uang_melayang_inflasi_by_halim3“—Perempuan itu berbaju merah..duduk terhampar di atas dipan yang kapuknya sudah terbuang dan terbang memenuhi ruangan sumpek..dia menangis…ketegarannya rapuh..Perlahan, tangannya meremas seprey yang sudah awutan..matanya yang sayu menembus mata penulis..diah seolah minta perlindungan..—“

Perempuan berbaju merah itu bernama Nurdayanti, berumur 21 tahun..wajahnya sudah kelihatan lebih tua dari umurnya..Mungkin dampak dari beratnya perjuangan hidup yang terlewati..

Kondisi Diah sangat memiriskan…Matanya terlihat sayu, diah menahan genangan air di pelupuk matanya agar tak jatuh. Ada keresahan teraut dari wajahnya berbentuk oval itu. Namun, walaupun sudah sekuat tenaga menahan air matanya agar tak keluar, namun Diah sia-sia. perlahan, tetes demi tetes, air bening itu mengalir, membasahi wajahnya. Hidungnya memerah. Dengan sesenggukan, Diah menceritakan pengalaman pahitnya kepada penulis.

“saya seperti orang terpinggirkan…uang lebih berharga dari pada keadilan dan keberpihakan,”Diah mengumam.

Hampir dua tahun Dia lulus dari SMA Negeri 6 Kota Padang, namun selama itu pulalah gadis yang lahir dari perut ibu bernama Idah (43) ini belum menerima ijazah asli sebagai bukti kuat kelulusannya. Diah tidak bisa berbuat apa-apa walaupun dinyatakan lulus. Ijazahnya tertahan. Jangankan untuk kuliah, melamar kerja saja Diah tidak bisa.

Menurut Diah, ditahannya ijazah tersebut dikarenakan banyaknya tunggakan biaya yang belum dilunasinya. Mulai dari SPP hingga uang pembangunan. Maklum, Diah hanyalah anak seorang pekerja serabutan, bapaknya, Hen (51) tak mempunyai pekerjaan yang pasti. Jangankan untuk membayar tunggakannya, untuk sekedar uang makan keseharian saja, sang bapak sudah pontang-panting banting tulang.

“Saya sudah dua tahun lulus, tapi hingga detik ini, saya belum bisa melihat ijazah asli saya. Ijazah itu masih ditahan disebabkan saya belum mampu membayar tunggakan uang pembangunan. Saya tidak punya uang untuk membayar tunggakan tersebut. Bapak hanya pekerja serabutan, dapat makan saja sudah untung,”ulas Diah menghapus air matanya dengan sudut lengan baju.

Memang, perempuan muda yang berlindung di sebuah pondok semi permanent di tepian sungai daerah di Lubuak Bagaluang yang saat ini bekerja sebagai Sales Promotion Girls (SPG) di salah satu Plasa di Kota Padang sudah mengantongi foto copy ijazahnya. Tapi hal itu belum cukup jualah sebagai pengobat keinginannya untuk melihat hasil kerjanya selama tiga tahun. Bukan perkara mudah bagi Diah agar bisa mendapatkan foto copy ijazahnya itu, Dia harus meminjam uang kepada seorang tetangga sebagai penebus ijazahnya.

“Hutang saya di sekolah sekitar Rp.600 ribu, untuk mendapatkan foto copy ijazah saja saya diminta menyediakan uang Rp.300 ribu, setengah dari hutang, kalau tidak saya tidak boleh melihatnya. Sungguh, hati ini sangat ingin melihat nilai asli, Ayah dan Ibupun begitu, bagaimanapun juga keinginan itu sangat kuat. Tapi apa daya, kami tidak mempunyai kapasitas untuk mewujudkan itu semua,”celoteh Diah, tangisnya sudah mereda.

Bapaknya, Hen berkulit hitam ringkih tampak mengaso..dia hanya bisa merenung dan mendengar rauangn anaknya..mungkin saat itu sang bapak ingin tuli karena tak sangup mendengar isakan anaknya yang berharap mendapatkan surat wasiat.

Diah yang merupakan anak ke empat dari tujuh bersaudara adalah contoh kecil potret warga Kota yang terpaksa menahan hasrat karena nasib yang melarat. Dari tujuh orang saudaranya, tiga diantaranya putus sekolah dikarenakan tidak adanya biaya. Diapun pernah menganggur setahun agar adik-adiknya yang lain bisa sekolah. Diah mengalah.

Berbekal foto copy ijazah, akhirnya Diah melamar pekerjaan pada salah satu Plasa di Kota Padang, syukur akirnya Dia diterima. Dari hasil gaji bulanan itulah dia menafkahi keluarganya. Sang bapak kini sudah sakit-sakitan dan tak kuat bekerja keras. Diahpun berharap adanya uluran tangan agar keinginan untuk melihat ijazahnya bisa terwujud. Ah..memang berat ketika uang sudah berkuasa..pendidikan,,bukan anak tiri lagi..tapi anak kandung untuk meraup untung..semuanya busuk..(**)

Iklan