29 Oktober 2009 – Cumanak, Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan. Belasan warga terlihat berdiri di pinggir jalan sambil menenteng kardus bekas. Mereka berharap belas kasihan dari orang-orang yang datang menyaksikan negeri mereka yang sudah rata dengan tanah. Pecahan uang Rp.1.000 berserakan di dalam kardus bekas yang mereka tenteng. Tak hanya bocah, warga berusia di atas 70 tahun pun ikut menenteng kardus bekas! Latar apakah yang memaksa tua renta harus turun ke jalan untuk menadahkan tangan?
Korban Gempa Mengemis : Torehan Luka di atas Luka..
Oktober 30, 2009
Semangat Dari Bocah-Bocah Korban Gempa di Tandikek
Oktober 29, 2009

Alvi Hikmah Surya tampak lahap memakan nasi yang hanya berlauk kentang di tenda pengungsian Kapalo Koto Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan Padang Pariaman. Peluh bercucuran dari kening bocah berusia delapan tahun itu. Alvi adalah satu dari puluhan anak Cumanak yang terpaksa jadi Yatim karena orang tuanya tewas. Ayah, adik dan ibunya bernama Eti (35) yang sedang hamil delapan bulan tewas ditimbun longsor. Saat ditemukan, seluruh keluarga Alvi sedang berpelukan. Dia mengalami trauma yang mendalam. Lagi
Pasca Gempa : Nagari Tandikek Jelang Rencana Pemakaman Massal.
Oktober 25, 2009
“Kami Yakin, Masih ada yang Hidup…” Empat hari setelah musibah gempa terjadi, Pemprov Sumbar, sepakat melakukan pemakaman massal di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman. Lantas, seperti apakah kondisi nagari yang disebut sebagai ”ikue darek kapalo rantau” Minangkabau tersebut? Lagi
