Cinta Adalah Apa-adanya!

1 Komentar

Suatu hari sepasang kekasih yg saling mencintai itu menikah. Mereka sangat bahagia. Tetapi selang sebulan setelah pernikahan, kebiasaan buruk dari masing-masing mulai terlihat…

Akhirnya mereka membuat kesepakatan atau komitmen, tepatnya di sebuah ruang keluarga, mereka duduk berhadap-hadapan dan mulailah percakapan itu…

Percakapan dimulai dari perkataan sang istri, sedangkan sang suami mendengarkan baik-baik… Lagi

Pahlawan-Pahlawan nan TERBUANG

1 Komentar

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi
tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati ?

Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan  arti4-5 ribu nyawa

Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan.

(Kerawang-Bekasi : Chairil Anwar)

Lagi

Setahun Luka Dari Tandikek

2 Komentar

Refleksi Gempa 30 September 2009

Nak, AJO Tak Punya Rumah..

“Di sini nak. Berpuluh tahun kami pernah berbagi cerita. Tentang kebahagian, kesedihan, serta ketidaksabaran menunggu musim panen. Tapi itu dulu, jelang sore nestapa 30 September tahun lalu. Jelang bumi ini berguncang dan teping-teping menyerah pada getaran. Kampung kami hilang. Di semak nan meninggi itu pula lah anak saya terkubur. Setahun sudah luka dan nestapa ini mengaduk-ngaduk hati. Kalau bukan karena harapan, mungkin Ajo telah pergi. Nak, Ajo tak punya rumah. Sudah malu rasanya berharap pada pemerintah” Lagi

Kerinduan Pada Seorang Wiji Tukul (Sang Pemberontak)

4 Komentar

Tiba-tiba ‘kerinduan’ pada Wiji Tukul ini muncul. Aku tidak tahu banyak tentang dia. Yang aku tahu, Tukul telah hilang ditelan oleh sebuah kekuasaan yang arogan dan yang paling aku tahu hanyalah petikan puisinya yang berbunyi “Lawan!”.

Hasil pencarian melalui google, ada beberapa puisi Wiji Tukul yang bisa dipost di sini. Lagi

Padang, Kota Industri, Kota Polusi!

1 Komentar

Pagi Minggu (4/6) yang dingin di bantaran Sungai Mungo, Kelurahan Banuaran nan XX, Kecamatan Lubuakbagaluang. Beberapa perempuan tua menjinjing sekantong sampah dan membuangnya ke dalam sungai. Mulut dan hidung sengaja ditutup dengan bagian atas daster yang dikenakan. Bau busuk dari dua pabrik karet yang mengapit Kelurahan benar-benar menyengat. Pagi mereka tak lagi asri, terkontamidasi limbah pabrik nan membumbung ke langit. Lagi

Antara Pengemis, Helikopter dan Fauzi Bahar

Tinggalkan komentar

Pengemis bertongkat buluh itu tiba-riba menangis. Badannya bergetar, seiring lemahnya pegangan di tongkat yang dijadikan penopang badan. Selama 12 tahun mengemis di Pasar Sungai Rumbai, Kecamatan Sungai Rumbai, kabupaten Dhamasraya, baru pagi Minggu (20/6) ini , diember birunya bergulung selembar uang Rp50 ribu. Dasfen (41) -pengemis-, duduk sejenak, matanya tak lepas dari langkah Drs Fauzi Bahar Msi. Pria simpatik yang merobah mimpinya jadi nyata. Lagi

Syekh Burhanuddin “Si Kanon nan Melegenda”

2 Komentar

“Si Kanon, bocah kecil pengembala kerbau upahan! Begitulah orang-orang Sintuak, Lubuakaluang, Kabupaten Padangpariaman memanggil anak pasangan Puteri Cukup Bilang Pandai dan Pampak Sati Karimun Merah itu. Dia dikabarkan berbadan ceking, dan selalu membawa buku kemana saja. Tapi, siapa sangka, si Kanon kecil, akhirnya melegenda. Namanya ditulis dalam buku-buku sejarah kuno, dielu-elukan sebagai pembawa ajaran islam ke Minangkabau. Si Kanon kecil itu bergelar Syekh Burhanuddin. Orang pintar, nan sepanjang hanyatnya tak beristri. Lagi

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.