Dua bentuk Tubuh bocah kecil, kakak beradik Fikiran (8) dan Daus (6) dekil dan kumal, berusaha menyeret-nyeret langkah yang berat dikarenakan beban dari sebentuk karung goni yang penuh berbagai barang bekas ikut nimbrung dibahu mereka. Sedikit tertatih, dua bocah tersebut berusaha mencari tempat berteduh karena hujan mulai turun mengguyur Padang. Sejenak langkah mereka terhenti dibawah naungan pohon pelindung yang berjejer Rapi disepanjang JL Ki mangungkusumo.“Kami disuruah Amak jo Apak untuak mencari “barang buruak” sapulang Sikolah, kalau indak dapek mambaok Kepeang pulang, kami indak di agiah nasi dek Amak do, Amak berangnyo da. Acok kami di lakak, tapi ndak ba,a do Da, walaupun masih ketek tapi wak ibo mancaliak Amak nan bakureh mancari barang buruak surang. Awak masih Sakolah Da, kelas Tigo di SD Gurun Laweh, Samantaro Ama bakarajo mancari barang buruak pulo sarupo kami, Apa karajo di pabrik karet sabagai buruh kasar, Awak ado kakan surang, tapi kakak kini di Kampuang, Taluak Dalam, Nias, hidup jo nenek,”polos Fikiran berujar

Sedangkan “nan bungsu” Daus, sibuk mengaduk-ngaduk karung bawaannya, tak peduli tangan kecilnya telah berlumur dengan air selokan yang merembes ke dalam karung tersebut. “Tadi ado oto-oto nan dapek dek awak da, masih elok, tapi rodanyo lah ilang ciek, masih bisa untuak mainan,”celoteh Daus dengan lugunya.

Tak dinanya, ternyata bocah kecil penenteng karung rongsokan itu adalah seorang siswa. Anak sekolah yang karena pahitnya dunia harus ikut menjadi korban memenuhi segela tetek bengek kebutuhan. Pekerjaan yang seharusnya belum pantas dikerjakan bocah kecil bertubuh dekil tersebut. Sedikit gagap, kedua bocah yang telah kuyup ini pun bercerita, tentang Sekolah mereka yang sering absen dikarenakan tidak mempunyai lagi baju untuk bersekolah serta kerinduan mereka yang terbuang untuk kembali pulang Kampung bersama ke-2 orang tuanya ke Teluk Dalam, Nias.

Kalimat-kaliamt bernada harapan mengalir deras dari kedua mulut gbocah bernasip pahit ini.
“Kalau sudah besar, Fikiran ingin menjadi pilot bang, bisa melintasi awan terus pergi ke bulan dengan pesawat,”harap Fikiran.

Lain pula kata Daus,”kalau Daus bisuak taragak jadi tukang mambuek baju Sekolah, bia beko Kak Fikiran bisa Sekolah dengan baju yang bagus, tidak kumuh lagi,”terang Daus.

Perlahan air mata penulis menetes, seribu macam tanya dan amarah bergejolak di dada penulis. Ada rasa marah pada dunia, yang sudah hilang rasa kepeduliannya terhadap sesama. Seharusnya, di masa kecil, kedua bocah ini mendapatkan sentuhan kasih sayang, pendidikan yang layak serta kecerian lainnya. Tapi kenapa kita yang hidup berkecukupan masih menutup mata pada kondisi anak harapan bangsa. Apakah rasa “siapa loe – siapa gue” telah menjalari pula jiwa kaum ranah Minang kita ini.

Telah beratus tempat buangan sampah yang disinggahi ke-2 bocah ini, telah pula sekali mereka ‘diamankan’ pihak berwajib. berbagai pengalaman pahit telah berulang kali dikecap mereka. Tersering, uang yang mereka kumpulkan dari penjualan barang buruak tersebut, dirampas para preman. Beribu omelanpun telah acap kali singgah di telinga mereka. Tapi entah karena terpaksa ataupun sudah kebal akan semua cacian tersebut, ke dua anak ini seakan tidak peduli. Mereka masih terus berjalan, meretas harapan untuk masa depan dan penghidupan yang layak. Tapi dimana naluri rasa kebersamaan kita??.

Nyanyian Sang Dewa protes, Iwan Fals kembali terngiang ditelinga penulis. Nyanyian tentang “Si Budi kecil yang kuyup menggigil” ternyata tidak hanya ada di Kota Metropolis, Jakarta sana. Tapi di Kota Padang yang katanya penuh dengan masyarakat penjunjung tinggi kebersamaanpun dapat kita temui ‘Si Budi’ kecil tersebut.(***)

Iklan