—-Kabar Terakhir dari “Pemilik Mata Indah, Pena dan Kampanye—-

Saya tidak tahu,,apakah kisah ini sebuah kesialan atau berkah. Mungkin pembaca bisa mengartikannya sendiri. Baiklah–”Tuhan tak mengizinkan saya untuk berselingkuh”. Mungkin itulah kata yang tepat dilabelkan kepada diri ini karena pertemuan saya dengan Anak pemilik Pena berguratan halus tak jadi terealisasi.Pasalnya, baru saja saya men-starter Supra-Fit sehabis Jum,at untuk pergi menemui sang gadis pemilik mata indah itu, ternyata hujan turun sangat deras membasahi Kota Padang.

Padahal sebelumnya hari cerah, tak ada tanda-tanda hujan akan turun.”Sial” hanya itulah kata-kata yang terucap dari mulut saya. Namun untuk apa dan kepada siapa saya menghujat. Kepada Hujan??. Kalau iya sama saja saya menghujat Tuhan yang telah menurunkan hujan itu. Saya hanya bisa termangu merenungi nasib.

Driiinnggg…”Bg hari hujan,,bagaimana ne”…sederet tulisan yang mampir di layar HP saya. Gadis pemilik mata indah mengirim SMS.

“Bagaimana lagi Dq,rupanya Tuhan belum berkenan memberikankita kesempatan untuk bertemu. nanti kalau hujan reda, Bq usahain ke sana..Tunggu ya”. Balasan sms segera saya kirim.

Namun, menunggu hingga pukul 15.30 akhirnyan hujan tak reda. Padahal sudah beribu doa saya panjatkan agar hujan benar-benar berhenti dan berganti dengan terpaan sinar lembut matahari. Namun semuanya sia-sia. Pertemuan ini akhirnya tertunda. Saya terpaku membayangkan gadis itu sudah berdandan dan duduk manis menunggu saya datang. Atau mungkin juga sudah menyiapin segelas kopi hangat buat saya. Perlahan keinginan itu memudar seiring semakin mengucurnya tetesan bening dari atas langit.

Mungkin Tuhan memang benar-benar bekum mengizinan saya untuk berselingkuh. Ah,, Tuhan memang tak pernah mau melihat umat-NYA tergoda dengan kenikmatan dunia. Tapi jujur, saya kecewa dengan turunnya hujan siang hari ini. Saya gagal memandangi dengan puas mata

bening itu, padahal saya sudah ngebet dan bela-belain kejar berita sekedra memandangi mata itu.Dalam tegun saya, HP berdering lagi. “Bang jangan Lupa mum-nya. Jaga kondisinya, saya tak mau melihat bang jatuh sakit karena kecapekan,”. Satu pesan yang membuat saya tersadar dari kebodohan yang saya lakukan.

Mengapa, hanya karena pandangan pertama saya harus melupakan seseorang yang selalu tak lupa menyemangati saya. Saya memang pembual, saat dia memikirkan saya sedang bekerja, saya malah asyik-asyikan menunggu hujan reda untuk bertemu dengan perempuan lain.

“Bentar lagi Bg mum..lagi tanggung ne kerjanya”. Saya berbohong lagi..

Iklan