Pagi Jumat 25 Juli 2008, sekitar pukul 07.00 WIB. Gerimis tercurah membasahi Kota Padang. Beberapa pengendara kendaraan di Simpang Telkom tampak menepi. Berlindung dari guyuran hujan yang tinggal menyisakan rintik gerimis. Sebentuk tubuh mungil berdiri terpaku di sudut bangunan SPBU, mendekap puluhan lembar koran terbungkus plastik warna merah. Tubuhnya yang hanya terbungkus secarik baju lusuh dan celana pendek menggigil. Giginya gemeletuk menahan dingin. Dia lebih memilih melindungi korannya dari rintik air. Lampu merah menyala, bocah kecil menghambur ke tengah jalan. Tawarkan korannya.

Tertarik denga kerja keras bocah kecil itu, membuat penulis harus menunggu sampai dia “menepi”. Sekedar bertanya tentang hidup dan sedikit tentang harapan sang penjual koran belia itu.

Ternyata, bocah itu bernamanya Rio, berumur 12 tahun dan tinggal di Raden Saleh. Sudah enam bulan Rio menekuni usaha menjajakan korannya. Bagi Rio lampu merah adalah anugerah. Karena, dengan merahnya “Si mata tiga”, Rio bisa menghambur ke tengah jalan untuk menawarkan dagangannya. Jangan tanyakan bangku sekolah pada Rio, sepanjang umurnya Rio hanya menduduki tiga tahun bangku SD.

“Dari pagi baru enam koran yang laku. Sudah empat bulan Rio menjajakan koran di sini. Banyak duka dari sukanya. Rio terpaksa menjual koran, Ibu Rio sudah tua, Ayah sudah tiada dua tahun lalu. Ibu hanya menjual makanan yang ditumpangkan ke warung-warung. Kalau tak begini, Rio tak bisa bantu ibu. Adik-adik Rio dua orang sekolah. Dari inilah Rio memberi mereka uang jajan. Kalau Rio indak sikolah lai da. Hanyo sampai kelas tigonyo,”ulas bocah kecil itu lugu.

Hasil menjuak koranpun tak seberapa. Rio hanya mendapatkan Rp.300 perak, kompensasi dari setiap koran yang dijualnya. Koran diambil Rio dari penjual koran di Rasuna Said. Paling banter, Rio mendapatkan Rp.8.000 per hari. “Kalau hari bagus, bisa dapat 15 ribu. Tapi kalau hujan seperti ini kadang hanya Rp. 5.000 saja bang,”celoteh bocah yang bibirnya sudah membiru.

Ditanyakan tentang keinginan sekolah, Rio hanya termenung. “Sangat ingin bang bisa sekolah seperti teman-teman lainnya. Tapi, tak ada biaya untuk itu. Jangankan sekolah, kadang untuk makan payah. Adik-adik saja sekolah sudah syukur. Rio tak ingin menambah beban ibu. Ibu sudah tua. Rio ingin adik-adik bisa sekolah tinggi, agar bisa merubah hidup keluarga dan menyenangkan ibu,”sahutnya lirih.

Beberapa lama bicara, ternyata lampu merah tak kunjung hidup. “Lampu mati lagi, kalau sudah begini dijamin koran tak akan ada terjual di jalan. Bagaimana mau menawarkannya. Mobil terus melaju. Sekarang Rio mau menjajakannya ke tempat keramaian dan ke SPBU,”ulas Rio menerobos gerimis yang kian mereda.

Kesedihan menyeruak di dada penulis. Rio yang seharusnya duduk tenang di bangku sekolah untuk menerima ilmu ternyata harus berjibaku menyambung hidup di tengah ramainya jalan raya. Cikal bakal penyambung pembangunan bangsa itu kini hanya muram dalam kerasnya hidup.(****)

Iklan