Gadis muda berumur 18 tahun. Berbaju hitam dan mempunyai nama Aulia Ayuandira. Tampak gelisah menenteng map biru yang berisikan bukti segudang prestasi yang telah ia raih selama menduduki bangku sekolah. Raut wajahnya terlihat sendu. Memancarkan aura yang sukar ditangkap arti dari semuanya. Dia hanya diam, menapaki langkah ditengah garangnya pijar mentari sepanjang Jalan Proklamasi, Padang.
Perlahan, suara yang sebenarnya pantas disebut desahan keluar dari mulut sang gadis kecil bertubuh mungil tersebut. “Saya lulus masuk fakultas Fakultas Ilmu gizi di-UI (Universitas Indonesia) setelah mengikuti UMB (Ujian Masuk Bersama),”ulas Ayu (nama panggilannya) memecah kesunyian.

Pandangan mata gadis ini mulai menerawang menembus dimensi lapisan cakrawala. “Saya berasal dari SMAN 1 Payakumbuh. Sekarang saya lulus dengan nilai sangat memungkinkan. Tapi itu semua mungkin tak akan berguna dan hanya mimpi. Saya tidak punya uang untuk masuk kuliah apalagi UI. Jangankan untuk kuliah, untuk membayar uang pangkalnya yang mencapai delapan juta rupiah orang tua saya sudah pasti tidak sanggup. Bagaimana mau kuliah, padahal saya sangat ingin kuliah. Agar nanti bisa bekerja dan merubah hidup keluarga saya,”ujar Ayu sembari menghapus tetesan bening yang mengalir dari sudut matanya.

Tutur demi tutur, seakan mengalir begitu deras dari mulut beliau. Menjabarkan semua kepenatan yang telah dia lalui sepanjang hidupnya. Nyaris tanpa ekpresi, semuanya mulai terungkap.
“Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Erlinda (44) dibelantara Kota Payakumbuah. Sedangkan Ayah, bernama Irzon Dt Sampono. Ayah hanyalah seorang pedagang kecil yang mencoba peruntungan nasib dengan berjualan Lontong di sudut Kota Biru. Hasil dari itu semua tak seberapa. Terkadang bisa mencukupi makan kami sehari-hari namun acap kali kami sering absen makan karena Ayah tidak jual beli,”ulas Ayu mengenang.

“Walau demikian, Ayah maupun Ibu tak pernah putus asa. Bagi beliau pendidikan adalah nomor satu. Walau bagaimanapun caranya. Setiap pagi Ibu pasti memberi uang jajan pada saya dan ke-2 adik saya yang akan masuk SMA dan satunya lagi kelas tiga SD. Saya tahu, uang yang Ibu berikan pada kami adalah hasil dari hutangan pada tetangga. Bahkan uang untuk modal usaha untuk esoknyapun sering dihibahkan sebagai uang jajan kami sekolah,”tambah Gadis dengan guratan kepahitan perlahan menyelimuti wajahnya.

Iklan