Siapa tak kenal Chairil Anwar. Sang maestro sastra yang menjadi Dewa dalam syair. Karya-karya agungnya hingga kini, masih menggema dan melegenda dalam perjalanan dunia susastra Indonesia. Jangan ditanya popularitas yang ia peroleh dari karya-karyanya,
Layaknya seorang seniman, kepopulerannya tak membuat ia hidup dalam gelimangan harta. Malah sebalikmya, hingga ajal menjemput nya dia masih tegar berdiri dengan kesederhanaan, suatu tauladan yang patut menjadi panutan bagi kita.

Dari hasil diskusi POSMETRO dengan Yasri Dt Sopah, kasi Seni dan Budaya Dinas Pariwiwata Lima Puluah Koto, setidaknya terkuak beberapa hal. PNS itu mengungkap sisi-sisi Chairil anwar “SiBinatang Jalang”(diambil dari salah satu puisinya) dari faktu keluarga. “Selain dari karya-karyanya. Saya juga mengenal dia dari keluarga dekatnya,” ujar Yasri.

Bicara tentang Chairil Anwar, tak mungkin bisa terlepas dari riwayat hidupnya yang penuh liku. Bahkan, berpeluh darah dalam menciptakan karya-karya sakralnya. “Walau lahir di Medan, tapi dia anak dari Urang Awak. Datuak Paduko Tuan seorang penghulu nagari situjuah gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, adalah ayah kandungnya,” tutur Yasri.

Penuturan Yasri, beranjak dari rasa ingin tahu koran ini, akan silsilah hidup sang maestro. Petualangan itu dimulai dengan membuka lembar demi lembar buku Chairil Anwar, hingga sampai ke Dinas Pariwisata.

Dilahirkan di Medan, pada tahun 1921, dari Rahim seorang Perempuan yang berama Saleha, Saleha sendiri Adalah anak dari Datuak Paduko Tuan seorang penghulu nagari situjuah gadang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Dimana pada masa itu, beliau adalah penghulu yang mempunyai pengaruh besar dalam Adat Situjuah.

“Adapun Ayah dari Chairil Anwar adalah orang Taeh. Tepatnya disebuah nagari yang bernama Desa Parit Dalam Taeh. Dengan kata Lain Chairil Anwar sendiri adalah Urang asli Luak Limo Puluah,” tukas Yasri yang memberikan bukti-bukti karya Chairil Anwar.

Mari kembali lihat sepenggal saja Nenek sang pujangga yang ditulis disaat Beliau numpang nginap di salah satu dangau tembakau masyarakat Taeh.

Nenek,,,!!!
Bukan kematianmu yang menusuk kalbu
Hanya kepergianmu yang menerima segala apa

Dari maknanya, puisi itu adalah gambaran hati, ketika Penjajajah Belanda hengkang dari Ranah Minang. “Ini ditulis, pada bungkus rokok Cap Tombak dan langsung dibacakannya hingga membuat pemilik dangau itu sendiri tertegun. Padahal puisi itu hanya 2 bait,” ceita Yasri menirukan, orang yang pernah mendengar sendiri sajak itu.

Tapi Takdir berkata Lain pada tahun 1949, lanjut Yasri, Sang Legenda itupun meninggalkan kita serta hingar-bingar dunia untuk selamanya. Dalam usia yang masih teramat muda. Namun layaknya seniman yang mempunyai nama besar, Karya-karyanya, Hingga kini senantiasa Bergaung dan tak pernah mati, terus mengalir diantara denyut peradapan yang semakin maju.
Akankah kita sebagai generasi penerus mau begitu saja
melupakan orang yang telah membesarkandan mengharumkan
nama bangsa pada tingkat internasional begitu saja?
sudah selayaknya kita, bahkan para pemegang kekuasaan sekalipun memberikan suatu penghargaan pada nya.

Tak terkecuali Pemka Lima Puluh Koto yang seharusnya berbangga. Karena, salah seorang pujangga terbesar yang pernah di miliki Indonesia adalah putra setempat. Kedepan, perhatian kepada riwayat Khairil Anwar, akan semoga dapat lagi ditingkatkan, jangan sampai Pemerintah ikut-ikutan “Tidur” bersama Sang Maestro.

“Perhatian lebih, akan terus diberikan. Dalam bentuk, pelestarian peninggalannya,salah satunya pembangunan patung khairil Anwar” pungkas Yasri yang menceritakan Chairil Anwar hingga akhir hayatnya mendediskasikan dirinya untuk kemajuan dunia satra dan bangsa,

Sebagaimana yang pernah diutarakan oleh Bung Karno-jangan sekali-kali melupakan Sejarah-(Jasmerah), mungkin dari kalimat diatas kita bisa mengambil suatu kesimpulan, Bahwa bagaimanapun zaman kuat menggilas peradapan yang mungkin akan menciptakan sejarah baru namun kita hendaknya jangan sekali-kali melupakan sejarah masa lampau yang telah membawa kita ke zaman ini.

\\Aku hanyalah tulang belulang yang raib dimakan cacing//
\\jika kau ingin mengenangku, kenanglah//
\\tapi satu yang harus kau tahu//
\\Aku tak butuh kasihan darimu bahkan dunia sekalipun//
AKU TAK BUTUH,.(***)

Iklan