Lelaki tua berkopiah putih berjalan membungkuk di halaman sebuah rumah bernomor 50, Kampuang Melayu, Kelurahan Olo, Kecamatan Nanggalo. Bernama Mener (82), lelaki tua itu berperawakan kecil. Tubuhnya ringkih, nafas tersengal-sengal. Kerapuhan terlihat jelas dari caranya berjalan. Namun siapa sangka, di balik keringgikan-nya, Mener muda dulunya adalah mantan pengawal Syafruddin Prawiranegara (Presiden PRRI yang berbasis di Koto Tinggi, Kabupaten Limopuluah Kota). Banyak kisah heroik yang dilewati bekas tentara Barisan Keamanan Rakyat (BKR) itu, tapi tak ada yang tahu, Mener seolah ditinggalkan sejarah. Untuk hidup, dia hanya mengandalkan santunan veteran yang diterima sekali sebulan. Lanjutkan membaca ‘Menikam Jejak Pengawal Syafrudin Prawiranegara (Presiden PRRI) yang terabaikan di Hari Pahlawan!’
Menikam Jejak Pengawal Syafrudin Prawiranegara (Presiden PRRI) yang terabaikan di Hari Pahlawan!
Parade Kisah Srikandi Merah
SUATU ketika Njoto pernah berkata: ”Barangsiapa masih berkata juga bahwa seni itu non politik, sesungguhnya dia itu reaksioner… Kalau sport sudah politik, apalagi sastra dan seni!” Pemimpin Redaksi Harian Rakjat, petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI), pendiri Lembaga Kebudajaan Rakjat (LEKRA), sekaligus politikus yang juga berkhidmat sebagai seniman dan musisi itu sangat meyakini bahwa budaya, termasuk ranah sastra dan seni, adalah elemen pendukung yang vital untuk membangun kehidupan bernegara. Lanjutkan membaca ‘Parade Kisah Srikandi Merah’
29 Oktober 2009 – Cumanak, Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan. Belasan warga terlihat berdiri di pinggir jalan sambil menenteng kardus bekas. Mereka berharap belas kasihan dari orang-orang yang datang menyaksikan negeri mereka yang sudah rata dengan tanah. Pecahan uang Rp.1.000 berserakan di dalam kardus bekas yang mereka tenteng. Tak hanya bocah, warga berusia di atas 70 tahun pun ikut menenteng kardus bekas! Latar apakah yang memaksa tua renta harus turun ke jalan untuk menadahkan tangan?
Lanjutkan membaca ‘Korban Gempa Mengemis : Torehan Luka di atas Luka..’

Alvi Hikmah Surya tampak lahap memakan nasi yang hanya berlauk kentang di tenda pengungsian Kapalo Koto Kenagarian Tandikek, Kecamatan Patamuan Padang Pariaman. Peluh bercucuran dari kening bocah berusia delapan tahun itu. Alvi adalah satu dari puluhan anak Cumanak yang terpaksa jadi Yatim karena orang tuanya tewas. Ayah, adik dan ibunya bernama Eti (35) yang sedang hamil delapan bulan tewas ditimbun longsor. Saat ditemukan, seluruh keluarga Alvi sedang berpelukan. Dia mengalami trauma yang mendalam. Lanjutkan membaca ‘ANAK-ANAK TANDIKEK BANGKIT-lah DARI TRAUMA GEMPA..!!’
“Kami Yakin, Masih ada yang Hidup…” Empat hari setelah musibah gempa terjadi, Pemprov Sumbar, sepakat melakukan pemakaman massal di Nagari Tandikek, Kecamatan Patamuan, Kabupaten Padangpariaman. Lantas, seperti apakah kondisi nagari yang disebut sebagai ”ikue darek kapalo rantau” Minangkabau tersebut? Lanjutkan membaca ‘Pasca Gempa : Nagari Tandikek Jelang Rencana Pemakaman Massal.’
Indonesia kembali dijajah..!! Jengkal demi jengkal tanah dan budaya kita (bagi warga Indonesia) dijarah..Mulai dari Kebudayaan Tari Pendet, Reog hingga Rendang di-klaim Malaysia kepunyaannya..!! Mereka Tersenyum memakai semuanya..!! Tapi itu belum seberapa..!! Yang ini lebih wah.!! Tiga pulau di kepuluan Mentawai, Sumbar, juga bakal berpindah tangan ke negara asing..!! Pulau-pulau itu, bernama Macaroni, Siloinak dan Kandui dijual melalui dunia maya dengan harga berbeda. Mungkinkah kita sendiri akan menyewa agar bisa mendirikan rumah di republik ini..?? (Gambar Di atas adalah gabungan tiga pulau yang akan dijual) Lanjutkan membaca ‘Tiga PuLau Di-JuaL (MungKinkah Indonesia akan Tergadai?)’
Seorang teman tertawa terbahak-bahak saat mendengar istilah saya ini. Namun, tak lama kemudian wajahnya berubah serius. “kamu tidak main-main bukan?”. Saya sama sekali tidak ingin sekedar bermain-main dengan istilah. Tak lagi menganggapnya sebagai seorang pejabat, kepada teman itu saya benjabarkan isitlah (yang sedikit mengandung ide) ini sebisanya. Dan diapun perlahan faham, bahkan turut andil membangun tesis yang akhirnya bagi justru bagi kami terasa radikal. Mungkin lantaran itulah sang pejabat mengajak saya untuk menghentikan pembicaraan, dan melanjutnya di ruang lain dengan seragam lain. Lanjutkan membaca ‘PROVINSI OPOSISI..bUKAN pARTAI OPOSISI’
Mak…Terima kasih…
MAK..
Engkau adalah Puisi abadiku
yang tak mungkin kutemukan
dalam buku Apapun..!!!
Kau Hawa TerManis
Tegarmu BerjunTai Diantara Riak..!!
Lanjutkan membaca ‘Mak…Terima kasih…’
TuLisan ini SuDah tiga kali aku liris (kayak lagu aja). Hanyalah lembar Hidup yang aku posting agar Blogger tahu kalau hidup ini tak ramah. Butuh perjuangan, namun tak sekedar obsesi untuk mendapatkan siapa yang menang atau yang kalah. Kisah hidup ini aku alami sendiri..Mungkin bisa jadi pencerahan bagi semuanya.. Lanjutkan membaca ‘tentang hidup season 3 (walau ceritanya sama)’
Sofiati (19) terdiam, perlahan air matanya belinang. Anak Kelurahan Muaro Kalaban, Sawahlunto itu tertegun. Dia merunduk, seperti ingin menutupi wajah resah dengan rambutnya yang sebahu. Pandangannya tak lepas dari secarik kertas yang tergenggam ditangannya. Kertas itu merupakan Panggilan dari Universitas Andalas dan ditujukan kepada calon mahasiswa yang diterima melalui jalur penjaringan. Di atasnya tertulis beberapa digit angka. Baju putih yang dikenakannya terlihat lusuh. Lanjutkan membaca ‘SoFiaTi, Perempuan Yang Berharap…’


