Beralaskan tikar usang warna merah yang entah dimana didapatkannya, Lisnawati (57) mulai melakukan aktivitas sehari-harinya menadahkan tangan di trotoal Hasanudin. Tak ambil pusing dengan panas tengah hari yang teramat membakar, Lisnawati terus saja memandangi setiap pejalan kaki dengan pandangan mata penuh pengharapan. Berharap orang yang dipandang tersebut, sudilah kiranya melontarkan barang sekeping recehan pada ember hijau kepunyannya.Dan gemerincing recehan yang dilontarkan para pejalan kaki pada ember hijau menjadi kesenangan tersendiri baginya.
Sementara, bocah kecil berusia tujuh tahun berbadan gempal memakai baju putih bercampur ‘pink’ yang telah sobek pada bagian pundaknya tertidur pulas dibawah kipasan karton bekas Lisnawati. Tidak ada ucapan yang keluar dari mulut wanita setengah baya ini, hanya tatapan matanya saja yang seakan mengisyaratkan kerasnya hidup yang telah dia lewati.

“Dia anakku, anakku yang dari lahir tak kenal kasih sayang bapaknya. hanya aku yang membesarkannya dibawah tadahan tangan orang yang merasa belas kasih melihatku,”seuntai kata yang penuh kejujuran mengalir deras dari mulut peminta jalanan yang sedari tadi bungkam dari pertanyan yang penulis ajukan.

“kreengceng” Recehan koin lima ratusan yang dilontarkan seorang gadis masuk ke ember Lisna (sapaannya). “Semoga kelak kau berhasil nak,” doa Lisna memandangi bentuk tubuh pemberi recehan tersebut sampai menghilang disela rindangnya pohon Jalan Hasanudhin.

“Pekerjaan ini saya lakukan beberapa tahun lalu,Tepatnya semenjak tabuh renta ini tak mampu lagi melakukan pekerjaan yang berat sementara anak saya masih butuh biaya untuk tumbuh. Tidak ada pilihan lain selain seperti ini (meminta-minta) demi bertahan hidup dan anak saya bisa makan. Setiap malam saya tidur dimana saja, asal terlindung dari curahan hujan saya tidur disana,”celoteh Lisna.

Lisna berasal dari Kepulauan Mentawai dan tidak mempunyai famili di Kota ini. Kehidupan yang keras telah membawanya pada kehidupan jalanan yang keras. Tak jarang apa yang didapatkannya sering dirampok preman-preman.

“Saya hanya bisa menangis, bagaimana akan melawan? para preman itu terlalu perkasa sementara saya hanyalah perempuan renta yang tidak punya daya. Biarlah uang yang saya dapatkan mereka ambil, asalkan anak saya ridak diapa-apakannya,”kenang Lisna sambil tak hento memandangi para pejalan kaki yang memang tak acuh pada keberadaannya.

Setitik pengharapan Lisna, kelak dia ingin anaknya bisa sekolah dan menuntut ilmu yang berguna dan dapat merubah kehidupannya. Dan bisa melindunginya dari ancaman preman jalana yang kerap mengganggunnya.

“Tapi mungkin itu semua hanya sebatas harapan, mana mungkin saya bisa menyekolahkan anak saya, sedangkan untuk makan saja saya harus menanti belas kasihan orang,”ratap Lisna disela-sela lelehan air matanya yang tanpa disadarinya menetes deras.

Matahari semakin ganas menghujam Kota Padang, Namun Lisna masih geming duduk di atas tikar merah menanti uluran tangan orang lewat. Sedangkan anaknya masih lelap diharibaannya yang juga masih beralas tikar merah dan beralas bundelan tas yang berisi pakainnya mereka berdua.(****)

Iklan