti yang kamu harapkan dulu. Biayanya terlalu besar untuk keluarga seperti kita ini. Siapa yang akan menolong? Ayah juga telah pergi,” Sofiati kembali menangis ketika bercengkrama dengan POSMETRO di sebuah kedai di Kota Padang.

Sofiati pantas resah. Dia adalah anak Yatim. Bapaknya, Ismael (Almarhum) pergi selamanya ketika dia masih duduk di-SD. Ibunya, hanya petani garapan berpenghasilan Rp.20 ribu perhari. Untuk sekolah saja, Sofiati harus meminta kepada Fatmawati (26) kakak ketiganya yang bekerja sebagai pegawai honorer di kantor Lurah Muaro Kalaban.

“Saya sering puasa, karena tak ada lagi yang akan dimakan. Hanya kepada kak Fatma saya bisa mengadu. Namun dia juga sudah punya keluarga, hidupnya bertambah susah karena harus menanggung hidup keluarganya dan juga ibu serta kakak yang berpenyakit aneh. Namun, walau begitu, semangat untuk sekolah tetap besar. Saya tak ingin hanya sebatas tamat SMA saja. Saya ingin jadi orang yang berguna. Tapi, biayanya,” ucapan Sofiati terputus. Dia memegang kepalanya, menghapus ingus dengan sehelai tissue.

Walau tertatih, akhirnya Sofiati lulus juga SMA dengan nilai yang tak mengecewakan. Tapi hadangan semakin bertambah, keinginannya untuk kuliah terhadang biaya. Sofiati tak patah arang, bersama pembimbingnya, Hafnizal yang tercatat sebagai guru Kimia di SMA 1 Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, mulai berjalan, mengetuk hati dermawan untuk memberikan perhatian kepada dirinya.

“Sofia ingin kuliah, Sofia ingin jadi orang besar sehingga bisa membuat ibu tersenyum kembali dan bisa mengobati kakak yang terbaring sakit. Sofia ingin jadi anak yang berguna. Sofia berharap uluran tangan dari siapapun. Sofia butuh bimbingan. Ingin menuntut ilmu setinginya,” kata anak bungsu dari lima bersaudara ini. Dia juga berharap pembaca terketuk hatinya untuk membantu atau langsung datang ke Redaksi POSMETRO menyalurkan bantuan. Jangan biarkan generasi penerus kita patah arang menuntut ilmu.(**)

Iklan