Dua buah tenda besar berwarna hijua pudar tampak berdiri tempang di atas reruntuhan bangunan bekas rumah di Kelurahan Subarang Padang. Hanya satu tenda yang berdiri di samping pokok pohon jambu terlihat utuh. Satunya lagi tampak tersungkur ke tanah. Tercabik, karena sudah lebih setahun berdiri. Diterpa panas dan dihantam hujan. Tak jauh dari tenda, tampak sebentuk bangunan mungil yang berdinding spanduk beratap seng. Bangunan kecil yang dijadikan tempat mencuci pakaian sekaligus tempat mandi penghuni tenda. Panas terasa sangat kentara di areal reruntuhan.

Ditenda pemberian Departemen sosial itulah para korban eksekusi sengketa tanah 23Agustus tahun 2007 lalu bertahan dari kerasnya hidup. Hampir setiap hari mereka bergelut dengan penderitaan yang datang silih berganti. Tak hanya tersiksa secara bathin, mereka juga tersiksa secara fisik. Beragam penyakit sudah sering menghinggapi tubuh-tubuh para kaum kurang beruntung itu.

Namun, mungkin karena terlalu beratnya cobaan yang dihadapi, akhirnya satu persatu dari 10 keluarga eksekusi mulai “gugur”. Ada yang lari mencari kontrakan lain, pergi numpang di rumah saudara meraka yang lain. Bahkan empat diantara mereka meregang nyawa di tenda pengungsian karena tak kuasa menanggung penderitaan. Hingga kini, hanya satu keluarga yang masih tetap bertahan tinggal di bangunan yang bersuhu tinggi di siang hari namun teramat dingin jika malam datang.

Adalah Ikhsan (54) beserta istri dan empat anaknyalah yang masih bersikukuh menempati tenda. Bagi Ikhsan, bertahan adalah salah satu langkah mempertahankan apa yang dimilikinya. Dia tak peduli, walaupun ukuran tenda terasa sangat sesak menampung tubuh enam keluarganya beserta segala perkakas yang dimilikinya. Ikhsan tetap tabah.

“Hanya saya yang tersisa. Selebihnya sudah KO. Bahkan Mak Buyuang (74) juga sudah meninggal beberapa hari yang lalu di dalam rumah mungil di sana,”ujar Ikhsan menunjuk sebuah bangunan dari seng di sebelah kanan tendanya.

“Saya tetap akan bertahan hingga ada kejelasan hukum terhadap apa yang saya alami. Walaupun tidur berhimpitan di dalam tenda dengan ember yang berserakan untuk menampung tetesan air dikala hujan datang. Saya tetap akan bertahan. Ini milik saya,”ulas Ikhsan yang wajahnya tampak bersih dengan kumis tipis terkucur rapi di atas bibirnya.

Menurut Ikhsan, tidak ada yang salah ketika dia membeli tanah dari pemilik sebelumnya. “Tahun 1987 saya membeli tanah ini dengan harga Rp.3,5 juta. Itupun kepada kuasa hukum sah pemilik sebelumnya. Namun semua itu akhirnya menjadi awal bencana. Pemilik tanah sebelumnya membatalkan jual-beli secara sepihak. Rumah yang saya bangun digusur,”cerita Ikhsan yang mengaku memang tak mengantongi sertifikat tanah sengketa.

Melongok ke dalam tenda yang diberi peghalang tandu agar tidak dimasuki binatang, suhu panas sangat kentara. Berbagai macam barang teronggkok sekenanya. Kursi panjang beserta sebuah meja semakin mempersempit ruangan yang dibelah menjadi dua bagian. Satu bagian untuk tempat tidur dan sebagian lagi untuk ruangan makan lengkap dengan dapur dan penyimpanan barang.

“Beginilah kondisi tenda. Saya harus menumpuk semua peralatan agar sedikit lapang dan meletakan tandu supaya binatang seperti anjing dan kambing tidak ikut masuk. Semuanya serba menumpuk. Tapi tak apalah, saya menderita untuk memperjuangkan hak saya,”celoteh Ikhsan sembari menyalakan tungku untuk merebus air.

Hingga kini Ikhsan masih menunggu keadilan. Nyalinya tak ciut walaupun sudah banyak teman seperjuangannya yang tiada. Apapun yang terjadi saya akan tetap di sini. Kalaupun saya tiada, anak saya akan tetap melanjutkan perjuangan ini,”raut muka Ikhsan berubah saat mengucapkan kata-kata itu. Ada getir mengenang sepenggal kisah hidupnya.

Adakah secerca harapan bagi kaum tertindas ini untuk kembali hidup, menikmati kembali apa yang jadi miliknya. Semua berpulang pda Yang Kuasa. Tak lupa juga, tentang hukum yang harus adil.(**)

Iklan