serius-bana-ko-haTuLisan ini hanyalah lembar Hidup yang saya posying agar para FB Mania tahu kalau hidup inibukan ramah. Butuh perjuangan, namun tak sekedar opsesi untuk mendapatkan siapa yang menang atau yang kalah. Kisah hidup ini saya alami sendiri..Mungkin bisa jadi pencerahan bagi semuanya..

“Hidup, terkadang keras, terkadang penuh kelembutan bahkan menyala-nyala. Semua tidak bisaditebak karena hidup diantara keabu-abuan. Jangankan Berdiri, duduk saja susah. Hidup tak

akan bergeming, kitalah yang menggerakannya”

Kalau dimamah, Hidup saya curam kawan. Berliku. Terkadang menanjak, SEDETIK menukik tajam.

Bak nyata ucapan kalil gibran “hidup yang tak pernah lurus”. Semua berliku. Bisa Jadi, tak

akan ada yang percaya style masa lalu yang pernah saya jalani. Mungkin juga sebaliknya.

Terserah saja, percaya atau tidak yang penting ini kejujuran. Saya tidak perlu kepercayaan

karena tulisan ini bukan TUHAN. Sekali lagi, saya tak peduli.

C_7 Bandar Dalam, Nagari Kecil yang masuk dalam Kecamatan Situjuah Limo Nagari. Tepatnya di

SuduT Limopuluah Kota, Sumatera Barat. Disanalah pertama kali saya membuka mata, melihat

dunia yang silau dan mendengar Azan pertama. 28 OkTober 1987, jam 11 siang, ketika

Indonesia Raya Bergaung di makan Pahlawan “kuburan salapan”, ya, saat itulah saya lahir,

HARI SOEMPAH PEMOEDA.

Saya Lahir..!! Dari perut “Hawa Termanis”, tumbuh bergelimang kesusahan. Ayah hanyalah

buruh dipenggilingan Padi, tubuhnya ringkih. Maklum usia perlahan menggerogotinya. Legam

kulitnya telah menyamarkan TATOO Burung Garuda di lengan Kanannya, tatoo yang menandakan

betapa cintanya ayah ku pada Indonesia. “Garuda ini tak akan ku hapus. Aku bangga dengan

tatoo ini,” begitulah ucapnya.

Kalau Ibu, wanita penyabar, dia perkasa. Bekerja keras untuk menafkahi anak-anaknya. Ada

empat orang anak di atas aku. Badannya gempal, entah mengapa, walau sudah berusia hampir 60

tahun, uban tak pernah berani tumbuh di kepala ibu ku. Dia selalu tersenyum saat periuk

kosong, “sabar ya nak, ayah belum pulang bekerja. Nanti kita beli rendang daging,” itulah

hiburan yang kami terima dari mulutnya kalau tak ada lagi yang akan di makan. Tapi, kami

selalu senang dengan ucapan itu (walau jarang terealisasi).

Itu kedua orang tua ku. Kalau Hidup ku..sangatlah pahit! brutal dan kumuh. Di Bandar Dalam

aku mendapatkan semua rona. Maklumlah, Nagari ku komplit, pemabuk banyak, ustadnya juga

berlimpah!! Tapi, kalau aku masuk ke golongan pemabuk..!! Bukan cap diri, tapi itu

kenyataan.

Kayak anak desa lainnya, Aku melewati masa anak-anak disela lingkaran pematang sawah yang

menghijau. Bermain di punggung kerbau dan menyelami sungai untuk mencari keong adalah

hidupku. Satu lagi, aku adalah pencari durian. Rimba manapun aku tahu. Kalau sudah musim

durian, aku paling kaya. hahahaha.

Masa seperti itu aku lewati hanya sampai kelas tamat Sekolah Dasar. Masuk SMP, kehidupan ku

berubah total. Meleset jauh, lebih dari 180 derjat…!! Hidup mulai berputar, dari pencari

durian, aku berganti profesi menjadi pencari cimeng..!! Peminum air aren berubah menjadi

peminum tuak..!! YA, Di Bandar Dalam aku kenal nikmatnya tegukan tuak tradisional hingga

harumnya asap mariyuana dan betapa enaknya aroma Lem Cap Banteng, aku kenal di sana. Bahkan

itu semua sudah menjadi bagian hidup semenjak kelas Satu SMP. Lengkap sudah…

Bandar Dalam mengajarkan semua kehidupan dalam perkembangan diri ini. Kebrutalan

menjelang.Aku seakan “dicuci”. Dari seorang anak yang selalu memberikan oleh-oleh sebentuk

piala setiap penerimaan Rapor kepada ibunya hingga menjadi Hero Zero nan setiap malam

pulang dengan mata merah, berjalan sempoyongan, nafas berbau Tuak bercampur pekatnya

nikotin rokok tentunya tak lupa dengan buntelan saku yang berisi sekaleng “Banteng”.

Terkadang, dengan lentingan cimeng ditangan.

Aku BeJat..!! MabuK melulu, hampir setiap hari. Di kelas, belakang sekolah hingga di-WC

masih sempat sempatnya saya nyimeng. Kedai tuak Ripin diperbatasan Kota adalah tempat

nongkrong yang mengasyikan waktu itu. Cieng juga mudah waktu itu, beli Rp.3000 dapat empat

lenting tok..!!

Tapi, kalau dirunut AKU memang Bejat rasanya tak tepat, yang paling tepat rasanya AKU ANAK

DURHAKA. Mengapa tak begitu, aku tidak pernah berpikir darimana datangnya makanan di bawah

tudung, padahal bapak yang tubuhnya sudah bak mayat hidup tak kuat lagi bekerja. Banyak

tidur dari pada mencangkul. Batuknya kronis, terkadang dia tak tidur semalaman karena

penyiksaan batuk. Aku tak peduli, bapak sakit, aku mabuk! Aku juga tidak peduli melihat

keponakan yang menyuap nasi hanya dengan rebusan daun singkong. Persetan, Aku memang bejat,

eh durhaka.

Ayah sakit, gantian ibu yang bekerja. Aku ingat, Pernah saat orang-orang mengabarkan ibu

terluka karena tebasan sabitnya di rumpun padi meleset dan melukai tangannya. Lukanya

menganga. Orang-orang gaduh melihat daging ibu menggelayut berlumur darah. Aku..aku hanya

diam. Malah menyambar ongkos berobat ibu untuk membeli empat liter tuak. Aku masih ingat

uang itu berjumlah 6000 perak, terdiri dari recehan yang keluar dari ayam tanah liat

keponakan. Aku tinggalkan saja ibu yang sedang dibopong orang kerumah. Lebih baik terbang

ke Kedai Ripin, minum tuak. Tapi ibu hanya diam melihat tingkah ku. Ketika aku pulang, ia

sempat-sempatin membuat telor mata sapi. Dengan tangan berbalut perban, tangannya memecah

telur. IA tetap menganggap KU child sweetnya. Anak ramah.

Terkadang timbul penyesalan dalam diri. Kebosanan hidup yang itu-itu melulu datang. Jelang

tidur, tangis ku pecah. Untuk sesaat, kemudian tersenyum lagi di bawah pengaruh alkohol.

aKU LEBIH SERING tidur di Simpang Pincuran Tujuah dari pada di rumah, atau di rumah

chaniago. Maklumlah, waktu itu aku bak ketua, dielukan, menjarah ayam perkara biasa.

Titel sebagai anggota pemabuk 87 aku sandang. Kepongahan selalu hadir. Tapi, aku bukan tipe

parasit yang selalu menggantungkan hidup pada orang tua. Aku bukan benalu murni. Sejak SD

aku juga sering bekerja. Bukan pekerjaan enak. Semua aku lakukan. Dari pencari barang

rongsokan, mencari siput untuk makanan itik yang setiap embernya di hargai 750 rupiah

hingga jadi pengangkut tahi ayam serta mencuri buah melinjo dengan sahabat kental,

Hermansyah bin fauzi aku lakoni. Bayangkan, aku mengangkut tahi ayam ketika hujan turun.

Airnya yang bau pesing mengotori wajah dan turun ke mulut. Tapi ibu tidak tahu, dia tidak

kuat melihat anaknya bekerja keras. Ibu memang sangat sayang pada anak-anaknya.

Kehidupan sebagai pemabuk kecil terus bergulir, Aku semakin larut. Ngumpul-ngumpul,

ujung-ujungnya mabuk. Namun yang namanya hidup hanyalah fatamorgana, semua bisa berubah

cepat. Tamat dari SMA setelah lima tahun duduk disana, kelakuan mulai menjadi. Aku tetap

bekerja untuk mencukupi kebutuhan “Banteng”, Tuak dan rokok cimeng. Akusemakin terpuruk.

Jangan tanyakan wanita pada diri ini. Jangan. Semuanya jijik pada pemabuk kecil dan tukang

buat onar. Aku juru pukul tukang palak serta melarat. Sekali lagi jujur, ada seorang yang

berbekas. ya..seorang perempuan yang tubuhnya selalu terselubung jilbab. Hanya Dia yang mau

dekat pada ku. Walau kedekatannya KU anggap hina. Bagi ku, waktu itu, wanita berjilbab bak

alien….

Walau bisa hidup tenang, tapi terkadang melarat itu pasti menimpa. Ada saja pengganjalnya.

Begitu juga aku. Hidup mulai meradang. Terlunta mulai ku jalani, hingar dan kekerasan

perlahan datang. Aku mulai merasa sepi. Semuanya semakin terasa saat IBU PERGI…!!! Itulah

puncak karier sekaligus akhir di“dunia hitam”(walau tak sehitam malam). Sejak itu, Semuanya

berubah cepat. Aku serasa kehilangan pegangan. Di satu sisi, puing kebebasan juga terselip

di hati karena tidak ada lagi orang yang menyuruh sholat atau menyuapin makan seperti anak

kecil. Ibu sudah pergi, melampaui laut.

Aku terlunta, kerasnya jalanan dilakoni untuk menyambung hidup, Ngamen, jadi tukang angkut

aku jalani. Tetap berjuang dan berkarya dengan style rambut mohawk dan celana ketat lengkap

dengan gemerincing gelang berduri. Waktu jadi Punkers, aku merasa menemukan kebebasan.

Hingga kini, aku masih punkers, walau tak lagi dijalanan, tapi paham Anarchysme masih

melekat. Ironisnya, aku melihat kejanggalan. Para punk saat ini menganggap punk adalah

musik, style dan jalanan, padahal Punk adalah jiwa. Bukan hanya musik!

Kehidupan ku berakhir. 19 September 2006, semuanya luntur. Aku masih ingat pada malam satu

hari jelang ramadhan itu bintang berhamburan di angkasa. Mereka seakan menemani ku yang

sedang asyik-asiknya mengadu untung di meja judi. Waktu itu aku beruntung, menang banyak.

Habis berjudi, dengan gitar ditangan, petikan mulai mengalun, menyanyikan lagu-lagu yang

tidak percaya dengan Pemerintahan dan hukum. Hati senang dengan uang yang memenuhi saku

celana hitam yang dipakai. Namun itu tak bertahan lama, petikan gitar berhenti setelah satu

mobil pengawas kota datang. Mereka berhenti tepat di depan ku.

Sialnya mereka mendengar nyanyian yang berlirik “Koruptor Anjing, Koruptor maling, perut

buncit kayak kerbau bunting”. Petugas itu tersinggung dengan nyanyian nyeleneh yang keluar

dari mulut Ku. Tanpa basa-basi satu pukulan telak nyasar di pelipis kanan ku. Buk, aku

tersurut, sesaat aku diam tapi hati berontak, pukulan itu seolah hinaan dan aku anggap

(waktu itu) trade mark penguasa dan aparat. Saya dipukul tanpa ba-bi-bu..Terang saja

gejolak muda mendidih. Sepakan kaki yang sudah terbiasa berlalu kencang tepat menghantam

rusuk penampar itu, dia terduduk. Tak alang, kesempatan itu AKU jadikan pelampiasan, dengan

geramnya aku pukuli aparat yang berinisial “ZG” tanpa ampun.

Uhh..tanpa ku sadari..dua pasang tangan kekar berpakaian preman sudah memegangi

lengan.Dengan borgol yang siap sedia, aku diseret ke dalam mobil tanpa celana. Ya, celana

ku melorot. Aku tertangkap..Sungguh kasihan sementara teman-teman yang selama ini aku

anggap selalu bersama hanya memandangi dengan tatapan sangat menjijikan. Mereka tega

membiarkan ku diseret dengan celana melorot. Siapa lawan ku? aku bertanya? kok ada borgol?

Dalam mobil tanya ku terjawab. Ternyata ZG aparat! suatu kesalahan besar berkelahi dengan

mereka. sangat fatal malah. Pukulan bertubi-tubi menghinggapi kepala bagian belakang..tanpa

ampun..mereka seakan merdeka mempreteli ku diatas mobil itu. Akujadi bulan-bulanan.

Kata-kata kotor mereka ucapkan, sampai-sampai mereka bilang kalau ibu perempuan malam.

Bathin teriris, namun mau apalagi, mereka yang berkuasa.

Penyiksaan belum berhenti. Sampainya di Kantor aparat Payakumbuh aku diintrogasi sembari

disuruh mengunyah puntung rokok marlboro. Rasanya sangat pahit. Tak ada yang menolong. Yang

ada dalam ingatan cuma ibu. Entah bagaimana perasaannya ketika tahu anaknya ditangkap.

Padahal dia masih terbaring lemah karena sakit yang dideritanya sepulang dari Batam.

Semua penyiksaan itu belum seberapa. malam itu aku didaulat sebagai penghuni rumah

berjeruji besi yang berbau menyengat. Aku tak boleh pakai baju. Malam itu harga diri

terinjak. Bagaimana tidak, sepanjang malam aku disuruh menggonggong seperti anjing dan

merangkak, kalau tidak mau, diancam akan “dihilangkan”. Selain itu, aku disuruh berdiri

terbalik, dengan kepala menempel di lantai penjara. Pukulan tak berhenti sampai-sampai

darah segar mengucur dari mulut, hidung dan telinga. Para penjaga yang menyiksa hanya

tertawa dan berkata “Malam ini kau adalah anjing penjaga “rumah” ini”. Hati hancur. Tangan

yang selalu ditakuti kini menciut dihadapan para aparat berseragam itu. Hargi diri mati.

Sepanjang malam aku disiksa. Para penghuni lainnya bahkan sudah memohon “mereka” untuk

berhenti memukuli tubuh ku yang sudah tak berdaya. Kalau tak dipegang, tubuh ini lunglai.

namun itu semua tak dihiraukan…pukulan semakin bertubi. Aku dipukul, tak lupa menggonggong.

Bogem-bogem mentah tak pernah berhenti.

walaupun darah tak berhenti keluar dari mulut. Namun AKU tak menangis. Haram rasanya

menangis. Oh ya, aku ingat waktu itu, presiden SBY datang ke Batusangkar karena dinobatkan

menjadi datuk. Pagi harinya, entah angin apa, aku dibebaskan tanpa syarat. Aku tidak tahu

siapa yang menjamin keluar tahanan, yang saya tahu “mereka” bilang “kamu hebat ya..bisa

keluar,,,bapak mu pejabat ya? Ah, mereka tidak tahu kalau bapak hanyalah seorang petani

miskin.

Dengan wajah yang membiru dan membengkak serta kening menggelupas AKU TUMPANGI angkot untuk

pulang. Orang-orang memandang jijik. Aku hanya memakai celana sobek tanpa baju. Sampainya

dirumah raungan dan tangis ibu menyambut. Mereka tak kuasa melihat keberadaan ku yang

sangat tak karuan. Untuk pertama kalinya aku menangis. (aku tak ingat sebelumnya kapan

terakhir kali menangis).

Keluar dari “penjara semalam” aku mulai berpikir tentang semua yang aku lalui. Tak ada

untungnya dan berfoya tanpa tahu jerih payah orang tua. Akhirnya keputusan aku ambiluntuk

berubah dan meninggalkan semuanya. Aku pengen hidup tanpa Tuak, asap Mariyuana dan aroma

Banteng. Aku berubah. Tapi sangat sulit, aku harus berjuang keras untuk itu.
Memang, setelah keluar saya jadi ditakuti dan diberikan jatah minta uang pada setiap warung

pada Hari Kamis. Tapi itu tak membuat bangga. Apalagi melihat wajah teman-teman yang waktu

aku diseret hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa untuk menolong. Aku ingin bekerja

yang halal dan jauh dari hiruk pikuk dunia hitam.

Untunglah Tuhan membuka jalan, dengan bakat menulis yang aku miliki, akhirnya ku diterima

bekerja disebuah Surat Kabar Harian di Sumatra Barat, Ya, aku bekerja di POSMETRO Padang,

anaknya JAWA POS Group. Aku mulai merubah hidup dan melupakan semua masa lalu yang kelam

walau terkadang keinginan untuk “kembali” selalu hadir mengusik. Sekarang aku bebas dari

dunia kelam. aku sudah bisa melihat kembali senyuman ibu dan yang pasti tak lagi membiarkan

keluarga makan dengan sayur kangkung.

12 Mei 2009, BLITAR, Jawa Timur.

(Maaf kalau tulisan ini asalan. Tapi ini adalah kisah nyata yang ku lalui. Aku tak peduli

sobat percaya namun itulah lembar kehidupan kelam yang aku rasakan. Terimakasih untuk semua

yang telah memberikan dorongan agar ku berubah. Namun yang menjadi tanda tanya besar bagi

ku sampai saat ini adalah sosok yang telah menjamin untuk keluar dari “rumah kelam”..Siapa

dia,,bagaimana aku akan membalas budi?)

Iklan