anak-3“Dimanakah kita..saat saudara-saudara kita meraung di tengah sulitnya hidup? dimanakah kita ketika tangan-tangan kurus bocah pinggiran kota menengadahkan tangan? mereka..saudara kita..apakah kita buta dan tuli terhadap penderitaan mereka?jangan tuli dengan nasib dan jangan buta dengan hidup. Tetesan air mata, lengkingan jerit di atas kasur muram..tidakkah kita dengar..ataukah kita memang sudah lebih hina dari pelacur sehingga luka mereka tak kita rasai.kita memang bejat”————————————————

Darah-ku bergemuruh tak kala melihat sesosok bocah mungil tergolek diatas kasur buram. Matanya sungguh bening..keceriaan terjelas di mata-nya. Namun, yang membuat penulis miris adalah keberadaan tubuhnya..Kepalanya lebih besar mungkin lebih besar dari milik penulis. Urat kepalanya jelas membungkus darahnya. Tapi, kenapa matanya tetap bersinar?tidakkah dia merasakan penyakit yang dideritanya?

Bocah itu bernama Dara Wahyuni, umurnya baru dua bulan,tubhnya gempal dan terlihat sehat. Sesekali matanya yang bersinar bersih berkerling seakan memaksa setiap orang yang melihatnya tertawa. Dia seperti ingin menghibur. Namun, tawa ini tak sanggup keluar dari mulut. Kerlingan matanya seolah menyindir dan berkata “semoga kau tidak merasakan sakit
yang aku derita”.

Uh..aku tak sanggup memandang mata itu. Penulis gugu..Dia hanya bisa tergolek di atas kasur kucel berwarna merah. Sedangkan ibunya menjagai gadis itu. Dia memang manis.Namun, kepalanya itu, membuat penulis menangis..sungguh menangis!. kepala bayi pasangan Kasmarina (30) dan Amrizam (32) itu menderita penyakit Hidrosefalus.

Sementara, celana pendek kuning yang dipakainya selalu basah oleh air seninya. Dara tak pernah bisa berhenti buang air kecil. Sekali lagi, dia mengerling..Sesekali Dara merengek minta susu pada ibunya. Tangisan yang keluar dari mulutnya hanya berupa erangan. Suaranya terputus-putus. Dia tak bisa bergerak. hanya tertelentang di atas air seninya yang mulai merembes dan membasahi kasur tempat tidurnya. Dia tersenyum membuat
miris hati orang sekitarnya. Kakinya menghentak ke tanah.

Sang ibu cepat-cepat menyodorkan putingnya pada sang anak yang menyusu dengan lahap. Kepalanya ditopang sebelah tangan sang ibu. Kalau tidak ditopang, kepala anaknya hanya akan terkulai lemas. Baju kuning yang dikenakan Dara bersimbah air seninya. Rona merah terlihat disekujur pantat Dara tak kala ibunya mengganti celananya.

“Kenapa tidak di bawa ke rumah sakit bu”saya bertanya. Mata saya tak bisa lepas dari mata sang dara. Dia seola minta perlindungan.

“Kami tidak punya uang nak. Untuk makan saja susah. Dara adalah anugerah. Walau dia tidak normal, tapi dia adalah buah hati saya. Selagi saya bekerjaKu Dara terpaksa saya tompangkan pada neneknya. Saya harus bekerja membantu suami. Anak saya ada lima yang butuh makan. Lebih uang makan disisipkan untuk biaya obat dara. Jujur saja, saya merasa berdosa tak mampu mengobati dara..tapi mau apa lagi..kami tak punya uang,”air mata sang ibu mulai menggenang dipelupuknya.

Jawaban yang menyesakan dada..ketika kita berfoya, orang lain malah menahan lapar. Ketika

uang sepeser tidak berguna, orang lain malah membutuhkannya. Kita memang brengsek..teramat brengsek..kalau tidak mengapa semua kita biarkan. Sekali lagi, kita brengsek dan brengsek. Tidakkah kita dengar tangisan mereka..tidakkah kita peka..jangan jadi pecundang dan bahagia   dengan harta yang kita miliki tapi bahagialah dengan apa yang pernah kita beri.

Iklan