PUNKERS banyak ditemui dimana saja. Gaya, penampilan, dan aksesoris-nya yang mencolok menjadi pemikat banyak orang untuk melirik gaya hidup mereka. PUNKERS terkesan antikemapanan dan antisosial. Itu terbukti dengan gaya rambut MOHAWK ala suku Indian. Rantai yang digantung di saku, sepatu tinggi junggle. Pakaian yang serba berwarna hitam, gelang dari besi yang menghiasi pergelangan tangannya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pakaian PUNKERS. Ditambah lagi celana JEANS super ketat hingga mata kaki yang dikenal dengan celana STREET dan paduan baju yang lusuh.

Sayangnya, pandangan negatif masih menyertai setiap kehadiran anak punk. Tanpa bermaksud menyudutkan, tampilan anak-anak punk yang cenderung ‘menyeramkan’ seringkali dikaitkan dengan perilaku anarkis, brutal, vandal, bikin onar, dan semau gue. Padahal boleh jadi, itu cuma perilaku segelintir remaja yang berpenampilan nge-punk dalam arti kata bukan Punk. Daripada berprasangka, mending kita coba kenal kaum punk lebih dekat. Sehingga penilaian dan sikap kita lebih objektif.

Punkers, memang selalu identik dengan segerombolan remaja kumal, rambut mohawk dicat warna-warni, bertato serta penuh dengan tindik dan perching menghiasi cuping telinga serta bibir mereka. Aliran dan gaya hidup yang dijalani para Punkers banyak dinilai kalangan masyarakat sangat aneh dan slengean, kehidupan yang keras dan selalu berpakaian lusuh serta awut-awutan.

Namun jika dirunut secara historis, gaya ala Punkers adalah sesuatu yang sangat mempengaruhi dunia fashion kalangan remaja. Celana super ketat plus rantai serta gelang ‘berduri’ menjadi trade marknya para punkers dan menjadi trend saat ini diseluruh pelosok dunia.

Menurut Riri Soembox, dedengkot Punk Payakumbuh, style punk melambangkan kebebasan, anti kemapanan serta tidak terkontamidasi oleh gaya apapun. “Punk adalah Punk, kalau kami punya tattoo, tindik serta berpakaian slengean dan rambut mohawk itu semua adalah tuntunan jiwa kami. Kami, para Punkers adalah penganut paham kebebasan, tidak terikat apapun. Gaya yang kami pakai adalah hasil dari “sabotase” dari group musik beraliran Punk, yang menyuarakan kehidupan sosial serta ketidak adilan,”ujar Pria ceking yang telah malang melintang dijalanan tersebut.

Di setiap tempat, sepak terjang kaum punk mampu menjelma menjadi sebuah gaya hidup yang konsisten melawan pemaksaan ide maupun budaya oleh para kapitalis maupun negara. Yup, mereka nggak setuju banget ama yang namanya otoritas. Sehingga mereka hidup berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. CD dan kaset tidak lagi menjadi satu-satunya barang dagangan. Mereka juga memproduksi dan mendistribusikan t-shirt, aksesori, buku dan majalah, poster, serta jasa tindik (piercing) dan tato. Seluruh produk dijual terbatas dan dengan harga yang amat terjangkau. Dalam kerangka filosofi punk, distro adalah implementasi perlawanan terhadap perilaku konsumtif anak muda pemuja Levi’s, Adidas, Nike, Calvin Klein, dan barang bermerek luar negeri lainnya.

Dalam skala negara, punk mengusung ide anarkisme. Anarkisme yang dimaksud bukanlah tindak kekerasan yang sering diidentikan oleh berbagai kalangan pada keberadaan kaum Punk. Anarkisme sebuah ideologi yang menghendaki terbentuknya masyarakat yang bebas. Di sini anarkisme menghendaki tatanan sosial yang tidak seorangpun bisa menindas atau mengekspolitasi orang lain. Sebuah tatanan agar setiap orang mempunyai kesempatan yang setara untuk mencapai perkembangan material dan moralnya secara maksimal. Sehingga mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa campur tangan negara. Nampaknya, idealisme kaum punk dalam konteks negara kudu siap ngadepin kenyataan sosial. Anarkisme adalah paham yang naif milik para pemimpi dan orang-orang putus asa. Mereka menyadari ideologi ini sulit dikembangkan karena masyarakat masih membutuhkan negara untuk mengatur mereka.(o)

Iklan