Menyandang gitar usang dipundak kanan Man Lelek (46) terus berjalan di bawah guyuran hujan Jalan M Yamin, Kota Padang. Hanya terbungkus jaket Levis biru yang telah luntur. Pria tua asal Jokjakarta ini hanya acuh, tak peduli dengan keadaan sekitarnya. 20 tahun sudah Man lelek berkelana. Hanya bermodalkan gitar berdawai enam, berpuluh Kota di Nusantarapun telah dijelajahinya. Menjadi pengamentpun dipilihnya sebagai penyambung hidup.

Didorong rasa penasaran, penulis menghampiri Man Lelek yang berhenti di sebuah Ampera nasi. Janggut dan kumis yang kian tebal menambah sangar perawakan ceking Lelek (panggilannya). Buntelan besar yang berisi baju dan celana di pundak kiri dan gitar dipundak kananpun dilepas. Dibiarkan tergeletak disamping meja Ampera.

Sebatang rokokpun menjadi salam perkenalan awak koran ini dengan pria “unik” tersebut. Sedikit basa-basi, perbincangan kamipun mengalir deras. Sederas curahan hujan yang mengguyur Kota Padang. “Saya berasal dari Jokja. Tiba di Padang satu minggu lalu. 20 tahun sudah saya berkelana ke berbagai pelosok Negeri ini. Selama itu pulalah saya tak pernah lagi menapaki Kota asal. Modal hanya gitar ini,”ulas Lelek menepuk gitar tuanya.

“Bapak meninggal waktu saya SD. Ibu juga menghembuskan nafas terakhir saat melahirkan tubuh ini. Sejak Bapak tiada saya hidup tak tentu arah. Hanya satu tekad, Bertahan hidup. Celengan hasil peninggalan ayah saya pecah, dibeliin gitar. Mengamen dari bus dan cafe adalah awal petualangan panjang yang belum tentu akhirnya ini,”tambah Lelek.

Ternyata di balik kesangarannya rupanya Lelek berhati lembut. Berbincangan kami terhenti saat seonggok nasi dan lauk-pauk hadir di depan Lelek. Dia makan dengan lahap. “Saya terakhir makan nasi pagi kemarin,”katanya sembari menyuap nasi.

Habis nasi sepiring perbincanganpun dilanjutkan. Ternyata, dengan bermodalkan petikan gitarnya, Man Lelek melanglang buana. Rentetan perjalanan hiduppun tertulis di buku riwayat sang pengament.Berbagai kejadian dan kisah pilu pun telah menghampiri Lelek. Bahkan menurutnya, waktu di Medan dia pernah dituduh memperkosa anak orang. “Itu yang paling pilu. Saya digebuki orang sekampung. Tiga hari dirawat dirumah sakit. Saya masuk penjara. Namun karena tak terbukti saya dilepaskan,”.

Padangpun jadi pelabuhan Lelek setelah Medan. Menumpang Truk sawit akhirnya Lelekpun sampai di Kota Bengkuang ini. “Saya sangat berhasrat ke sini setelah mendengar cerita orang tentang minang dan kehidupannya yang sangat ramah. Namun itu semua tak benar. Kota Padang tetap sama dengan Kota lainnya, sibuk dan tak ramah. Kemarin saya dipukul kenek Bus karena dilarang ngamen. Saat tidur di atas sana (sambil menunjuk Padang Teater) saya juga disiram dengan air Tuak,”cerita lelek.

Azan Dhuzur bergema dari pengeras Masjid Muhamadiyah. “Saya sholat dulu ya. Tadi pagi saya ketinggalan subuh karena letih. “Rasa penasaran penulis makin menjadi. Mungkin bagi para “Jalanan” lainnya, sholat adalah hal yang aneh. Tapi tidak untuk seorang Lelek.

Terus menguntit untuk mengetahui lebih dalam tentang Lelek, “memaksa” Awak Koran ini ikut sholat bersama Lelek. Habis Sholat Lelek lebih tenang. Saat penulis bertanya tujuannya selanjutnya, Lelek mengatakan Bukit Tinggi adalah tujuan selanjutnya. “Saya ingin ke Bukit Tinggi. Kalau anda mau mencari saya lagi. Ga usah, saya ini pengembara. Tak akan pernah anda temukan. Terimakasih atas rokok dan nasinya,”salam Lelek berlalu menuju Taman Imam Bonjol.

Hasil dari dialog bersama pengamen tua tersebut. Satu simpulan yang berhasil penulis raih. Ternyata, image jelek pengamen tak selamanya benar dan Lelek sudah buktikan itu semua.(***)

Iklan