‘Kalau dalam posisi saat ini yang menjadi Presiden adalah anda, wahai DR Ir H Akbar Tanjung. Jurus terjitu apa yang akan Bang Tanjung ambil dalam mengatasi kemelut ini. Kalaupun memang harus menaikkan BBM langkah apa yang akan dikemukakan untuk meredam segala gejolak seperti sekarang ini,”tanya seorang wartawan kepada Akbar Tanjung yang hadir Di Sumbar sebagai Keynote Speakers dalam seminar memperingati 100 tahun Kebangkitan Nasional, Rabu (28/5).

KONTAN lontar pertanyan tersebut membuat Akbar Tanjung agak terhenyak sesaat. Seterusnya, seulas senyum simpul penuh arti mengambang diwajahnya yang mulai digerogoti kekeriputan. Diawali ‘deheman’ lembut sebagai awal dari petualangannya berhalunisasi kalau andainya seorang Akbar Tanjung jadi Presiden dan menghadapi situasi seperti sekarang ini.

“Saya akan mencari opsi yang lain, melakukan penghematan yang signifikan dan menaikkan produksi minyak. Mencoba merunut apa yang akan saya ambil, apakah semuanya berguna untuk rakyat atau membuat rakyat sengsara. Saya akan pikirkan semuanya, karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang merakyat dan pastinya tidak menggilas rakyat dengan penderitaan akibat dari sindrom panic pemimpinnya,”ujar DRs Ir H Akbar Tanjung ‘berandai’ didepan puluhan pasang mata ‘Kuli tinta’. Politikus nan cerdik dan mahir meluruskan apapun pertanyaan yang ber-imej jelek kepada Pemerintah, ‘berkoar’ di Carano Roomnya Padang Ekpres, sesaat sebelum menghadiri Seminar.

“Kenaikkan BBM dan BLT-nya menjadi suatu polemik yang ter-hot dalam beberapa minggu kebelakang, tapi kalau seandainya Pemerintah yang berkompeten lebih menelaah maksud dan tujuan dalam pengambilan kebijakan Kenaikan BBM dan BLT-nya tersebut, mungkin apa yang disebut konflik internal seputar hal-hal BBM tidak akan terjadi,”tukas Mantan Ketua Umum KNPI itu diplomatis.

“Kalau saya seandainya dalam posisi sebagai pemimpin saat ini, dalam hal pemberian bantuan, tentu saya akan memperbaharui data bagi penerima BLT. Bukan hanya memakai data yang sudah ‘karatan’ dan tidak valid. Karena yang namanya kemiskinan tiap tahun pasti bertambah, itu sudah pasti. Jadi kalau yang dipakai masih data lama, terus orang miskin yang nongol belakangan mau dikemanain,”terang Pria diplomatis tersebut serius.

Sekali lagi, Akbar Tanjung berandai dan mengatakan sekali lagi, kalau dia jadi pemimpin, dan terpaksa menaikkan harga BBM. Dalam hal BBM yang dipakai untuk kendaraan, yang akan dinaikkannya hanyalah BBM bagi pengguna pribadi ‘hanya untuk yang mempunyai kendaraan pribadi’ jadi bagi sopir angkot maupun yang bersifat melayani khayalak lamai akan tetap nikmati tarif Rp4.500.

Namun, yang menjadi pertanyaan kalau memang Akbar Tanjung jadi presiden dan mengambil keputusan tersebut, apakah nantinya tidak akan menimbulkan imej Pemerintah yang ambivalen, Pemerintah yang men-dua dan tidak adil menurut pengguna dan pemilik kendaraan pribadi??.

“Saya akan mencoba meminimalisir kenaikkan harga barang, dampak dari naikknya harga BBM. Jangan sampai apa yang telah ditetapkan akan menjadi masalah dikemudian hari, menjadi kontaversi maka untuk itu peredam dari apa yang akan di-kontaversikan tersebut harus jauh-jauh hari diambil langkah untuk menanggulanginya,”timpal Politisi yang pernah terkait kasus Bulog ini sembari melihat raut-raut “belum percaya’ dari setiap wajah ‘penontonnya’.

Tapi, itu masih ‘andai’ Bang Akbar Tanjung, seloroh salah seorang wartawan diakhir perandaiaannya.

ANDAI memang Akbar Tanjung nantinya terpilih jadi Presiden RI, maju bersama partai …?? yang mengusungnya. Apakah semua yang diucapkannya hari ini, di-Ranah Minang akan masih teringat dan terekam dimemori otaknya.?? Tidakkah sudah wajar dan lumrah kalau di-Indonesia ini seorang politikus yang bernafsu untuk jadi pemimpin selalu mengumbar janji pada rakyat miskin terus antah kurenah keenakkan duduk di kursi megah, mereka lupa ataupun dilupakan akan apa yang pernah diucapkannya.

Kita tunggu saja kebenaran dari apa yang diandaikan Akbar Tanjung. Apakah itu semua benar ataukah hanya manipulatif. Tapi jangan terlalu berharap dulu, karena semuanya baru sebatas ‘ANDAI’.(****)

Iklan