SAAT ini, Bangsa kita minim “kupu-kupu nan cantik dan berprilaku baik yang melestarikan aset negara serta pembela kaum melarat” Bangsa ini lebih banyak dihuni oleh “ulat-ulat busuk nan rakus. yang merong-rong aset negara dengan dalih kepentingan bersama dan kesejahteraan rakyat.

Bagaimana tidak disebut sebagai rakus, jika girik BBM rakyat juga diembatnya, BBM ditimbun, seperti yang terjadi di Ranah Minang ini, PNS berubah fungsi jadi penimbun BBM. Sementara puluhan meter kaum marginal (kalangan bawah) antre untuk mendapatkan barang seliter BBM. Ulat itulah yang memicu konflik ditengah masyarakat. Berdalih penyelamat, rupanya hanya “pelego” kekayaan negara untuk kepentingan privaci-nya.

PNS tersebut masuk kategori “Ulat” terburuk yang mendapat ranking tertinggi dalah hal pencuri uang rakyat. Kategori “ulat-ulat legal berdasi dan berpakaian necis yang mampu melakukan legal corruption dengan seragam dan jabatan resmi yang dimilikinya, juga regulasi dan hukum yang melindunginya. Mereka melahap apa yang menjadi hak rakyat. Mengatasnamakan kepentingan rakyat. Mereka sampai hati menandatangani dan mengambil kebijakan yang makin mempersulit hidup rakyat. Padahal alasan sesungguhnya adalah adanya kompensasi dan komisi yang masuk ke kantong pribadi.

“Ulat-ulat legal” ini sangat berbahaya. Ia mampu membuat orang menjadi musthad’afin (dilemahkan), jutaan orang menjadi kelaparan, jutaan orang terbelakang pikirannya karena pendidikan yang terbengkalai, dan jutaan orang yang kehilangan masa depan karena tergiring bekerja apa saja (haram) untuk sekadar bertahan hidup, termasuk menjalani kegiatan prostitusi, mencuri, merampok, dan mengedarkan narkoba.

Tapi jangan salahkan meraka atas semua itu, karena mereka sudah diajarkan demikian oleh “pemimpin ulat” untuk berbuat demikian. Juga jangan salahkan bila nanti dari generasi sekarang ini lahirlah para koruptor-koruptor baru yang memamah urang rakyat karena mulai dini saja mereka sudah diajarkan rakus dan bersifat ambivalen.

Bagaimana bangsa ini akan bisa berubah kalau ulat-ulat tersebut masih pongah merajalela tanpa bisa dijerat oleh hukum yang berlaku. Terkadang (sekali lagi) kaum Marginal merasa hukum hanya diperuntukkan bagi mereka. Seyoginyalah para koruptor tersebut dihukum berat karena maling ayam saja bisa kena kurungan satu tahun, masa’ para koruptor yang memamah Milyaran uang negara hanya dikasih ‘surat teguran’ lalu kembali lepas untuk memamah uang rakyat.

Ngalor-ngidul tentang keberadaan ulat tersebut tidak akan membuahkan hasil, yang pasti hingga saat ini, para “ulat” rakus yang mengenakan topeng kebaikan tersebut ada disekitar kita namun tak kentara. Sebagaimana keluhan Taufiq Ismail lewat puisinya Jangan-jangan Saya Sendiri juga Malling (2004), maka “ulat-ulat” ini pandai bermuka dua. Tangan kirinya menandatangani disposisi MoU dan MuO (Mark up Operation), tangan kanannya membuat yayasan beasiswa, asrama yatim piatu, dan sekolahan. Kaki kiri melakukan studi banding, pemerasan, mengais-ngais upeti ke sana kemari, kaki kanannya bersedekah, pergi umroh dan naik haji.

Dalam hal ini, tampaknya kita juga harus menyimak tulisan budayawan Jakob Sumardjo, “Paradoks Manusia Indonesia” bahwa orang Indonesia sulit dipegang “ekor”-nya karena ekor kadang jadi kepala. Serba paradoks, kontradiksi dalam dirinya sendiri. Kalau ya, tidak mengatakan ya. Kalau tidak, enggan mengatakan tidak. Jadi, setuju atau tidak? Ya bagaimana nanti sajalah. Bukan hitam bukan putih, tetapi abu-abu. Dengan abu-abu, ia bisa berkelit ke hitam dan bisa berpindah ke putih, bisa jadi pencuri sedetik kemudian jadi murah hati.

Akh, Lama-lama memikirkan tentang prilaku ‘ulat-ulat busuk berkantong tebal hasil dari pengurasan uang rakyat tersebut kepala penulis serasa pening dan syaraf kemarahan semakin kuat mengerenyam. Kalau anda masih memikirkan apa yang penulis tulis, lebih baik segera buang dan enyahkan dari serabut syaraf anda karena anda akan merasakan hal yang sama dengan penulis. Kesakitan dan kepedihan tanpa bisa berbuat sesuatu untuk menyelamatkan bangsa ini dari jilatan ulat-ulat rakus tersebut.(***)

Iklan