Matahari baru sepenggala tingginya disaat penulis ini mulai menapaki langkahnya untuk menelusuri setiap jengkal tanah Kampuang Batu Busuak, yang termasuk dalam Kelurahan Lambuang Bukik. Riuhnya Suara air sungai Batang Batu Busuak dan diselingi kicauan burung yang seakan bercengkrama dengan alam menambah kekaguman kita akan Agungnya Sang Khalik dalam menciptakan alam ini, yang jika dikelola lebih serius akan menjadi lebih mempesona lagi, karna memang sarat akan potensi yang mumpuni, namun kedamaian itu tak berlangsung lama terasa, sesaat semuanya rasa damai itu sirna,berganti dengan rasa haru yang bercampur dengan belas kasihan menjalar memenuhi setiap rongga di dada.
Perlahan namun pasti perasaan haru langsung menyelimuti perasaan Awak Koran ini, saat mencoba menelusuri setiap jengkal tanah Batu Busuak, hanya tertegun yang bisa kami lakukan saat edaran pandangan kami menangkap segerombolan bocah-bocah bercelana kumal tanpa baju asik bermain kelereng tanpa menghiraukan panas yang terasa semakin mengganas.

Perbendaharaan rasa kasihan kami sekali lagi jatuh melihat potret lingkungan yang dipenuhi hamparan rumah-rumah reot berjejer “rapi” dan saling berhimpitan atapnya, yang tak kalah menariknya rupanya rumah tersebut dilengkapi dengan fasilitas sticker hadiah dari Pemerintah yang bertuliskan “Rumah Tangga Miskin”, pernik sekaligus tanda kalau rumah-rumah itu dihuni oleh keluarga miskin, seyoginya rumah yang mendapat stickers tersebut pasti akan mendapat bantuan dari Pemerintah, tapi apakah bantuan itu sudah turun, kami masih sangsi akan hal itu karna didasari atas kondisi yang kami temui di lapangan, tak menunjukan gejala-gejala itu.

Rasa ingin tahu akan “rahasia” dibalik stikers tersebutlah yang mendorong kami bertanya pada penduduk tentang apa maksud dan tujuan dibalik itu semua.
“Sticker itu hanya label pak, coba bapak bayangkan dari seluruh jumlah penduduk di Batu Busuak, 75 persennya adalah warga miskin namun kondisi itu masih juga belum membuat Pemerintah memberi bantuan dari apa yang sering mereka (Pemerintah) gaung-gaungkan, padahal kami disini butuh perhatian agar hidup kami bisa lebih layak,” Ujar penduduk yang ternyata Lurah Lambuang Bukik, dan bernama Adriman.

“Selain bantuan pemberdayaan kehidupan itu kami juga butuh pemerintah membuka jalan ke daerah kami ini, agar kami tak lebih leluasa berhubungan dengan dunia luar,”pintanya setengah mengiba.

Ucapan Pak Lurah itu menandakan akan harap yang teramat besar menunggu sang penguasa membuka mata dan memberikan bantuan yang nantinya bisa mengangkat taraf hidup warga, serta perbaikan sarana jalan yang masih memakai aspal alami (tanah) yang bilamana hijan turun akan berubah menjadi lautan becek, setidaknya bantuan itu semua bisa membuat warga Batu Busuak kembali ke jalan hidup yang sewajarnya.

Sarat akan Potensi Alam rupanya tak membuat Batu Busuak yang termasuk dalam kelurahan Lambuang Bukit ini mendapat sentuhan pembangunan dari Pemko Padang, malah sebaliknya daerah yang terletak dipinggiran Kecamatan Pauh ini seakan di anak tirikan dalam soal pembangunan, itu terlihat dari sarana jalan raya yang terkesan apa adanya dan itupun terwujud karna hasil gotong royong masyarakat tanpa dukungan ataupun bantuan dana dari pihak Pemko.

Jangan sampai mereka merasa terabaikan dibalik megahnya Kota Padang yang terus menggeliat demi satu paket piala Adipura, secara tak langsung berdampak kepada efek pembangangunan yang hanya terletak di belantara kota, yang jadi pertanyaan bagi kita, bagaimana nasip Daerah pinggiran seperti Daerah Batu Busuak yang hingga kini masih terbelenggu akan ayat- ayat kemiskinan roda zaman.(***)

jengkal tanah Kampuang Batu Busuak, yang termasuk dalam Kelurahan Lambuang Bukik. Riuhnya Suara air sungai Batang Batu Busuak dan diselingi kicauan burung yang seakan bercengkrama dengan alam menambah kekaguman kita akan Agungnya Sang Khalik dalam menciptakan alam ini, yang jika dikelola lebih serius akan menjadi lebih mempesona lagi, karna memang sarat akan potensi yang mumpuni, namun kedamaian itu tak berlangsung lama terasa, sesaat semuanya rasa damai itu sirna,berganti dengan rasa haru yang bercampur dengan belas kasihan menjalar memenuhi setiap rongga di dada.

Perlahan namun pasti perasaan haru langsung menyelimuti perasaan Awak Koran ini, saat mencoba menelusuri setiap jengkal tanah Batu Busuak, hanya tertegun yang bisa kami lakukan saat edaran pandangan kami menangkap segerombolan bocah-bocah bercelana kumal tanpa baju asik bermain kelereng tanpa menghiraukan panas yang terasa semakin mengganas.

Perbendaharaan rasa kasihan kami sekali lagi jatuh melihat potret lingkungan yang dipenuhi hamparan rumah-rumah reot berjejer “rapi” dan saling berhimpitan atapnya, yang tak kalah menariknya rupanya rumah tersebut dilengkapi dengan fasilitas sticker hadiah dari Pemerintah yang bertuliskan “Rumah Tangga Miskin”, pernik sekaligus tanda kalau rumah-rumah itu dihuni oleh keluarga miskin, seyoginya rumah yang mendapat stickers tersebut pasti akan mendapat bantuan dari Pemerintah, tapi apakah bantuan itu sudah turun, kami masih sangsi akan hal itu karna didasari atas kondisi yang kami temui di lapangan, tak menunjukan gejala-gejala itu.

Rasa ingin tahu akan “rahasia” dibalik stikers tersebutlah yang mendorong kami bertanya pada penduduk tentang apa maksud dan tujuan dibalik itu semua.
“Sticker itu hanya label pak, coba bapak bayangkan dari seluruh jumlah penduduk di Batu Busuak, 75 persennya adalah warga miskin namun kondisi itu masih juga belum membuat Pemerintah memberi bantuan dari apa yang sering mereka (Pemerintah) gaung-gaungkan, padahal kami disini butuh perhatian agar hidup kami bisa lebih layak,” Ujar penduduk yang ternyata Lurah Lambuang Bukik, dan bernama Adriman.

“Selain bantuan pemberdayaan kehidupan itu kami juga butuh pemerintah membuka jalan ke daerah kami ini, agar kami tak lebih leluasa berhubungan dengan dunia luar,”pintanya setengah mengiba.

Ucapan Pak Lurah itu menandakan akan harap yang teramat besar menunggu sang penguasa membuka mata dan memberikan bantuan yang nantinya bisa mengangkat taraf hidup warga, serta perbaikan sarana jalan yang masih memakai aspal alami (tanah) yang bilamana hijan turun akan berubah menjadi lautan becek, setidaknya bantuan itu semua bisa membuat warga Batu Busuak kembali ke jalan hidup yang sewajarnya.
Sarat akan Potensi Alam rupanya tak membuat Batu Busuak yang termasuk dalam kelurahan Lambuang Bukit ini mendapat sentuhan pembangunan dari Pemko Padang, malah sebaliknya daerah yang terletak dipinggiran Kecamatan Pauh ini seakan di anak tirikan dalam soal pembangunan, itu terlihat dari sarana jalan raya yang terkesan apa adanya dan itupun terwujud karna hasil gotong royong masyarakat tanpa dukungan ataupun bantuan dana dari pihak Pemko.

Jangan sampai mereka merasa terabaikan dibalik megahnya Kota Padang yang terus menggeliat demi satu paket piala Adipura, secara tak langsung berdampak kepada efek pembangangunan yang hanya terletak di belantara kota, yang jadi pertanyaan bagi kita, bagaimana nasip Daerah pinggiran seperti Daerah Batu Busuak yang hingga kini masih terbelenggu akan ayat- ayat kemiskinan roda zaman.(***)

Iklan