iwan-fals-mata-dewa-1989 —————TULISAN NGALOR————-

—-Tulisan ini hanyalah sekelumit coretan sampah. Nan penulis harap bisa merubah image kaum lelaki terhadap wanita..kalau salah kritiklah..Maaf jika ada yang merasa tersudutkan dengan tulisan ini..sAYA TIDAK MERASA BERSALAH..namun yang pasti maksud saya tidak demikian..Tulisan ini termotivasi setelah saya membaca cerita disebuah situs berbau porno..Akh..siapa yang bisa menebak jalan hidup…———-

Aku terbangun dan mendapatkan laki-laki itu sudah berada di sebelahku. Wajahnya yang berwibawa tampak semakin tua dengan kerutan-kerutan yang menghias dahinya. Sekejap perasaan kasihan dan sayang merasuki hatiku, namun kebencian yang mendadak menyusul membuat perasaan itu hilang seketika. Yang kulihat di sebelahku beberapa saat kemudian hanyalah seorang tua yang kotor dan sama sekali tidak berperikemanusiaan. Aku membencinya. Sungguh-sungguh membencinya, sampai aku ingin membunuhnya saat itu juga. Seandainya hati dan tangan ini mampu.
“Kamu baik-baik saja. Maafkan saya.”

Maafkan?

Kupandangi setiap gerakan bibirnya saat berucap. Maaf apalagi yang kauharapkan dariku? Kurangkah kepasrahanku selama ini sebagai bukti maafku padamu? Aku tak sanggup memandang matanya. Tidak sekarang. Kupejamkan mataku dan kugigit bibir bawahku. Air mata ini tak boleh keluar sekarang.
Dari balik selimut putih kuraba bekas jahitan di bawah perutku. Inikah yang kau ingin kumaafkan?

Aku memaafkanmu saat menyetubuhiku.Berulang-ulang, bukan hanya sekali. Sampai adikku meringkuk di rahimku. Adikku. Tidakkah kau sadar itu iblis tua?
Adikku. Siapa lagi?Yang akhirnya kurasa lebih bernasib mujur karena tak pernah mempunyai kesempatan untuk mencicipi getir kehidupan seperti adanya diriku.
Dan sekarang kamu masih ingin aku memaafkanmu?
Ya, kumaafkan kamu.
Papa.

Bab II

Aku merasakan pandangannya. Aku merasakan air liur yang tertelan di tenggorokannya saat melihat ketelanjanganku.
Aku membenci seringai di wajahnya. Kubalikkan tubuhku dan mengenakan kausku sebelum seringai itu benar-benar membuatku menjerit.
“Kamu melakukan itu dengannya, kan?”
Dan sekarang bisikan itu begitu dekat di telingaku, membuat seluruh bulu di tengkukku berdiri.
“Apa-apaan kamu!”
Kubalikkan tubuhku tapi tangannya sudah menggenggam pergelanganku. Wajahnya menempel di sisi wajahku dan menelusurinya. Dapat kurasakan nafasnya yang berbau alkohol menyapu saraf-saraf pennciumanku.
“Ya. Kan?” dan sekarang ia sudah mendesis di depan bibirku.
Kurenggut tanganku dan kutempeleng wajah adikkku, membuatnya sedikit terhuyung lalu terjatuh. Dan ia hanya tertawa.
“Pelacur.”
Memang aku seorang pelacur.
Kuhempaskan tubuhku di atas tempat tidur dan kubenamkan wajahku di bantal. Kubiarkan air mataku mengalir lepas dan membasahi semua yang bisa dibasahi. Kudekatkan cincin emas di jari manisku kebibir dan mengecupnya sambil terisak.
“Aku… kini… seorang pelacur.”

Bab III

“Lagi?” desahku beberapa saat kemudian. Namun lelaki itu hanya mengeluh dan memejamkan matanya. Sekejap. Tak satupun kata keluar dari bibirnya. Bangsat. Sampai kapan kamu melakukan ini?
Lelaki itu mengatupkan telapak tangannya. Satu hal yang sudah kuketahui pasti saat itu. Ia masih menginginkannya. Dan sekarang ia sudah mengangkat daster tidurku. mungkin aku semakin gila kalau aku terus menikmati hal ini.

Pelacur.
Mungkin aku seorang pelacur, karena ternyata aku mulai menikmati semua sentuhan yang menggetarkan pori-pori di tubuhku. Aku merasakan setiap getaran saat lidahnya menyentuh dan menelusuri kulit tubuh ku. Dan bahkan aku menggelinjang saat jemarinya menari di atas lekukan-lekukan tubuhku. Bekas luka itu. Ia menyentuhnya. Iblis. Untuk apa kamu menangis? Kurasakan dada telanjangku dibasahi oleh air mata yang menetes dari pipinya. Masih ingatkah kamu akan dosa? Tapi kenapa kamu tidak berhenti? Sebejat itukah dirimu?

Pelacur.

Mungkin aku seorang pelacur karena ternyata aku disetubuhi ribuan pejantan. Mungkin hanya pelacur yang merasa terangsang tanpa perasaan sedikitpun. Mungkin pula hanya pelacur yang membiarkan tubuh lelaki manapun berkutat di atasnya tanpa ekpresi apapun.
“Ahgg..” Lelaki itu mengerang dan mengejang.
Tak ada semburan yang kurasakan. Namun tetap getaran dan sengatan yang sama.
Aku seorang pelacur.
Karena aku menikmatinya.
Tanpa ekspresi.

*

Kututupi ketelanjanganku dengan selimut. Akhirnya air mata ini keluar juga. Bantal ini mulai terasa lembab. Beberapa saat kemudian kududukkan tubuhku dan mengambil sebuah buku biru kecil dari dalam laci. Kupandangi buku kecil itu dan merasakan air mata kembali menetes di pipiku. Sudah lama sejak terakhir aku menuliskan kata hatiku di buku ini. Batinku ingin membuka dan menuliskan lagi beberapa patah kata. Namun benakku menyadari ketidakhidupannya. Menyadari kekonyolanku, karena aku sekarang bertarung dengan kehidupan, dan sesuatu yang mati takkan menolongku.
Kumasukkan lagi buku itu ke dalam laci setelah menghela nafas dalam-dalam.singgah
Tapi aku tak bertarung sendirian.
Sahabatku dan kekasihku. Kalian hidup dalam hatiku.
Selamanya. Kau dan dia.

Kukecup cincin emas di jari manisku sebelum melangkah menuju kamar mandi. Setidaknya aku harus membersihkan dosa-dosa yang tersisa dari tubuhku.
Sampai kapan?
Entahlah.

Kulirik cincin emas yang melingkar di jari manisku.

I will survive just for him.
Wait for me, Steve.
Sagabor, I love you.
Dan kenyataan kisah ini tersimpan dalam diri dua anak manusia. Aku percaya bahwa suatu hari nanti akan ada seseorang yang memperbaiki sisi-sisi terkoyak dalam kehidupan kami.
Seandainya Tuhan memang ada.
Biarlah Ia yang mengurus sisanya.

***

“Let’s put an end to this, shall we?”
I can feel nothing
But the pleasure inside
I can cry no more
`cause I enjoyed it
Then it’s just something
(they called it `LOVE’)
Pushing the `must go on’ ride
The ride that’ll never go ashore
And makes everything all right
So I’m just a simple being
With pains masked the otherside
Truly I’m a whore
`cause I enjoyed it
Oh well, it was Me anyway
Goodbye for now
I have a life to go on
Do you…

——Ini hanyalah tulisan nyeleneh..Dalam tulisan ini saya hanya ingin para lelaki tahu kalau perempuan adalah ibu…Bukan pelepasan nafsu..maaf ya kalau tulisan ini berbau seks..tapi itulah hidup..tak melulu dalam lembar putih..saya tidak peduli kalau ada yang jijik dengan tulisan ini..saya tidak butuh..—–

Iklan