Hay guys..dalam blog ini saya hanya ingin mengexpresikan diri dan membicarakan apa yang saya rasakan dan saya dengar. Semua tulisan yang ada dalam blog ini adalah cermin diri saya yang terkadang keras, terkadang penuh kelembutan bahkan menyala-nyala. Semua tidak bisa ditebak karena semua hidup diantara keabu-abuan.

Well itu sedikit tentang “PincuranTujuah”. Soal kehidupan yang pernah saya jalani, memang sangat curam dan berliku yang terkadang menanjak dan menukik tajam. Ah memang nyata ucapan kalil gibran tentang hidup yang tak pernah lurus, sekali lagi…semuanya berliku. Mungkin tidak ada yang akan percaya dengan cara saya menapaki bumi ini. Tapi apa yang saya tulis dalam barisan kata ini adalah kenyataan. Terserah siapa saja, percaya atau tidak yang penting ini adalah sebuah kejujuran. Saya tidak perlu kepercayaan karena yang saya tulis bukan untuk dipercayai. Sekali lagi, saya tak peduli.

mmmhhh..Baiklah, saya lahir dari rahim seorang ibu petani di sudut belantara pinggiran Kabupaten di Sumatra Barat tepatnya di Nagari “C7 BD” (tak banyak yang tahu ya) 21 tahun silam. Di Negeri nan permai itulah saya mengenal segala macam rona kehidupan, mulai dari masa kanak-kanak yang indah disela lingkaran pematang sawah yang menghijau sampai nikmatnya tegukan tuak tradisional hingga harumnya asap mariyuana dan betapa enaknya aroma Lem Cap Banteng saya kenal di sana. Bahkan itu semua sudah menjadi bagian hidup saya semenjak kelas Satu SMP. Lengkap sudah…

C7 BD mengajarkan semua kehidupan dalam perkembangan diri saya yang mulai brutal. Saya seakan “dicuci” dari seorang anak yang selalu memberikan oleh-oleh sebentuk piala setiap penerimaan Rapor kepada ibunya hingga menjadi Hero Zero nan setiap malam pulang dengan mata merah, berjalan sempoyongan dengan nafas berbau Tuak bercampur pekatnya nikotin rokok tentunya tak lupa dengan buntelan saku yang berisi sekaleng “Banteng”. Saya tidak pernah berpikir darimana datangnya makanan di bawah tudung, padahal bapak yang tubuhnya sudah bak mayat hidup tak kuat lagi bekerja. Saya juga tidak peduli melihat adik-adik saya yang hanya menyuap nasi dengan lauk rebusan daun singkong. Pokoknya hati saya senang, persetan itu semua.. Saya memang bejat.

Pernah juga saat orang-orang mengabarkan ibu saya terluka karena tebasan sabitnya di rumpun padi meleset, saya hanya diam dan menyambar ongkos berobat ibu saya untuk membeli empat liter tuak. Saya masih ingat uang itu berjumlah 6000 perak, terdiri dari recehan yang keluar dari ayam tanah liat keponakan saya. Tapi ibu tidak tahu dan tetap menganggap saya child sweetnya.

Terkadang timbul penyesalan dalam diri dengan apa yang saya lakukan. Saya menangis untuk sesaat, kemudian tersenyum lagi di bawah pengaruh alkohol. Walaupun begitu, saya bukan tipe yang selalu menggantungkan hidup pada orang tua. Saya bukan benalu murni. Sejak SD saya sudah mulai bekerja, semua saya lakukan, dari pencari barang rongsokan, mencari siput untuk makanan itik yang setiap embernya di hargai 750 rupiah hingga jadi pengangkut tahi ayam untuk pupukpun saya lakoni. Bayangkan, saya mengangkut tahi ayam itu ketika hujan turun. Airnya yang bau pesing mengotori wajah dan turun ke mulut. Tapi ibu tidak tahu, dia tidak kuat melihat anaknya bekerja keras. Ibu memang sangat sayang pada anak-anaknya.

Namun yang namanya hidup hanyalah fatamorgana, semua bisa berubah secara cepat. Tamat dari SMA setelah lima tahun duduk disana, kelakuan saya mulai menjadi, saya tetap bekerja untuk mencukupi kebutuhan “Banteng”, Tuak dan rokok. saya semakin terpuruk. Jangan tanyakan wanita pada diri ini. Semuanya jijik pada pemabuk kecil dan tukang buat onar. Namun ada seorang yang berbekas didiri saya. ya..seorang perempuan yang tubuhnya selalu terselubung jilbab, dia yang hanya mau dekat pada saya, walau kedekatannya saya anggap hina. Bagi saya waktu itu, wanita berjilbab bak alien….

IBU PERGI…!!!, itulah puncak karier saya di “dunia hitam”(walau tak sehitam malam). 8 tahun Ibu dan ayah pergi ke Pulau Batam mengunjungi famili saya disana. Semuanya berubah cepat, saya serasa kehilangan pegangan. Di satu sisi, puing kebebasan juga terselip di hati karena tidak ada lagi orang yang menyuruh sholat atau menyuapin saya makan seperti anak kecil.

Saya terlunta, kerasnya hidup dijalanan saya lakoni untuk menyambung hidup, tukang ngamen dan tukang angkut barang saya lakoni untuk hidup. Saya tetap berjuang dan berkarya dengan style rambut mohawk dan celana ketat lengkap dengan gemerincing gelang berduri.

19 September 2006, semuanya luntur. Saya masih ingat pada malam satu hari jelang ramadhan itu bintang berhamburan di angkasa. Mereka seakan menemani saya yang sedang asyik-asiknya mengadu untung di meja judi. Waktu itu saya beruntung, menang banyak. Habis berjudi, dengan gitar ditangan, petikan saya mulai mengalun, menyanyikan lagu-lagu yang tidak percaya dengan Pemerintahan dan hukum. Hati saya senang dengan uang yang memenuhi saku celana hitam yang saya pakai. Namun itu tak bertahan lama, petikan gitar saya berhenti setelah satu mobil pengawas kota datang. Sialnya mereka mendengar nyanyian saya yang berlirik “Koruptor Anjing, Koruptor maling, perut buncit kayak kerbau bunting”. Petugas itu tersinggung dengan nyanyian nyeleneh yang keluar dari mulut saya.

Tanpa basa-basi satu pukulan telak nyasar di pelipis kanan saya. Buk, saya tersurut, sesaat saya diam tapi hati saya berontak, pukulan itu seolah hinaan dan saya anggap (waktu itu) trade mark penguasa dan aparat. Saya dipukul tanpa ba-bi-bu..Terang saja gejolak muda saya mendidih, satu sepakan kaki saya yang sudah terbiasa berlalu kencang tepat menghantam rusuk penampar itu, dia terduduk. Tak alang, kesempatan itu saya jadikan pelampiasan, dengan geramnya saya pukuli aparat yang berinisial “ZG” tanpa ampun.

Uhh..tanpa saya sadari..dua pasang tangan kekar berpakaian prema sudah memegangi saya dengan borgol yang siap sedia. Saya diseret ke dalam mobil tanpa celana..saya tertangkap..Sungguh kasihan sementara teman-teman yang selama ini saya anggap selalu bersama hanya memandangi saya dengan tatapan sangat menjijikan. Mereka tega membiarkan saya diseret dengan celana melorot.

Dalam mobil baru saya ketahui kalau lawan saya tadi adalah aparat, suatu kesalahan besar berkelahi dengan mereka..sangat fatal. Pukulan bertubi-tubi menghinggapi kepala bagian belakang saya..tanpa ampun..mereka seakan merdeka mempreteli saya diatas mobil itu. Saya jadi bulan-bulanan. Kata-kata kotor mereka ucapkan, sampai-sampai mereka bilang kalau ibu saya perempuan malam. Bathin saya teriris, namun mau apalagi, mereka yang berkuasa.

Penyiksaan belum berhenti..sampainya di Kantor mereka, saya diintrogasi sembari disuruh mengunyah puntung rokok marlboro. Rasanya sangat pahit. Tak ada yang menolong saya, yang saya ingat cuma ibu, entah bagaimana perasaannya ketika tahu saya ditangkap. Padahal dia masih terbaring lemah karena sakit yang dideritanya sepulang dari Batam.

Semua penyiksaan itu belum seberapa, malam itu saya dipaksa menginap dirumah berjeruji besi yang berbau menyengat. Saya tak boleh pakai baju. Malam itu saya akui harga diri saya terinjak. Bagaimana tidak, sepanjang malam saya disuruh menggonggong seperti anjing dan merangkak, kalau tidak mau saya diancam akan “dihilangkan”. Selain itu, saya disuruh berdiri terbalik, dengan kepala menempel di lantai penjara. Pukulan tak berhenti sampai-sampai darah segar mengucur dari mulut, hidung dan telinga. Para penjaga yang menyiksa saya hanya tertawa dan berkata “Malam ini kau adalah anjing penjaga “rumah” ini”. Hati saya hancur, tangan saya yang selalu ditakuti kini menciut dihadapan para aparat berseragam itu.

Sepanjang malam saya disiksa, para penghuni lainnya bahkan sudah memohon “mereka” untuk berhenti memukuli saya, namun itu semua tak dihiraukan…saya masih dipukul dan bertindak seperti hewan yang tak lupa menggonggong. Bogem-bogem mentah tak pernah berhenti..walaupun darah tak berhenti keluar dari mulut saya..namun saya tak menangis. Oh ya..saya ingat waktu itu, presiden SBY datang ke Batusangkar karena dinobatkan menjadi datuk.

Pagi harinya, entah angin apa, saya dibebaskan tanpa syarat. saya tidak tahu siapa yang menjamin saya, yang saya tahu “mereka” bilang “kamu hebat ya..bisa keluar,,,bapak mu pejabat ya..”. Ah mereka tidak tahu kalau bapak hanyalah seorang petani miskin. Dengan wajah yang membiru dan membengkak serta kening menggelupas saya tompangi angkot untuk pulang. Orang-orang memandang jijik pada saya yang hanya memakai celana sobek tanpa baju. Sampainya dirumah saya disambut raungan tangis ibu dan keluarga lainnya. Mereka tak kuasa melihat keberadaan saya yang sangat tak karuan. Untuk pertama kalinya saya menangis. (Saya tak ingat sebelumnya kapan terakhir kali saya menangis).

Keluar dari “penjara semalam” saya mulai berpikir tentang semua yang saya lalui. Tak ada untungnya dan berfoya tanpa tahu jerih payah orang tua. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk berubah dan meninggalkan semuanya. Saya pengen hidup tanpa Tuak, asap Mariyuana dan aroma Banteng. Saya berubah. Tapi sangat sulit, saya harus berjuang keras untuk itu. Memang, setelah keluar saya jadi ditakuti dan diberikan jatah minta uang pada setiap warung di c7 BD. Tapi itu tak membuat saya bangga. Apalagi melihat wajat teman-teman saya yang waktu saya diseret hanya bisa melihat tanpa melakukan apa-apa unttuk menolong. Saya ingin bekerja yang halal dan jauh dari hiruk pikuk dunia hitam.

Untunglah Tuhan membuka jalan, dengan bakat menulis yang saya miliki akhirnya saya diterima bekerja di sebuah Surat Kabar Harian di Sumatra Barat. Saya mulai merubah hidup dan melupakan semua masa lalu yang kelam walau terkadang keinginan untuk “kembali” selalu hadir mengusik. Sekarang saya bebas dari dunia kelam. Saya sudah bisa melihat kembali senyuman ibu dan tak lagi membiarkan keluarga saya makan dengan sayur kangkung.

TARANDAM, 8 OKTOBER 2008

(Maaf kalau tulisan ini asalan. Tapi ini adalah kisah nyata yang saya lalui. saya tak peduli pembaca percaya namun itulah lembar kehidupan kelam yang saya rasakan. Terimakasih untuk semua yang telah memberikan dorongan agar saya berubah. Namun yang menjadi tanda tanya besar bagi saya sampai saat ini adalah sosok yang telah menjamin saya untuk keluar dari “rumah kelam”..Siapa dia,,bagaimana saya akan membalas budi.)

Iklan