Pagi itu suasana Kota Padang tampak lebih berwarna.Tumplekan berbagai poster lima orang calon-calon pemimpin Kota Padang berserakan. Di tiang listrik, bangunan rumah, bahkan diatas tugu perjuangan..”Alek demokrasi Badunsanak”, begitulah rang Padang menyebut detik-detik jelang pemilihan sang pemimpin mereka beberapa tahun ke depan. Ya arena pertarungan terbuka sudah terhampar. Lima pasang calon sudah ditentukan untuk berkampanye merebut suara rakyat, tentunya dengan kelegalan seperti apa yang dilontarkan Panwaslu (walaupun masih ada yang berbuat nyeleneh).Sebagai insan pers, tentu saya tak mau ketinggalan memburu berita tentang seluruh prilaku lima pasangan yang berkampanye. Apalagi, hari ini (6 oktober) hari pertama mulainya pertarungan itu. Setelah sempat berpikir, pasangan mana yang akan saya buntuti, saya melangkah ke arah pasar Gauang (mungkin hanya orang Padang yang tahu letak pasar ini) target adalah calon incumbent. Baiklah, pasar itu termasuk ke dalam areal pelabuhan kesohor Sumbar, Teluk Bayur.

Sampai di Pasar becek itu, akhirnya saya harus menunggu lama karena calon tak jua kunjung datang, sementara itu, teriakan ala pasar selalu singgah ditelinga saya, keras dan kasar. Semuanya sudah biasa, bahkan kalimat itu pernah menjadi bagian hidup saya.

“Raja” yang ditunggu datang. Setelah ambil poto, saya mau sedikit wawancara. Tapi sial, pena saya raib entah kemana. Saya kehilangan barang paling berharga bagi seorang seperti saya. Parahnya, di pasar Gauang tak ada yang menjual pena, di sana hanya ada sayuran dan ikan!!.

Saya berpikir keras, mau minjam saya malu. (Masa” wartawan tak punya pena). Akhirnya dengan berat hati terpaksa jualah saya meminjam pena pada seorang ibu tua penjual beras, alasan saya minjam padanya karena tentu seorang penjual beras membutuhkan pena untuk mencatat pemasukan atau pengeluarannya.

“Jangan lupa dikembaliin ya nak, pena itu sangat berharga,”ujar Ibu itu yang seakan berat hati memberikannya.

Sejenak saya pandangi pena bermerek Al-tilop itu, memang unik, pena yang memakai sistem suntik tinta. Di-sekelilingnya penuh guratan halus.

“Pasti saya kembalikan buk,,saya minjam sebentar,”celoteh mulut saya yang masih terkesima dengan keindahan yang dimilikinya.

Tak terasa dengan pertolongan pena itu, akhirnya sesi wawancara saya lancar dengan berbagai pertanyaan yang saya anggap sedikit menyudutkan sang calon. Namun saya lupa mengembalikan pena sang Ibu dan terus saja berlalu ke kantor, setor berita, tanpa sadar telah “mencuri”.

Sampai dikantor berlantai tiga yang cat-nya telah memudar, baru saya sadar kalu ada benda bulat memanjang yang tersangkut di saku-saku baju saya. Saya tersentak, sekan disadarkn kalau telah membuat satu kesalahan fatal. (Saya menganggap kalau saya telah menjadi seorang pencuri berwajah lembut).

Bergegas saya turun kembali ke lantai tiga, menyambar helm dan ngebut kembali dengan Supra-fit kebanggaan saya menuju Pasar Gauang dan berharap sang Ibu masih menunggu. Rupanya benar, sang ibu masih celingukan diatas tumpukan karung beras.

sedikit malu saya menghampirinya yang memandang lekat wajah saya. “Bu maaf, tadi penanya ke bawa,ini bu, sekali lagi maaf ya,”ulasan perkatan yang membuat muka saya memerah menahan malu dan tkut ibu itu marah.

Tapi rupanya sang ibu tersenyum dan menepis tangan saya. “Pakailah pena itu, dia menjadi milikmu,”Ibu itu terus memandangi saya lekat. Tentu saja saya tertegun, rupanya sang Ibu menganggap saya jujur (saya tak tahu, apakah itu benar). “pena itu sebagai hadiah untuk anak yang jujur seperti mu).

“Terimakasih bu, saya mengantongi pena itu karena benar-benar ingin memilikinya (hehehe). Setelah sempat berbasa-basi dan meninggalkn kartu nama, saya pergi. Namun

sebelumnya saya sempat menangkap siluet pasang mata indah dari warung sang ibu. Pemilik mata itu selalu memandangi saya. Mata itu benar-benar indah…

Teringat berita yang masih ngambang akhirnya saya berlalu kembali menuju kantor, melupakan kebaikan sang ibu sejenak dan juga menepiskan sepasang mata indah dibalik gantungan bungkus berbagai bumbu makanan.

Kembali saya sampai dikantor dan menekuni layar komputer menyiapkan kerja yang tertunda. Tak berapa lama, HP saya berdering, pertanda ada sms yang masuk. Nomornya tak saya kenal namun disitu tertulis, “terimakasih tas kejujurannya, saya salut pada abang,”saya penasaran, kejujuran apa yang saya lakukan.

SMS itu saya balas singkat, “ini siapa”. pesan terkirim dan saya menunggu beberapa saat hingga HP saya berbunyi kembali. “Anak pemilik pena Pasar Gauang,,,,”. Pikiran saya terlintas sesosok pemilik mata indah diantara gantungan bumbu masakan..Diakah itu?.

Akhirnya saya nekad menghubungi dia..rupanya pengirim sms itu adalah pemilik mata indah. Kami ngobrol panjang lebar hingga berjanji ketemuan siang ini di suatu tempat. Ah, saya tak menyangka kalau semua ini berujung indah…

Iklan