sereMinggu, 31 Mei lalu, pukul 08.00 WIB, Stasiun Simpang Haru, Padang, puluhan calon penumpang kereta api berjejer, clengak-clinguk kiri kanan, tak sabar menunggu kedatangan kereta yang akan membawa badan ke tempat tujuan. Mereka berbaur dengan pedagang asongan yang tak kalah lantang menjajakan dagangannya. Ada juga yang terpana melihat gerbong-gerbong tua berjejer di kiri kanan rel. Tak terkecuali puluhan Blogger yang tergabung dalam komunitas Palanta, mereka terpukau keadaan. Para penulis di dunia maya itu sedari tadi berkumpul, saling berceloteh, berkisah tentang pengalaman yang akan mereka dapatkan dalam perjalan kali ini. Perjalanan yang dihajat Palanta dan digawangi Telkomsel sebagai sponsornya, acara ini juga didukung sepenuhnya oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) Sumbar dan Masyarakat Peduli Kereta Api Sumbar (MPKAS) Wilayah Padang.

f_logoOKm_bac9feaMemang, di pagi Minggu bercuaca mendung itu, Palantaers berniat berangkat ke Pantai gandoriah, pantai yang terletak di Kota Pariaman, 65 kilometer dari Kota Padang. Tujuannya, sekedar mencari inspirasi postingan wisata di-Blogg masing-masing.

Pantai gandoriah, Pantai berpasir putih yang mendatangkan cerita berbeda jika berkunjung ke sana. Lukisan alam nan rancak berpadu dengan keramah tamahan warga lokal. Selingan pekik bocah bermain lidah ombak memecah suasana. Pohon pinus yang melambai membuat kenangan lepas, pikiran seolah ditarik, menjejeri jengkal demi jengkal birunya Samudera Hindia. Lepas pandangan mata tertumbuk di Pulau Angsa Dua. Keindahan yang terletak di Kota Pariaman, pantai gandoriah memang mempesona. Itulah tempat terpilih para Blogger untuk menggali inspirasi, mengangkat wisata Sumbar di dunia maya.

Lepas dari keindahan pantainya, Jejeran pedagang Sala Lauak (penganan bulat yang terbuat dari campuran tepung dan ikan serta berbagai bumbu tradisional) dan Kepiting Goreng bersebelah-belahan dengan pedagang nasi Kapalo ikan Capa. Jejeran kuliner yang akan membuat selera semakin menjadi. Tak cukup rasanya melepas hasrat jika hanya meneguk air ludah, begitu menggugah dan memaksa kita untuk duduk sejenak di lapak-lapak yang disediakan pedagang. Nikmati air kelapa muda plus nasi sek yang mengepul dengan kapalo ikan capa serta sala lauk, barulah hasrat kuliner tertuntaskan. Spesial nasi Sek, dinamakan begitu karena perbungkusnya hanya berharga Rp.1000!

Berbicara Pariaman dan Gandoriah, tentu kurang rasanya kalau tidak menyebut-nyebut Tabuik. Ya, pesta rakyat Pariaman yang dilaksanakan setiap tanggal 1 Muharam. Festival Tabuik ini telah dimulai pada tahun 1824. Ketika itu, pelaksanaan pertamanya diprakarsai para pedagang Islam beraliran syiah yang datang dari berbagai daerah dan negara, seperti Aceh, Bengkulu, Arab dan India. Karena tidak ada penolakan terhadap tradisi tersebut oleh masyarakat Pariaman, kemudian perayaan Tabuik itu dilaksanakan setiap tahun.

Pesta Tabuik ini, dulu dikenal sebagai ritual tolak bala, yang diselenggarakan setiap tanggal 1-10 Muharram . Tabuik dilukiskan sebagai Bouraq‘, biatang berbentuk kuda bersayap, berbadan tegap, berkepala manusia (wanita cantik), yang dipercaya telah membawa arwah (souls of the) Hasan dan Husein ke surga. Dengan dua peti jenazah yang berumbul-umbul seperti payung mahkota, tabuik tersebut memiliki tinggi antara 10-15 meter.

Puncak Pesta Tabuik adalah bertemunya Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Kedua tabuik itu dihoyak dengan ditingkahi alat musik tambur dan gendang tasa. Petang hari kedua tabuik ini digotong menuju Pantai Gondoriah, dan menjelang matahari terbenam, kedua tabuik dibuang ke laut. Dikisahkan, setelah tabuik dibuang ke laut, saat itulah kendaraan bouraq membawa segala arak-arakan terbang ke langit (surga).

Sebagaimana pesta rakyat, maka Pesta Tabuik berlangsung sangat meriah. Biasanya juga diramaikan dengan sejumlah pentas kesenian oleh anak nagari, seperti tari-tarian hingga debus ala Minang.

Kembali ke Stasiun Simpang Haru, Sekian lama menunggu, akhirnya Kereta api datang. Palantaers berebut untuk naik, wajah yang jemu menunggu berubah ceria, semuanya sibuk mencari tempat duduk yang nyaman dan teman yang enak diajak ngomong. Baling angin yang berhembus sedikit mengusir gerah yang perlahan membuat peluh mendesak dari pori-pori. Gerbong pertama dari tujuh gerbong yang ada menjadi kamar Blogger.

Baru saja menghembaskan badan di kursi, Lewat pengeras suara, panitia keberangkatan tak bosan memberikan pengarahan dan pemberitahuan ini itu. Tapi, entahlah, pemberitahuan itu nampaknya dianggap angin lalu oleh peserta. Semuanya sibuk dengan gawe masing-masing. Tapi, kecuekan Blogger akhirnya luluh juga tak kala duet penyiar Radio SIPP FEMALE yang didaulat sebagai pembawa acara memaparkan produk terbaru Telkomsel yang bernama Layanan VAS Telkomsel Emo. Semua mata tertuju pada dua makhluk pembawa acara, telinga dipasang, agar pembicaraan tentang apa itu Telkomsel Emo nyaring terdengar. Maklum, suara pembawa acara harus bertanding dengan bunyi roda kereta yang beradu dengan bantaran rel. Sekian lama 2009emoberbincang, barulah blogger mengerti kalau Telkomsel Emo adalah layanan tambahan (value added service) yang memungkinkan pelanggan Telkomsel bisa mengetahui secara real time kondisi emosi dari lawan bicaranya (apakah bahagia, sedih, rileks, dll), yang dideteksi selama berlangsungnya percakapan di telepon, hebatnya lago,layanan ini berlaku kesemua pelanggan. Wuih, mulai lagi suasana buncah, semua mengambil ancang-ancang, ambil telpon dan langsung menekan #88-nomor tujuan. Mungkin sekedar tahu bagaimana perasaan lawan bicaranya.

Selepas pembicaraan Telkomsel Emo, suasana kembali tenang, semuanya larut dengan pikiran masing-masing dan menikmati perjalanan, ada juga yang bercanda ria, ceriwis-ceriwis dan tertawa ngakak, membuat suasana heboh. Sementara, kereta mulai bergerak, membawa beratus-ratus orang ke Kota Tabuik, bunyi klaksonnya tingkah meningkah dengan suara Radio SIPP Female yang diputar sedemikian keras di gerbong pertama kereta pagi Stasiun Simpang Haru, Padang.

Pagi itu, matahari sedikit menyuruk diantara gumpalan mega. Lambaian tangan bocah kecil di tepian rel menghantar perjalanan dua jam ke Pariaman. Bunyi linggis tukang perbaikan rel tak kalah bertalu.

Setelah mendapat tempat duduk yang pas serta selesai acara kenal-kenalan, di dua jam perjalanan, dari pukul 09.00 WIB sampai 11.00 WIB, di kereta, ada-ada saja cara menghilangkan jenuh, mulai dari bernyanyi hingga pesta hadiahpun dilakukan. Ada juga yang terkantuk-kantuk di tempat duduk yang didesain berhadap-hadapan dengan kapasitas dua orang per kursi. Bahkan, ada yang memang sudah jauh menembus alam mimpi di kursi terakhir sebelah kiri gerbong, goncangan akibat pergesekan roda kereta dan rel tak membuatnya terganggu.

Sepanjang perjalanan, tumpak-tumpak sawah penduduk yang menguning membuat pandangan mata segar, deretan rumah dan sungai bak perpaduan setara, layang-layang menari di angkasa, sementara, pengembala berusaha menghalau itiknya agar tak masuk ke sawah orang. Perlahan, gerah yang menggerogot hilang, berganti rasa kagum akan lukisan alam. Berlebih kekaguman rasanya kalau menyaksikan lukisan Maha Pencipta dari atas kereta api.

Lama terkurung di gerbong kereta, akhirnya sampai juga di Stasiun Pariaman, deburan ombak gandoriah menyambut, angin berhembus sepoi, bunyi telapak kuda Bendi Piaman berdongklak saat bersentuhan dengan aspal seolah menyambut kedatangan Palantaers. Kegerahan di atas kereta berganti kesejukan, gandoriah menunggu dengan ombaknya yang tak kentara dan suasana rindang di bawah Pinus seakan membuat mata semakin sayu. Terkadang, ketenangan akan terusik tadahan tangan kaum kurang beruntung, tak apalah, pertanda gejala sosial hidup di Kota Pariaman yang luasnya sekitar 73,36 Kilo meter persegi itu.

Sejenak berkumpul, akhirnya peserta dibiarkan berpencar, mencari bahan apa rasanya yang enak untuk dijadikan tulisan. 30 menit waktu yang diberi, semuanya berserak, berkeliling areal wisata, mengorek keterangan, bahkan ada juga yang hanya tercenung memandang ke laut lepas, cara mencari inspirasi rupanya berbeda. Pasukan merah berjalan, ada yang sendiri, ada pula yang bergerombolan. Sebelum pukul 13.30 WIB mereka harus berkumpul kembali, kalau tidak, akan ketinggalan kereta yang berangkat ke Padang pukul 13.30 WIB itu.

Sekian lama mencari inspirasi, menerka-nerka apa yang hendak dibuat, pengeras suara pembawa acara di bawah pokok pinus sudah berteriak-teriak agar Palantaers berkumpul untuk mengisi perut dan bersiap berangkat menuju Kota Padang. Satu persatu mereka kembali, ada yang kembali dengan wajah ceria, ada pula dengan muka kusut. Namun, gejala itu tak mengurangi keinginan untuk menyantap habis makanan yang tersedia.

Habis waktu Dzuhur, semuanya sudah siap, setelah menghibur diri dengan senandung Joe, Blogger berambut mohawk bersuara melankolis, akhirnya klakson kereta yang akan membawa puluhan blogger kembali ke Padang berbunyi. Derunya seakan mengisyaratkan kalau waktu bersetubuh dengan Gandoriah sudah habis, kalian harus kembali!

Akh, begitu cepat rasanya waktu berlalu, hanya beberapa jam di gandoriah membuat rasa kagum terhadap pantai berpasir putih itu tak lepas. Sayonara harus diucapkan, tatapan wajah pedagang sala lauak seperti berharap agar kami (Palantaers) memborong dagangan mereka sekedar oleh-oleh bagi yang tertinggal di Padang.

Tepat pukul 13.00 WIB, Palantaers naik kereta, tinggalkan gandoriah dengan penuh pengharapan, adakah waktu untuk kembali, menyawoni pantai eksotik ini? Hampir semuanya menghadap ke arah pantai, agak berat hati rupanya berangkat ke Padang dan kembali melewati waktu dua jam di atas gerbong kereta. Gerah kembali merayapi tubuh, keringat mengucur lagi di sela pori-pori, namun suasana di atas kereta tetap menyenangkan.

Akan tetapi, berpuluh inspirasi tak kalah membuat kami ingin secepatnya sampai di depan mesin ketik (komputer), kepala sudah berat rasanya menahan perbendaharaan ini. Tulisan yang akan ditelorkan, tulisan yang diharapkan nantinya bisa menjadi latar seseorang memilih pantai gandoriah sebagai tempat wisata.(**)

=====================================================

Hhhmm, jika ada yang berniat ke Gandoriah, saya rasa tak usah berpikir panjang. Percayalah, tak akan menyesal datang ke sana, pantai gandoriah akan membawa anda menjelma menjadi orang bebas, jangan kira sampah berserakan yang akan ditemui di bibir pantai, yang akan anda temuai adalah deburan ombak menyapu pantai berpasir putih, jejak kepiting seakan membuat peta di atasnya.

Jika perut keroncongan, tak usah ragu, Sala Lauak siap jadi pengganjal. Kalau masih tak kenyang rasanya perut, bolehlah mencoba agak sebungkus nasi sek. Tuan akan mencium aroma nasi bercampur aroma daun rebus. Selera tergugah, kepala ikan chapa siap jadi kawan.

Pucuk Pinus Pantai gandoriah, 31 Mei 2009.
“gandoriah, jangan renggut rindu ini untuk selalu berharap akan kembali. Bertumpu asa agar raga dapat bersua lagi. Secerca sedih ketika langkah berlalu. Berlembar-lembar uang yang terhambur di bibir mu tak berarti dari keceriaan yang kau beri”(**)

Iklan